Tarakan

5.522 Warga Miskin Tarakan Akan Terima BPNT

SOSIALISASI program nasional di kantor Wali Kota Tarakan, Minggu (6/1). (Foto: Sofyan Ali Mustafa).
Bantuan Tak Bisa Diuangkan TARAKAN, Koran Kaltara – Pemerintah terus berupaya menekan angka kemiskinan. Salah satunya yang sedang digalakan oleh Kementerian Sosial dengan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang memberikan belanja gratis kepada warga miskin setiap bulanya. Untuk mensukseskan program ini pemerintah pusat telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp50 triliun di 2019. Dikatakan Direktur Jenderal Penanganan…
  • Bantuan Tak Bisa Diuangkan

TARAKAN, Koran Kaltara – Pemerintah terus berupaya menekan angka kemiskinan. Salah satunya yang sedang digalakan oleh Kementerian Sosial dengan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang memberikan belanja gratis kepada warga miskin setiap bulanya. Untuk mensukseskan program ini pemerintah pusat telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp50 triliun di 2019.

Dikatakan Direktur Jenderal Penanganan Fakis Miskin Kementerian Sosial, Andi ZA Dulung, bahwa dulunya program ini bernama Ranstra di tahun 2016 dengan membagikan beras kepada warga miskin dengan membayar Rp75 ribu. Tetapi mulai 2017 sistem ini dirubah dan secara pelan-pelan provinsi yang ada menggantu dengan BPNT termasuk di Kalimantan Utara.

“Tarakan sejak April 2018 mulai bertransformasi, bukan lagi beras tetapi diberi uang yang dimasukan secara langsung ke masing-masing rekening warga penerima bantuan, yang kemudian dapat digunakan untuk belanja di elektronik warung atau e-warung untuk membeli beras dan telur,” terangnya, Minggu (6/1) usai melakukan sosialisasi di Imbaya Balaikota Tarakan.

Lebih lanjut dikatakan Andi, bahwa warga miskin yang mendapatkan kartu ini setiap bulannya mendapatkan jatah belanja di e-warung sebesar Rp110 ribu dan tidak bisa diuangkan karena saldo yang ada hanya bisa digunakan untuk belanja dua item tersebut.

“Setelah gesek di e-warung boleh beli beras dan telur, tidak boleh yang lainnya. Memang desainya begitu hanya beras dan telur, tidak boleh rokok maupun minyak goreng. Memang kebutuhan warga banyak tetapi yang kita sediakan hanya yang paling penting saja, kalau telur tanpa minyak bisa direbus tanpa mengurangi gizi. Kalau untuk beras, berdasarkan data statistik belanja paling banyak adalah beras,” ungkapnya.

Setiap bulanya, mulai tanggal 25, penerima bantuan ini sudah bisa menggunakan kartunya untuk belanja gratis di e-warung. Oleh karena itu, masih dibutuhkan pendamping untuk melakukan edukasi kepada masyarakat penerima bantuan, bagaimana menggunakan kartu dan e-warung di mana saja yang mau menerima.

“Berdasarkan evaluasi, biasanya komplain terjadi pada saat kartu tidak bisa digunakan atau saldo belum masuk. Hal ini biasa terjadi pada saat ganti kartu, misalnya ada yang hilang dan mendapatkan ganti yang baru, karena masih melakukan registrasi maka butuh waktu, saat data belum masuk ke Jakarta maka belum bisa digunakan. Maka dibutuhkan pendamping untuk menjelaskan mengenai hal ini,” bebernya.

Setiap saat, data penerima BPNT ini bisa berubah karena yang bersangkutan sudah tidak dalam kategori miskin, meninggal dunia, atau pindah domisili keluar kota. Sedangkan untuk pengganti tergantung dari kebijakan pemerintah daerah.

“Setiap ada perbaikan, menjadi kewenangan pemerintah daerah termasuk siapa-siapa yang harus dikeluarkan dari program ini. Penerima harus masuk dalam ketegori miskin, tetapi bagi yang keluarga yang rentan miskin juga berhak mendapatkan bantuan ini, karena jika sampai tidak bekerja akan langsung jatuh miskin,” urainya.

Anggaran untuk menanggulangi warga miskin secara nasional yang diberikan ke Kementerian Sosial untuk dimanfaatkan sebagai bantuan sosial sebesar Rp50 triliun, sedangkan untuk program BPNT ini dikisaran Rp21 triliun selama 2019. Sedangkan jumlah warga miskin yang mendapatkan bantuan ini sebanyak 15,5 juta yang tersebar di 34 provinsi, termasuk Kaltara.

Sementara itu, berdasarkan data dari Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Tarakan, terdapat 5.522 warga miskin yang berhak mendapatkan bantuan BPNT dengan pelayanan e-warung mencapai 17 tempat diseluruh Tarakan. Untuk jumlah e-warung akan diupayakan ada penambahan untuk memudahkan pelayanan.

“Berdasarkan evaluasi terdapat 900 penerima manfaat yang kartunya tidak didistribusikan selama 2019, hal ini dikarenakan sebenyak 666 sudah masuk dalam kategori mampu, dan sedang dicarikan penggantinya untuk diusulkan, 77 orang pindah keluar daerah sehingga kartu tidak bisa disalurkan, dan 15 orang meninggal dunia dan tidak ada ahli warisnya sehingga kartu tidak bisa dipindahkan ke lainnya,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustafa

Editor: Rifat Munisa