Nunukan

Banjir Sembakung Mulai Surut

Bantuan beras dari Pemkab Nunukan tiba di Sembakung dan siap distribusikan. (foto: Istimewa)

NUNUKAN, Koran Kaltara – Hari ke- 4 status tanggap darurat banjir di delapan desa, Kecamatan Sembakung mulai surut. Ketinggian permukaan air sungai sudah di bawah normal sekitar 2,7 meter, pada Jumat (22/1/2021).

Kasubbid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan Hasan menyampaikan, masih ada delapan desa terdampak banjir, dengan jumlah 661 Kepala Keluarga (KK) atau 2.752 jiwa.

“Hari ke- 4 status tanggap darurat akan berakhir 25 Januari karena satu minggu saja. Tapi saat ini sudah kembali normal. Kalau hitungan normal di permukaan sungai itu 3 meter, tapi sekarang di bawah 2,7 meter,” ungkapnya kepada Koran Kaltara, Jumat (22/1/2021).

Namun, kata dia, pendistribusian bantuan masih terus dilakukan. Bahkan, Pemkab Nunukan mendistribusikan bantuan 9 ton beras dan delapan jenis bantuan lainnya, seperti gula, minyak, dan kebutuhan dasar lainnya.

“Karena baru tiba logistiknya tadi malam sampai dinihari, makanya baru hari ini (kemarin) kita distribusikan,” jelasnya.
Dia menyampaikan, bahwa bantuan dari Pemkab Nunukan ini merupakan tahap pertama. Tahap keduanya akan didrop pekan depan.

“Karena baru masuk logistiknya, jadi hari ini (kemarin) baru dua desa kita distribusikan ke masyarakat, yakni Desa Atap dan Desa Manuk Bungkul,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, bahwa setiap KK di dua desa tersebut menerima bantuan 10 kg beras dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya.

“Jumlah bantuan beras 10 kg ini kemungkinan akan ditambah per KK, sambil menunggu pengiriman bantuan tiba secara keseluruhannya. Bantuan ini ada juga dari perusahaan swasta dan perorangan. Kita menunggu bantuan dari Kementerian BUMN yang hari ini sudah masuk sebanyak 2 ton beras. Jadi, nanti kita melihat jumlah keseluruhan bantuan terkumpul. Dan kita akan drop ke delapan desa terdampak banjir,” jelasnya.

Dia menjelaskan Kecamatan Sembakung terbilang unik. Sebab, meski tidak hujan, namun tetap akan banjir jika di hulu sungai yang masuk wilayah Malaysia hujan deras.

“Banjir saat ini adalah banjir kiriman. Memang posisi Sembakung seperti penampung. Apalagi jika berkenaan dengan air laut pasang. Itulah kenapa kemarin itu tertinggi sampai 4,6 meter,” ungkapnya.

Sebenarnya, kata dia, ketinggian air normal di tiang ukur sungai milik BPBD hanya 3 meter. Apabila sampai 4,6 meter, maka kenaikan air itu mencapai 1,6 meter. “Kalau tertinggi di dalam rumah sudah sampai ke pinggang dewasa. 1 meter lebihlah,” tambahnya.

Terparah, kata dia, di daerah Tembuluk masuk Desa Atap. Sebab, desa ini juga bagian hulu, sehingga paling duluan terkena luapan air sungai, lantaran berada di bantaran sungai.

“Sampai saat ini belum ada masyarakat mengungsi. Sebenarnya mereka sudah terpola adaptasi dengan banjir ini. Kita tahu, wilayah Sembakung ini hampir setiap tahun sekali bahkan tiga kali banjir. Jadi, teknik mereka membuat semacam panggung kayu dalam rumah yang lebih tinggi,” ungkapnya. (*)

Reporter: Asrin
Editor: Sobirin

Mari cegah penyebaran Covid-19 dengan 5 M;

  • Memakai masker
  • Mencuci tangan
  • Menjaga jarak
  • Mengurangi mobilitas dan interaksi
  • Menghindari kerumunan