Ekonomi Bisnis

Ada Lima Komoditas Perkebunan Unggulan Malinau

Kabid Perkebunan, Yagus (kiri) bersama Kasi Produksi, Suparjono.

MALINAU, Koran Kaltara – Kabupaten Malinau memiliki lima komoditas perkebunan yang menjadi unggulan daerah. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Malinau, Afri ST Padan melalui Kepala Bidang Perkebunan, Yagus.

Lima komoditi tersebut dikawal berdasarkan komitmen Bupati Malinau,  mulai dari era Yansen Tipa Padan hingga Wempi W Mawa.

“Sementara berdasarkan komitmen Pak Bupati terdahulu dan sekarang ada lima komoditas itu. Kelapa sawit, kakao, kopi, lada dan karet. Ada sih yang lain termasuk kelapa. Tapi kita fokus ke lima komoditas itu dulu,” paparnya saat diwawancara di sela-sela kunjungan kerja DPKP Kaltara, Sabtu (19/6/2021).

Berbicara kelapa sawit, dikatakan Yagus, sedang dalam kondisi menjanjikan. Dimana harga jual pada kategori bagus. Rata-rata di penampung Rp1.700 per kilogram Tandan Buah Segar (TBS). Sedangkan harga di pabrik sekitar Rp2.000 per kilogram TBS.

“Jadi cukup bergairah petani sawit ini,” ujarnya.

Sementara itu, komoditi karet justru sedang lesu. Ini dikarenakan harga jual yang sedang merosot cukup tajam. Sehingga para petani enggan memanen karet mereka.

“Banyak pohon yang siap disadap, tetapi petani tidak mau panen. Karena harga kurang layak, masih terlalu murah,” jelasnya.

Mengenai lada, komoditi ini memang sedang gencar dikembangkan, baik melalui anggaran pemerintah daerah, melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) hingga Dana RT.

“Termasuk tahun ini kita juga direncanakan ada bantuan benih lagi. Tapi karena sudah ada dari pusat, kita alihkan ke kopi dan kakao,” ungkapnya.

Beralih ke kopi, dijelaskannya, menjadi komoditi yang menyandang Surat Keputusan (SK) Bupati sebagai produk lokal unggulan Malinau. SK tersebut menunjuk tiga desa sebagai lokasi pengembangan, yaitu Desa Punan Gong Solok, Desa Setarap dan Desa Sembuak Warot.

“Tiga desa kita fokus lakukan pembinaan. Baik secara teknis dan sistem pasarnya. Kita fokuskan agar mereka lebih bergairah,” paparnya.

Terakhir untuk komoditi kakao, komoditi ini juga tergolong menjanjikan. Dimana harga jual dalam kondisi stabil. Harga sementara sebesar Rp22 ribu tanpa fermentasi. Sedangkan setelah difermentasi lebih mahal lagi.

“Kakao ini stabil harganya. Pasar kakao sangat gampang sekali. Yang penting ada biji kakaonya, yang beli keliling.  Memang kakao di sini termasuk komoditas lama. Pernah jaya sekali di 97 (tahun 1997),” pungkasnya. (*)

Reporter: Agung Riyanto
Editor: Didik