Headline

Analisis Gempa hingga Tsunami di Kaltara

Kepala Stasiun Metereologi Kelas III Tanjung Harapan, Bulungan Muhammad Sulam Khilmi, saat menunjukkan layar monitor pantauan BMKG di kantornya. (Foto: Rizqy/Koran Kaltara)
  • Tsunami jika Magnitudo 7 SR ke Atas di Kedalaman Kurang dari 10 Kilometer

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Rentetan bencana alam di Indonesia terjadi sejak memasuki tahun 2021. Kondisi iklim dan cuaca, menjadi salah satu penyebab terjadi bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah. Tak hanya itu, gempa bumi yang mengguncang Sulawesi Barat, termasuk dalam peristiwa yang menelan korban jiwa di awal tahun.

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi tergolong sering terjadi di Indonesia. Bahkan sepanjang tahun 2020 telah terjadi gempa bumi sebanyak 8.264 kali. Namun dibandingkan tahun 2019, jumlahnya lebih sedikit  yakni 11.515 kali.

Meski demikian, BMKG mengingatkan masyarakat Indonesia tetap harus waspada terhadap potensi bahaya gempa maupun tsunami yang dapat menyertainya di tahun ini. Hal itu disampaikan oleh Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, bahwa memang pada 2021 Indonesia masih tetap aktif gempa. Imbauan ini berdasarkan data yang dihimpunnya dengan rata-rata kegempaan dalam setahun terjadi sebanyak 6.000 kali.

Hal ini dinilai wajar karena sumber gempa di Tanah Air sangat banyak, yaitu 13 segmen megathrust dan lebih dari 295 segmen sesar aktif. “Kita perlu mewaspadai zona seismic gap, seperti zona subduksi Mentawai, selatan Banten-Selat Sunda, selatan Bali, Lempeng Laut Maluku, Lempeng Laut Filipina dan Tunjaman Utara Papua,” ujar Daryono dikutip dari laman CNBC Indonesia.

Bagaimana dengan di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara)? Kepala Stasiun Metereologi Kelas III Tanjung Harapan, Bulungan, Muhammad Sulam Khilmi mengatakan, kemungkinan gempa hingga tsunami cukup kecil. Namun bukan berarti aman dari gempa. Pasalnya, wilayah Kaltara masuk kategori ring tiga, yang artinya ada kemungkinan kecil terjadinya gempa.

“Berdasarkan catatan sejarah, pernah terjadi bencana gempa di Kaltara. Artinya, walaupun kecil kemungkinan gempa, tapi potensi gempa selalu ada,” kata Khilmi, Rabu (20/1/2021).

Dijelaskan pula, tidak semua gempa diikuti dengan bencana tsunami. Walaupun pusat gempa berada di dasar laut, tsunami hanya bisa terjadi dalam skala gempa tertentu dan jarak tertentu.

“Potensi terjadinya tsunami itu pada episentrum dangkal, misalnya di (perairan) Tarakan, atau di sepanjang Tanjung Palas Timur (Bulungan). Yakni dengan magnitudo 7 SR ke atas. Kemudian paling tidak kurang dari 10 Kilometer (km) dari permukaan tanah. Itu bisa menimbulkan tsunami,” terang Khilmi.

Selain itu, sambungnya, banyak indikator secara teknis yang dianalisis oleh BMKG terhadap gempa yang berpotensi terjadi tsunami. Namun gambaran umum tersebut sesuai dengan batas tertentu skala gempa dan jarak atau kedalaman pusat gempa.

“Kita punya mesin atau alat di BMKG. Secara teknis, banyak yang dianalisa saat gempa terjadi. Namun kurang dari 5 menit setelah gempa puncak, kita sudah bisa rilis. Artinya, sudah ada kesimpulan, apakah gempa itu diikuti oleh tsunami atau tidak,” ulasnya menjelaskan. (*)

Reporter: Fathu Rizqil Mufid
Editor: Nurul Lamunsari

Mari cegah penyebaran Covid-19 dengan 5 M;

  • Memakai masker
  • Mencuci tangan
  • Menjaga jarak
  • Mengurangi mobilitas dan interaksi
  • Menghindari kerumunan