Tarakan

Antrean Panjang BBM Diduga Akibat Ulah Pengetap

Antrean panjang di SPBU Mulawarman, Tarakan hampir terlihat di pagi hari, namun Pertamina memastikan stok BBM aman hingga akhir tahun.  (foto: Sahida)
TARAKAN, Koran Kaltara - Keberadaan sejumlah titik pengisian bahan bakar minyak (BBM) di Kota Tarakan tak lantas bisa terhindar dari antrean yang terus memanjang. Bahkan di SPBU Mulawarman antrean panjang terjadi setiap pagi. Tercatat Tarakan pada saat ini memiliki 2 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), 6 Agen Penyalur Minyak dan Gas (APMS) di darat dan…

TARAKAN, Koran Kaltara – Keberadaan sejumlah titik pengisian bahan bakar minyak (BBM) di Kota Tarakan tak lantas bisa terhindar dari antrean yang terus memanjang. Bahkan di SPBU Mulawarman antrean panjang terjadi setiap pagi.

Tercatat Tarakan pada saat ini memiliki 2 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), 6 Agen Penyalur Minyak dan Gas (APMS) di darat dan 1 APMS untuk nelayan di laut.

Takj hanya SPBU Mulawarman saja. Salah satunya di APMS Juata Kerikil juga sering terjadi antrean panjang. Sales Executive Retail III Pertamina Kaltara, Andi Reza Ramadan dikonfirmasi belum lama ini menuturkan, Tarakan tidak mengalami kelangkaan BBM.

Bahkan, ia mengklaim untuk stok BBM jenis premium dan solar dari kuota yang ada, masih mencukupi kebutuhan masyarakat Tarakan dan Kaltara hingga akhir tahun nanti. Sehingga dalam penyalurannya lancar dan tidak ada kendala di lapangan.

Di Tarakan sendiri, untuk stok BBM jenis premium kuotanya 1.824 kiloliter (KL), solar 5.826 KL dan Pertamax 591 KL, sedangkan penyaluran BBM jenis premium oleh Pertamina bisa 300 KL dalam sehari ke setiap SPBU dan APMS yang ada.

“Kalau soal adanya antrean masyarakat yang membeli BBM di APMS perlu dilakukan pengecekan lagi, apakah memang masyarakat atau pengetap yang mengantre,” katanya.

Diakuinya, meski belum lama berdinas di Tarakan, namun pantauannya sementara ini memang menemukan adanya sejumlah pengetap yang membeli dalam jumlah besar. Sementara, stok yang disalurkan ke APMS ini seharusnya disalurkan ke masyarakat umum yang layak menerimanya.

Ia juga menerangkan, untuk masyarakat yang membeli BBM premium dan solar di luar penggunaan khusus kendaraan, sesuai aturan yang ada harus memiliki surat rekomendasi dari Dinas Perdagangan dan UMKM Tarakan dan Dinas Kelautan Perikanan untuk nelayan.

Menurutnya, untuk mengetahui apakah pembeli dalam jumlah besar ini pengetap atau memang legal, harus dilihat dari rekomendasi yang dibawa.

“Tapi, di lapangan ini saya lihat masih banyak pengetap. Nah, kalau pengetap kita tidak tahu tujuannya kemana. Kecuali memang mengantre untuk membeli BBM non subsidi, kan bebas,” pungkasnya.

Ia pun menduga masih ada pihak APMS yang berani bermain dan nekat melayani pengetap meski tidak memiliki surat rekomendasi dari instansi terkait. Rencananya, dalam waktu dekat ia akan melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, dari instansi yang memiliki kebijakan mengawasi dan memberikan rekomendasi.

“Termasuk pihak APMS dan SPBU. Nanti, kalau ternyata setelah ada kesepakatan dan masih ditemui adanya pengetap, kita akan berikan penindakan tegas. Salah satunya dengan menghentikan sementara penyaluran BBM, karena ini memang menjadi pekerjaan rumah kami,” tegasnya. (*)

Reporter: Sahida

Editor: Rifat Munisa

Artikel ini juga terbit di versi cetak Koran Kaltara edisi 4 Desember 2018