Ekonomi Bisnis

Budidaya Bawang Merah Terkendala Cuaca

Ilustrasi panen bawang merah. (Istimewa)

TARAKAN, Koran Kaltara – Uji coba budidaya bawang merah di Tarakan hasilnya belum maksimal. Hal ini disampaikan Kepala Bidang Pertanian Dinas Tanaman Pangan dan Pertanian Kota Tarakan, Husna Ersant Dirgantara.

Untuk diketahui, selama ini bawang merah menjadi salah satu pemicu inflasi di Kota Tarakan. Sehingga pemerintah kota berupaya mengembangkan tanaman ini untuk mengendalikan inflasi daerah.

Ersant menyatakan, salah satu kendala budidaya bawang merah adalah cuaca. Meski kondisi tanah di Tarakan sebenarnya cocok untuk tamanan ini.

“Kalau kita lihat dari kondisi lahan masih cocok. Cuma yang perlu diperhatikan adalah cuaca, sehingga harus memperhitungkan waktu tanam. Jangan sampai pada saat curah hujan tinggi kita tanam, pasti hasilnya tidak akan bagus, karena perkembangannya kurang maksimal,” terang Ersant, Jumat (26/2/2021).

Pada uji coba pertama di bulan Nopember 2020, hasilnya kurang memuaskan karena curah hujan masih sangat tinggi. Tetapi pada periode kedua awal Februari, sudah menunjukkan pertumbuhan yang sangat bagus.

Menurutnya, tidak ada perlakuan khusus dalam budi daya bawang merah. Hanya saja, di Tarakan harus memperhitungkan cuaca.

“Masa panen 70 hari, secara keseluruhan bawang merah di Tarakan sangat menjanjikan. Kita 2018 juga pernah melakukan penanaman dan hasilnya bagus. Cuma terkendala bibit, karena kalau kirim dalam bentuk umbi ongkosnya sangat mahal. Kita kemarin dapat bantuan bibit dari Bank Indonesia, sebagian hasil panen akan digunakan untuk bibit,” ungkapnya.

Selain itu, Dinas Tanaman Pangan dan Pertanian Kota Tarakan juga telah menjalin kerja sama dengan Balai Pengembangan Budidaya Pertanian (BPBP) Samarinda untuk melakukan penyemaian bibit dengan menggunakan biji bawang merah.

“Kemarin sudah ada pelatihan, tetapi untuk semai dari biji memang butuh waktu yang agak lama. Dari biji sampai tumbuh umbi butuh waktu sekitar 2 bulan, setelah itu baru ditanam di lahan untuk pembesaran. Biji banyak dijual dengan harga lebih murah, kita akan kembangkan melalui biji ini, ada dua klaster yang akan kita lakukan, klaster pertama pembibitan dan klaster kedua adalah pembesaran,” urainya.

Terdapat kawasan budidaya milik Dinas Tanaman Pangan dan Pertanian di Kelurahan Karang Harapan. Lahan tersebut akan dijadikan sebagai pusat pembibitan bawang merah dari biji.

Menurutnya, minat petani Tarakan cukup tinggi. Upaya ini juga untuk mencukupi kebutuhan daerah. Karena selama ini masih didatangkan dari luar Tarakan. Sehingga harganya tidak stabil bahkan sampai menjadi pemicu inflasi.

“Minat petani Tarakan menanam bawang merah sangat besar. Cuma terkendala bibit karena kalau beli umbi dari luar ongkosnya mahal dan jika dihitung-hitung tidak masuk. Makanya kita coba pola pembibitan dengan menggunakan biji, selain itu hasil panen yang sudah ada sebagian digunakan kembali sebagai bibit,” pungkas Ersant. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustafa
Editor: Hariadi

Cegah penyebaran Covid-19 dengan 5 M;

  • Memakai masker
  • Mencuci tangan
  • Menjaga jarak
  • Mengurangi mobilitas dan interaksi
  • Menghindari kerumunan