Tarakan

Cahaya Bengawan Kembali Akan Redup

Masuk Lokalisasi Sungai Bengawan, tarif Rp3 ribu per orang dengan peredaran uang ratusan juta per malam. (FOTO: Koran Kaltara/ Sahida)
TARAKAN, Koran Kaltara – Lokalisasi Sungai Bengawan yang ada sejak tahun 2010 merupakan pindahan dari Lokalisasi Gunung Bakso. Saat lokalisasi ini baru saja dibuka, tidak saja listrik yang belum ada, bahkan untuk jalan saja masih berupa agregat dan saat hujan bisa dipastikan berlumpur. Listrik baru masuk ke daerah ini, 24 Desember tahun lalu bersamaan dengan…

TARAKAN, Koran Kaltara – Lokalisasi Sungai Bengawan yang ada sejak tahun 2010 merupakan pindahan dari Lokalisasi Gunung Bakso. Saat lokalisasi ini baru saja dibuka, tidak saja listrik yang belum ada, bahkan untuk jalan saja masih berupa agregat dan saat hujan bisa dipastikan berlumpur.

Listrik baru masuk ke daerah ini, 24 Desember tahun lalu bersamaan dengan pemasangan air bersih dari PDAM Tirta Alam. Namun, baru setahun merasakan listrik dan air bersih, Menteri Sosial mengeluarkan keputusan agar Indonesia bersih dari prostitusi. Diteruskan juga oleh Gubernur Kaltara melalui surat Nomor 1 Tahun 2018 tentang Penutupan Lokalisasi dan Lokasi Prostitusi di Kaltara.

“Lokalisasi Sungai Bengawan ini legal, waktu tempat ini disetujui, saya minta warga RT 02 dan RT 18 menandatangani surat persetujuan,” kata penanggung jawab Lokalisasi Sungai Bengawan, Erlan Susanto, ditemui Selasa (11/12/2018).

Pemindahan lokalisasi dari perkotaan hingga ke wilayah pinggiran ini, kata Erlan butuh perjuangan panjang. Sejak Wali Kota Tarakan pertama Jusuf SK menjabat, berhasil terealisasi di periode keduanya, tahun 2007 saat ada pengembang yang mau membangunkan rumah lokalisasi di RT 02 Jalan Sungai Bengawan.

“Kami ini baru nikmati tidur enak, baru setahun. Bayangkan pembangunan masih berjalan, kami sudah tempati, tanpa listrik kami gunakan genset. Semalam harus siapkan 4 liter untuk genset kecil, itu untuk karoke saja dari jam 6 sore sampai jam 1 malam,” bebernya.

Pekan lalu, warga juga sudah melakukan rapat dan 75 persen setuju untuk ditutup asalkan seluruh THM dan panti pijat yang ada prostitusi terselubung juga ditutup.

“Di dalam kota itu dilihat juga, karena pasti ada prostitusi. Kalau mereka izinnya tempat hiburan, saya juga mau urus izinnya. Sekarang merajalela prostitusi di jalan, karena pemkot tidak batasi izin THM,” tandasnya.

Ia juga meminta penutupan menggunakan metode seperti Lokalisasi Gunung Bakso sebelumnya. Ada ganti rugi rumah dan tanah. Menurutnya, cara ini efektif dan tidak ada lagi PSK yang mangkal.

“Kami lebih siap kalau mau tutup tahun ini, tapi ada ganti rugi. Sampai sekarang kami belum pernah diajak komunikasi, kami tunggu dipanggil dan akan kami adukan nanti semuanya,” tegasnya.

BACA JUGA:

PSK Sungai Bengawan Minta Modal Usaha

Sama halnya dengan Jasrul, salah satu pemilik cafe remang-remang yang ada di Sungai Bengawan ini juga menambahkan ia bersama pengelola lain sebenarnya setuju lokalisasi ditutup, asalkan ada ganti rugi lahan dan rumah yang mereka miliki saat ini.

“Kalau tidak mau diganti rugi, kami sepakat mau buka karaoke saja. Tapi, ladies tidak main di sini jadi izinnya tetap Tempat Hiburan Malam (THM) seperti di kota. Kasihan kami baru nikmati lampu dan air bersih, sertifikat tanah digadai terus sekarang mau diusir,” tandasnya. (*)

Reporter: Sahida

Editor: Rifat Munisa

Artikel ini juga terbit di versi cetak Koran Kaltara edisi 12 Desember 2018