Headline

Banjir Sembakung Akan Ditetapkan Status Tanggap Darurat

Kondisi banjir di sejumlah wilayah Sembakung, Nunukan, Senin (18/1/2021). (Foto: Istimewa)
  • Ribuan Warga di Delapan Desa Terdampak Banjir

NUNUKAN, Koran Kaltara – Kondisi banjir akibat luapan air sungai, hingga kini masih merendam hampir seluruh wilayah di Kecamatan Sembakung. Bahkan, dari data per Senin (18/1/2021) pagi, setidaknya sudah ada delapan desa dengan 661 KK atau 2.700 lebih jiwa yang terdampak.

Kasubbid Kedaruratan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan, Hasan mengaku pihaknya sudah melakukan rapat bersama OPD terkait dalam membahas status banjir yang ada di Kecamatan Sembakung.

“Jadi itu mengarah ke status tanggap darurat. Hari ini (kemarin) kami menyampaikan rekomendasi ke bupati untuk penetapan status. Mungkin besok status banjir sudah tanggap darurat,” ujarnya kepada Koran Kaltara, Senin (18/1/2021).

Jika sudah ada penetapan status, kata dia, pihaknya dengan mudah bergerak hingga menyalurkan bantuan. “Jadi, kalau ada yang menyatakan pemerintah tidak ada di sana, saya harus klarifikasi dulu. Kecamatan di sana kan bagian dari perpanjangan tangan pemerintah,” terangnya.

Sejauh ini, kata dia, bantuan sudah banyak yang tersalur, baik pihak swasta maupun pemerintah provinsi hingga kabupaten. “Kalau sudah ada penetapan status, secara otomatis sudah ada posko dibangun. Sekarang ini hanya tempat koordinasi saja di kecamatan,” tambahnya.

Jika melihat kondisi banjir saat ini, kata Hasan, wilayah Sembakung sudah sangat layak masuk kategori tanggap darurat. Seperti banjir terbesar yang terjadi di tahun 2014 lalu, dengan ketinggian sampai 6 meter lebih, statusnya sudah tanggap darurat. “Kemudian, di tahun 2017 juga tanggap darurat. Dan tahun ini juga harus,” tandasnya.

Dia menjelaskan untuk Kecamatan Sembakung memang terbilang unik. Sebab, meski pun tak hujan, wilayah tetap akan banjir jika terjadi hujan deras di hulu sungai yang berada di teritorial Malaysia.

“Karena banjir yang terjadi saat ini adalah banjir kiriman. Memang posisi Sembakung ini lokasi seperti penampung. Apalagi jika berkenaan dengan air laut pasang. Itu lah mengapa kemarin itu tertinggi sampai 4 – 6 meter,” ungkapnya.

Dia mengaku wilayah yang terparah itu berada di Tembuluk, masuk di Desa Atap. Sebab, desa ini juga bagian hulu, sehingga paling pertama disinggahi luapan air. “Tapi, hingga saat ini belum ada masyarakat yang mengungsi. Mereka sebenarnya sudah terpola adaptasi dengan banjir ini. Kita tahu wilayah Sembakung ini hampir setiap tahun sekali, bahkan tiga kali banjir. Jadi, teknik mereka membuat semacam panggung kayu dalam rumah yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Hanya saja, kata dia, hal itu tetap saja mengganggu aktivitas masyarakat. Contoh, jika ingin mandi, buang air kecil, hingga mendapatkan sumber air bersih. “Tapi dampaknya (banjir), kesehatan terganggu. Mulai muncul diare, gatal-gatal,” jelasnya.(*)

Reporter: Asrin
Editor: Nurul Lamunsari

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah