Nunukan

Bukan Kleptomania, Benson Mengalami Kenalan Remaja Tidak Lazim

Fanny Sumajow saat bertemu Benson untuk melakukan assesment di Polsek Nunukan. (foto : Asrin)

NUNUKAN, Koran Kaltara – Setelah sempat viral di pemberitaan, Benson seorang bocah berumur 8 tahun, yang tersandung puluhan kasus pencurian akhirnya ditangani psikolog langsung dari Provinsi Kaltara, Rabu (25/11/2020) sore.

Berdasarkan assesment dari psikolog yang diutus Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kaltara, Fanny Sumajow menjelaskan, bahwa Benson bukan mengidap kleptomania, namun kenakalan remaja tak lazim atau disebut juvenile delinquency.

Dia menyatakan, bahwa pemberitaan yang menyebutkan Benso mengalami kleptomania adalah salah.

“Kleptomania secara psikologis itu gangguan kepribadian. Hambatan-hambatan psikologis yang membuat alam bawah sadarnya naik ke alam sadarnya. Sehingga dia membuat hal-hal yang tanpa disadarinya,” terangnya kepada Koran Kaltara, Kamis (26/11/2020).

BACA JUGA: Ditahan Karena Sering Mencuri, Polisi Dilema Tangani Benson

Untuk klepto sendiri, kata dia, tidak bisa dikatakan mencuri. Namun, hanya mengambil barang-barang tidak penting, seperti batu di pot bunga, jepit rambut, pita, pensil dan hal yang tidak penting lainnya. Nanti, setelah beberapa saat, dia akan kebingungan sendiri, mengapa benda tersebut ada di tangannya.

“Nah, kalau dia ini (Benson) murni kenalan remaja tidak lazim atau bahasa saya, juvenile delinquency. Sehingga mengarah ke kriminal yang berakibat anak ini berhadapan dengan hukum atau ABH,” tambahnya.

Kasus ini, kata dia, terjadi karena ada drive atau dorongan secara psikologis yang membuat anak ini seperti tersentak melakukan perbuatan yang sebenarnya tidak sadar bahwa itu kriminal.

“Karena, adanya traumatis di masa lalu. Dicekoki dengan zat adiktif, saat masih kecil. Kan anak-anak kalau dicekoki zat adiktif atau alkohol membuat sarafnya tidak bermain. Akhirnya, mulai mengalami kehancuran perlahan. Jadi, tidak berpikir dengan pikiran anak, tapi pikirannya terganggu dan dibentuk dari proses traumatis masa lalu,” pungkasnya.

Dia menjelaskan ada teori stimulus yang digunakan. Ketika dirinya memberi, maka orang menerima. Jika Benson selalu dibentuk dengan kekerasan, apa yang terjadi dan apa yang dia lakukan?

“Dia akan membalas kekerasan juga karena dia sudah ada contoh. Apalagi, kalau melihat kondisi keluarga yang mengalami penolakan. Tapi, ketika dia diberi kelembutan di dalamnya dia bagus saja. Dan, saya tidak mendapatkan gambaran seperti di pemberitaan, dia tidak seperti anak yang nakalnya luar biasa,” tambahnya.

Ke depannya, dia mengaku sudah merencanakan merujuk Benson ke BNN karena, Benson terkontaminasi zat adiktif.

“Saya mau lihat dulu karena tadi kita lihat, dia gelisah, cemas, dan ada gerak-gerakan kontrol yang kadang-kadang terjadi tapi dia tidak tenang. Bisa jadi seperti itu, karena zat adiktif sudah masuk dari kecil. Setelah itu, baru masuk proses rehabilitasi dan psikoterapi,” tutupnya.

Diketahui, Benson merupakan seorang bocah yang diamankan Polsek Nunukan, sejak pekan lalu karena telah melakukan sekitar 23 kali kasus pencurian. Namun pihak kepolisian dilema menangani kasusnya karena masih di bawah umur.

Benson pernah menjalani rehabilitasi di Jakarta. Namun belum habis masa rehabnya, Benson dipulangkan karena diduga membawa pengaruh buruk bagi anak yang di rehab di sana. (*)

Reporter: Asrin
Editor: Sobirin

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun/ hand sanitizer
  • Gunakan masker apabila keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah