Tana Tidung

Beras Lokal Lebih Murah tapi Kurang Diminati

Ilustrasi padi (pixabay.com)

TANA TIDUNG, Koran Kaltara – Harga beras lokal di Tana Tidung jauh lebih murah daripada produk beras dari luar daerah. Namun, peminat beras lokal masih sangat minim dan sebagian besar tetap mengandalkan beras yang didatangkan dari luar daerah.

Petani di Kecamatan Sesayap, Hardi mengatakan, bahwa hampir sebagian besar petani lebih dominan menanam padi dan mengonsumsinya sendiri.

Hal ini ditenggarai minimnya permintaan akan beras lokal, baik dari pedagang maupun masyarakat secara langsung.

“Saya sendiri paling banyak menanam sekurang-kurangnya 2-3 kaleng bibit padi saja yang hasilnya nanti buat stok makan bersama keluarga selama tiga bulan,” katanya, Kamis (22/7/2021) kepada Koran Kaltara.

Dia sudah berusaha menawarkan ke pedagang-pedagang, namun untuk pemasarannya kurang.

“Banyak pedagang yang tidak tertarik. Sementara beras dari Tarakan dan Surabaya katanya yang lebih diminati, makanya kita mau bilang apa,” terangnya.

Petani pun memilih menggarap padi dengan skala kecil karena tidak ingin hasilnya berlimpah sementara tidak ada yang mau membelinya.

“Kalau tetangga atau keluarga dekat sudah terbiasa makan beras lokal dan kata mereka jauh lebih murah makanya laku saja. Harapan kita setiap hasil panen laku keras jadi kita termotivasi untuk menanam lebih banyak,” ujarnya.

Diketahui, harga beras lokal Rp13 ribu per kg sedangkan harga beras luar daerah kisaran Rp15 ribu – Rp16 ribu per kg.

Terpisah, salah satu pedagang beras di Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Nunung menyebut, petani lokal kalah bersaing terkait pengemasan produk.

Pasalnya, beras luar daerah sudah dikemas rapi, tersegel dengan baik dan kualitas serta mutu beras tergantung harga yang ditawarkan.

Hal itu berbanding terbalik dengan beras lokal yang masih fresh diambil dari penggilingan padi dan menggunakan karung beras seadanya.

“Mungkin karena bungkus beras dari luar yang kami ambil dianggap pembeli lebih bagus, lebih rapi dan kelihatan lebih bersih.  Apalagi beras luar katanya lebih wangi, jadi biar mahal sedikit yang penting enak dimakan,” katanya.

Dia mengaku hanya menuruti kemauan pasar saja. Jadi, kalau pembelinya lebih banyak beras dari luar daerah, maka menyediakan beras dari luar daerah.

Nunung sendiri bukannya tidak mau mengambil beras lokal. Dia pernah mencoba menjual beras lokal.

Namun, kata dia, menjual beras lokal 30 kg saja membutuhkan waktu lebih dari sepekan.

Sementara menjual beras yang diambilnya dari Tarakan seperti beras Cap Lele, Nusantara, Lumbung dan merek lainnya bisa laku berkarung-karung hanya dalam waktu tiga hari saja.

Dia berharap, untuk para petani bisa lebih mengemas produknya lebih baik sehingga dapat menarik minat pembeli.

Sekretaris Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM, Linda Safitri mengungkapkan, bahwa kecintaan terhadap produk lokal harus lebih ditingkatkan lagi.

Saat ini sebagian besar pedagang di KTT menjual produk yang didatangkan dari luar daerah sehingga harga tinggi dan membebani masyarakat sebagai pembeli.

“Kita maunya juga produk lokal lebih diminati tapi pedagang di sini sudah terbiasa mendatangkan produk dari luar daerah. Padahal, mendatangkan dari luar daerah butuh biaya transportasi dan biaya angkut yang tidak sedikit. Produk lokal  kualitasnya juga bagus dan tidak kalah bersaing. Peluang pasar akan kami upayakan supaya petani lokal lebih baik lagi dalam memasarkannya kedepan,” tandas dia. (*)

BACA JUGA:

Kodim KTT Tanam 1 Hektare Jagung

Reporter: Hanifah
Editor: Nurul Lamunsari