Ekonomi Bisnis

Antisipasi ‘Banjir’ Ayam di Pasar, Kuota DOC Dikurangi

Tampak penjual daging ayam potong di pasar. (Foto: Sahida)

TARAKAN, Koran Kaltara – Pendapatan pelaku usaha ayam potong terus mengalami penurunan sejak pandemi Covid-19, awal Maret 2020 lalu. Bahkan, beberapa bulan lalu harga ayam potong sempat mengalami penurunan hingga Rp25 ribu per kilogram.

Masih dalam masa pandemi Covid-19 ini, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan juga masih melakukan pengurangan ayam umur sehari atau day old chicken (DOC). Hal ini untuk menghindari ayam potong beredar terlalu banyak di pasaran, sedangkan permintaan pasar belum meningkat.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Elang Buana menuturkan ayam potong masih kelebihan di pasaran. Rencananya pemotongan jumlah DOC akan dilakukan awal Bulan Maret. “Bulan depan nanti dikurangi kuotanya. Serapannya masih sedikit,” katanya, Kamis (25/2/2021).

Diakuinya, jumlah pendatang ke Tarakan turut mempengaruhi jumlah serapan ayam potong yang masih sedikit. Selain syarat keberangkatan yang diperketat dengan wajib antigen, membuat pendatang dari kabupaten lain di Kaltara maupun provinsi lain juga berkurang.

“Ada pembatasan juga kan, untuk yang keluar kota. Covid juga masih banyak (jumlahnya) ini, meningkat terus. Jadi orang yang datang ke Tarakan juga berkurang,” tuturnya.

Rencananya, ia akan menurunkan kuota hingga 265 ribu. Sebelum ini, kuota DOC di Tarakan sebanyak 265 ribu sebulan. Sedangkan sebelum pandemi Covid-19, jumlah DOC mencapai 325 ribu per bulannya.

Dari DOC 325 ribu ini, pertama dikurangi menjadi 300 ribu. Ketiga dikurangi menjadi 280 ribu, hingga menjadi 265 ribu per bulan.

Biasanya, sehari mencapai 10 ribu lebih, sekarang berkurang banyak dan menjadi 7 ribuan saja per hari jumlah ayam potong yang beredar di pasaran.

“Sekitar 7 ribu sampai 8 ribu lah per harinya. Kan kalau 265 ribu per bulan, dikurangi kematian kan ya 7 ribuan lebih per hari. Kalau 8 ribuan per hari ya paslah, 265 ribu per bulan,“ ungkapnya.

Diharapkan dengan pengurangan DOC ini bisa mengurangi kelebihan ayam di pasaran, akibatnya harga ayam potong pun menurun.

Dari DOC hingga ayam potong siap panen dibutuhkan waktu maksimal 45 hari. Karena permintaan pasar menurun, akhirnya panen ditunda. Sedangkan jika ayam dipotong lebih dari 45 hari, sudah tidak sehat.

Di Tarakan, ada sebanyak tujuh pelaku usaha ayam inti. Sementara pelaksana di lapangan atau peternak plasma ayam sebanyak 300-an orang.

“Kita ada juga hatchery ayam. Masih lancar saja, tapi karena kurang pemesan, DOC dibakar. Tidak boleh dijual karena akan berlebihan, makanya dibakar. Sudah dikurangi juga telur ayamnya, tapi belum seimbang dengan permintaan pasar juga,“ tuturnya.

Salah satu pedagang ayam di Pasar Gusher, Alpian saat dikonfirmasi terkait pengurangan DOC meminta Dinas terkait mempertimbangkan bulan April memasuki bulan Ramadan.

“Biasanya banyak acara dekat Ramadan itu. Pas di Ramadan juga pembelian ayam meningkat. Jangan sampai nanti ayam kurang, harga jadi mahal,“ kata dia. (*)

Reporter: Sahida
Editor: Didik

Cegah penyebaran Covid-19 dengan 5 M;

  • Memakai masker
  • Mencuci tangan
  • Menjaga jarak
  • Mengurangi mobilitas dan interaksi
  • Menghindari kerumunan