Ruang Publik

Big Data dan Peranan Statistika

Nurin Ainistikmalia

Oleh: Nurin Ainistikmalia, S.S.T., M.E.

PADA 26 September menjadi tonggak sejarah penting bagi perstatistikan Indonesia. Melalui Undang-undang No 7 Tahun 1960 tentang Statistika ditetapkanlah tanggal tersebut menjadi Hari Statistik Nasional (HSN).

Perayaan HSN ialah sebuah momentum penyebarluasan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya statistik, meningkatkan penggunaan statistik dan mendorong para penggiat statistik untuk terus mengembangkan serta melakukan kegiatan statistik dengan kaidah, pedoman, dan sesuai aturan yang berlaku.

Perkembangan aktivitas dan penerapan statistika mengikuti perkembangan zaman yang ada.

Di era digital seperti saat ini, kebutuhan data meningkat pesat seiring dengan penggunanya.

Pada tahun 2021, layanan manajemen konten HootSuite dan agensi media sosial ‘We Are Social’ dalam laporannya menyampaikan bahwa pengguna internet di Indonesia telah mencapai 202,6 juta jiwa.

Dengan total jumlah penduduk Indonesia sebesar 274,9 juta jiwa, maka penetrasi internet di Indonesia mencapai 73,7 persen.

Menariknya, dari berbagai jenis perangkat yang digunakan oleh pengguna usia 16-64 tahun, sebanyak 98,3 persen ialah menggunakan smartphone dengan rata-rata menghabiskan waktu selama 8 jam 52 menit dalam sehari untuk berselancar di internet.

Setiap hari tanpa disadari, kita menciptakan banyak ragam data. Berbagai aplikasi daring kita gunakan untuk mempermudah pekerjaan. Aplikasi keuangan, aplikasi pemesanan berkendara, aplikasi pesan makan minum, aplikasi temu daring, dan sederet aplikasi lain yang semuanya membutuhkan internet dan tentunya akses data pribadi.

Kita berkomunikasi satu sama lain menggunakan internet, menggunggah video, membuat status, menghasilkan tulisan, mengabadikan momen dan banyak lagi.

Kegiatan tersebut kemudian tersimpan dalam wujud data, dan terus akan bertambah membentuk big data.

Big data atau dalam bahasa Indonesia dinamai sebagai mahadata, ialah sekumpulan himpunan data (data set) yang jumlahnya sangat besar (volume), beragam (variety), dan sangat cepat (velocity) terbentuk, hingga sistem komputer dan perangkat lunak konvensional tidak mampu mengolah data tersebut.

Big data dapat dikonversi menjadi informasi yang dapat membantu pengguna untuk mendapatkan banyak masukan dalam menetapkan kebijakan strategis di suatu instansi pemerintahan ataupun perusahaan.

Pengembangan big data membutuhkan pakar multi disiplin ilmu diantaranya ialah ahli bidang komputasi, pemrogaman, pakar pembelajaran mesin (machine learning), dan ahli statistik.

Statistika merupakan suatu ilmu yang mengumpulkan, menganalisis dan memahami data, serta menghitung ketidakpastian yang relevan.

Sementara itu, gabungan dari ilmu statistika, matematika, dan ilmu komputer dinamakan data science.

Perbedaan mendasar penerapan statistik pada big data dan data sistem konvensional ialah pada sistem konvensional data akan muncul melalui perencaaan yang matang mulai dari pengambilan sampel, pengumpulan data, analisis hingga penyajian/diseminasi.

Sementara pada big data, data telah tersedia, diciptakan, dan terus bertambah sepanjang waktu sehingga yang diperlukan ialah kemampuan untuk apa data ini digunakan.

Para ahli statistik pun perlu mengembangkan metodologi baru yang sesuai dengan big data.

Dengan perkembangan yang sangat cepat di era big data, data statistik dan informasi yang cepat serta real time semakin dibutuhkan, terutama sebagai dasar kebijakan publik atau dengan kata lain sebagai sumber baru bagi data statistik resmi.

Badan Pusat Statistik sebagai salah satu lembaga penyedia data statistik resmi telah menerapkan implementasi big data pada beberapa kegiatan diantaranya citra satelit untuk Kerangka Sampel Area, mobilitas pelaku komuter, tourism statistics, Delineasi Metropolitan Statistical Area, inisiatif kecerdasan artifisial, dan kegiatan statistik lainnya dalam rangka memadukan pemanfaatan big data dengan metode pengumpulan data tradisional (officials statistics) yakni sensus, survei, dan registrasi.

Hal ini sejalan dengan mandat dari Global Working Group (GWG) dari komisi statistik PBB yang memberikan visi, arahan, dan koordinasi strategis terkait program dunia dalam pemanfaatan big data untuk officials statistics.

Implementasi ini diharapkan mampu mewujudkan proses bisnis perstatistikan yang lebih cepat, lebih murah, lebih efisien, dan lebih terperinci.

Namun demikian, dalam pemanfaatan big data, terdapat tantangan yang harus dihadapi, diantaranya ialah akses data karena sebagian besar data milik swasta, risiko penyalahgunaan data privasi, kerahasiaan data dan keamanan siber, serta pemilihan metode dan platform untuk pemroses data yang cukup rumit.

Penyediaan data memang bukanlah sebuah proses sederhana, namun dapat diwujudkan.

Mengusung tema HSN “Statistik berkualitas untuk Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh” di tahun 2021 ini, perlu upaya perubahan paradigma dalam menyambut era baru big data serta peranan statistika di dalamnya.

Tidak hanya oleh insan cendekia statistisi saja, namun juga oleh masyarakat awam pada umumnya. Masyarakat memiliki peran sebagai pengguna data sekaligus sumber data.

Dengan kebutuhan data yang semakin meningkat pesat, kesadaran masyarakat akan pentingnya data statistik guna pengambilan keputusan resmi terkait kebijakan pembangunan menjadi sangat penting.

Semoga HSN tahun ini memberi secercah harapan akan perwujudan perstatistikan negara yang lebih baik!. (*)

Penulis adalah Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Tana Tidung

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment