Headline

Ahli Waris Korban Meninggal Kecelakaan Dapat Santunan Rp50 Juta

Ahmad Arkan Nugraha

TARAKAN, Koran Kaltara – Sebanyak enam korban meninggal dunia dalam insiden kecelakaan speedboat (SB) Ryan, Desa Pelaju, Kecamatan Sembakung, mendapatkan santunan dari Asuransi Jasa Raharja, secara bertahap sejak Selasa (8/6/2021). Dalam pemberian santunan ini, Jasa Raharja berkoordinasi dengan KSOP, Dishub Kaltara, Basarnas, Puskesmas Desa Atap, Dishub Nunukan di Sembakung dan Kapolsek Sembakung.

Kepala Jasa Raharja Tarakan, Ahmad Arkan Nugraha menuturkan, setelah mendapatkan informasi identitas dari SAR Tarakan, pihaknya meminta Jasa Raharja yang ada di Kabupaten Tana Tidung segera merapat ke Sembakung.

“Dua orang korban meninggal dunia sudah kami bayarkan santunannya di Sembakung, dan ada juga kami limpahkan ke Sulawesi Tengah dengan pembayaran dua orang meninggal dunia. Tapi, yang di Sulawesi ini baru satu yang dibayarkan karena satu orang baru ditemukan sore kemarin (Selasa, 8/6/2021). Tapi, Insya Allah akan kami bayarkan hari ini (kemarin),” terangnya, Rabu (9/6/2021).

Sedangkan dua orang korban meninggal dunia lainnya di Sembakung juga belum bisa dilakukan pencairan santunan meninggal dunia. Karena saat hendak dicairkan, belum memiliki buku rekening. Namun, Arkan memastikan pencairan juga akan dilakukan secepatnya.

“Hari ini (kemarin), kita bayarkan, baik Jasa Raharja di Tarakan dan Sulawesi Tengah terhadap korban meninggal 3 orang sebesar 150 juta. Untuk besok (hari ini) pagi, kami akan bayarkan dua lagi. Sebenarnya domisili ahli waris harusnya satu di Donggala, Sulawesi Tengah dan satu lagi di Buton, Sulawesi Tenggara. Tapi ahli waris di sini, maka dilimpahkan ke sini,” ungkap Arkan.

Semua santunan akan dibayar lunas kepada ahli waris melalui rekeningnya. Korban meninggal dunia mendapatkan santunan sebesar Rp50 juta. Sedangkan untuk korban yang mengalami luka-luka, maksimal Rp20 juta sesuai biaya perawatan. Begitu juga apabila ada korban yang mengalami cacat tetap, misalnya kaki patah dan amputasi, dibayarkan maksimal Rp50 juta sesuai persentase kecacatannya.

Korban yang mengalami luka ringan juga tetap mendapatkan klaim asuransi dari Jasa Raharja. Namun, disesuaikan dengan biaya perawatan yang dikeluarkan. Hanya saja bukan dalam bentuk uang kepada korban, melainkan masuk ke Puskesmas.

“Misalnya korban bayar biaya pengobatan ke Puskesmas, nanti diklaim ke Jasa Raharja. Tapi kalau tidak membayar dan dirujuk ke Rumah Sakit, maka kami yang membayarkan. Maksimal Rp20 juta. Kalau biaya perawatannya lebih Rp20 juta, sisanya dijamin oleh BPJS Kesehatan,” ucapnya menjelaskan.

Selain itu, ada juga manfaat tambahan bagi korban yang dirawat di Puskesmas. Untuk luka. Maksimal Rp1 juta untuk P3K apabila korban mendapatkan perawatan medis di Puskesmas setempat. Ditambah biaya ambulans rujukan dari Puskesmas ke Rumah Sakit atau antar-Rumah Sakit maksimal Rp500 ribu.

“Waktu kejadian, sedikit yang masuk Puskesmas, karena mereka hanya syok. Sisanya dari 24 orang korban itu, luka ringan dan kami juga belum ada informasi ada yang luka berat. Yang pasti, luka-luka tidak dapat dana cash. Pada prinsipnya asuransi, mengembalikan posisi keuangan korban sebelum terjadinya risiko. Tidak ada unsur keuntungan,” tegasnya. (*)

Reporter: Fathu Rizqil Mufid
Editor: Nurul Lamunsari