Ruang Publik

Belajar Dari Rumah, Praktik Merdeka Belajar?

Dini Rosita
  • Dini Rosita Sari, S. Pd

TIDAK ada yang menyangka bahwa disrupsi dalam dunia pendidikan terjadi begitu mendadak, nyaris tanpa antisipasi. Bukan para pengambil kebijakan, bukan juga sekelas menteri yang mempercepat disrupsi ini, namun sebuah pandemi bernama Covid-19.

Bahkan, rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk meniadakan Ujian Nasional pada 2021 mendatang, terpaksa dieksekusi secara prematur. UN dihilangkan mulai tahun ini. Semuanya karena pandemi.

Wajah pendidikan di Indonesia berubah drastis. Pembelajaran jarak jauh, yang dulu diterapkan secara eksklusif oleh universitas terbuka, kini diadopsi hampir setiap jenjang pendidikan. Bahkan, tingkat PAUD pun turut menerapkan sistem baru tersebut.

Tak ingin membiarkan situasi berkembang tanpa panduan, Kemendikbud akhirnya meluncurkan skenario Belajar Dari Rumah (BDR) dengan menggandeng portal Rumah Belajar, TVRI dan RRI untuk membantu para pengajar dan juga orang tua menyiapkan akses pada pembelajaran.

Kebijakan ini tentu bukan tanpa kelemahan. Bagi masyarakat perekonomian menengah ke atas, menyediakan fasilitas yang dibutuhkan untuk BDR seperti ponsel pintar, paket data internet, dan sumber belajar lain mungkin tak jadi masalah. Namun, situasinya tentu berbeda bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, terlebih mereka yang kondisi finansialnya terdampak oleh wabah Covid-19.

Jika demikian, satu-satunya alternatif sumber belajar yang dapat difungsikan dengan maksimal adalah TVRI dan RRI. Apakah hal tersebut mencukupi?

Ada satu kisah tak biasa dan berkesan. Saat membaca berita tentang Avan Fathurrahman, mata kita terbuka. Guru SDN Batu Putih Laok, Sumenep itu mendatangi rumah muridnya satu persatu. Ia menganggap belajar di rumah tidak dapat diterapkan akibat minimnya fasilitas.

Kisahnya yang dimuat Kompas.com pada 18 April kemarin menjadi viral dengan dibagikan lebih dari 5.500 kali oleh warganet. Ini tentu adalah kabar baik di tengah beragam keluhan belajar dari rumah di media sosial.

Namun pertanyaannya, apakah solusi individual semacam ini efektif dalam mengatasi kasus serupa di daerah lain? Ada berapa banyak guru yang bersedia menjelma menjadi “Avan – Avan baru” berikutnya?

Dalam melihat permasalahan kolektif masyarakat semacam ini, kita membutuhkan sebuah solusi sistemik dan strukturalis dengan melibatkan setiap komponen pelaku pendidikan.

Kebaikan hati dari seorang guru saja tak cukup menjawab tantangan dunia pendidikan Indonesia yang rumit, dan semakin dibuat carut marut oleh kehadiran Covid-19. Terlebih, ada wacana untuk memperpanjang skenario BDR sampai akhir tahun seperti yang disampaikan oleh Pelaksana Tugas Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah Kemendikbud (CNN Indonesia – 24/04).

Salah satu solusi yang dapat diterapkan agar BDR sukses adalah dengan membekali para pelaku utama pendidikan, terutama guru, orang tua dan bahkan siswa itu sendiri dengan konsep yang jelas.

Seyogyanya, jika ditelisik lebih lanjut, BDR bisa dipandang sebagai salah satu perwujudan dari kebijakan “Merdeka Belajar”. Konsep ini telah santer digaungkan sejak Mendikbud mengeluarkannya pada Desember akhir tahun lalu.

“Merdeka Belajar” bisa dimaknai jauh lebih luas. Kata merdeka yang dipilih Mas Menteri tentu bukan sekedar hiasan. Merdeka, menurut KBBI, berarti bebas dan berdiri sendiri, serta tidak terikat ataupun bergantung pada pihak tertentu. Maka secara menyeluruh, tidak salah jika “Merdeka Belajar” diartikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi secara mandiri tanpa ketergantungan pada sosok guru.

Bukankah sangat sesuai dengan kondisi BDR saat ini ketika guru tidak lagi dapat hadir secara fisik di tengah-tengah muridnya?

BDR harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai ajang untuk menumbuhkan learning autonomy atau jika diartikan secara harfiah yaitu kemandirian belajar. Learning autonomy muncul ketika siswa telah memiliki kesadaran dan kendali penuh akan proses pembelajaran yang dilalui, serta mampu bertanggung jawab atasnya.

Dengan memiliki learning autonomy, siswa dapat menciptakan lingkungan belajar secara efisien, menjadi lebih fokus dan terarah, mampu memotivasi diri sendiri, dan pada akhirnya cenderung akan lebih sukses di masa depan.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Ryan & Deci (2000) dari Universitas Rochester yang menganggap bahwa motivasi intrinsik yang dimiliki seseorang dengan learning autonomy memiliki pengaruh pada perkembangan sosial dan kesejahteraannya.

Rajin mengikuti pembelajaran sesuai jadwal, jujur dalam melakukan setiap aktivitas pembelajaran, tidak malas melakukan usaha-usaha untuk menyelesaikan masalah, serta aktif menemukan sumber-sumber belajar, merupakan beberapa karakter yang harus dimiliki seorang siswa untuk menumbuhkan learning autonomy dalam dirinya di masa BDR.

Meskipun nampak sepele, namun tanpa adanya kontrol dari pihak sekolah seperti di hari normal, hal tersebut merupakan tantangan bagi para siswa.

Di sinilah peran guru dan orang tua menjadi sangat penting dan dibutuhkan. Para siswa harus dibantu mengerti bahwa belajar tidak akan berhenti ketika mereka menerima ijazah, karena hidup itu sendiri adalah proses pembelajaran yang panjang.

Maka yang bisa dilakukan oleh guru saat ini adalah mendesain aktivitas BDR yang sesuai dengan zaman, menarik minat siswa, serta berpedoman pada kecakapan hidup.

Sebenarnya hal ini sudah sejalan dengan konsep awal BDR itu sendiri dimana pola pembelajaran yang dilakukan haruslah mengacu pada pendidikan bermakna.

Salah satu contoh penerapannya dalam bidang bahasa adalah dengan memberikan tugas untuk mendeskripsikan diagram atau grafik penyebaran Covid-19 dengan menggunakan bahasa yang efektif dan efisien. Keterampilan ini berguna bagi siswa saat mereka akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, atau bahkan di dunia kerja.

Contoh lainnya di mata pelajaran penjasorkes, seorang guru dapat meminta siswa untuk mempraktikkan gaya hidup sehat, yaitu dengan melakukan olah tubuh sebanyak 3-4 kali seminggu dengan mengikuti panduan dari kanal YouTube. Tugas semacam ini tentu akan jauh lebih bermanfaat bagi kesehatan siswa ketimbang mengerjakan tugas demi capaian kurikulum semata.

Dari sisi orangtua, mereka harus memandang positif BDR dari sisi manfaatnya di masa depan. Melalui BDR, putra-putri mereka sedang diajari untuk beradaptasi dengan disrupsi yang cepat atau lambat akan dihadapi oleh dunia pendidikan Indonesia.

Oleh sebab itu, orang tua harus memberi dukungan kepada pihak sekolah dengan cara turut memonitor pembelajaran putra-putrinya dari rumah, membantu memberikan solusi akan masalah yang dihadapi sang anak, dan jika memungkinkan, menyediakan fasilitas belajar semampu dan sebaik-baiknya.

Kita harus ingat bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru, melainkan tanggung jawab bersama. Kemitraan yang baik antara guru dan orang tua, akan berdampak tidak hanya pada pencapaian akademis, namun juga sosial dan emosional seorang anak. BDR adalah waktu yang tepat untuk mewujudkannya. Pandemi meninggalkan hikmah ini bagi kita semua.

Bukankah segala sesuatu pasti ada hikmahnya? Mari para praktisi pendidikan dan orang tua kita bersatu, bergerak merangkul anak-anak kita tetap belajar meski situasi sedang sangat sulit. Pendidikan adalah hak anak yg paling dasar dan amanah itu kini ada di pundak kita bersama. Kita semua pasti bisa. (*)

*) Penulis adalah Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Nunukan

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah