Tana Tidung

2021, Jalan Poros ke Bebatu Dilanjutkan

Jalan penghubung kawasan pesisir Tana Tidung. (Foto: Hanifah)

TANA TIDUNG, Koran Kaltara – Akses jalan poros penghubung Kecamatan Sesayap, Kecamatan Betayau dan Kecamatan Muruk Rian menuju ke kawasan pesisir di Desa Bebatu, Kecamatan Sesayap Hilir yang sudah dibangun selama beberapa tahun belakangan ini, akan dilanjutkan kembali tahun 2021 ini dengan penimbunan tanah dan pengerasan jalan.

Jalan poros penghubung sepanjang 96 kilometer (km) ini tidak hanya menghubungkan desa dan kecamatan yang ada di Kabupaten Tana Tidung (KTT) saja, tapi jalan dari Kecamatan Muruk Rian dapat tembus ke Malinau dan sekitarnya. Jalan ini juga menjadi jalan yang dapat menghemat waktu perjalanan dan Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Selain sudah dinikmati jalan ini masih ada sebagian jalan yang sulit dilalui sehingga masih membutuhkan penanganan lebih lanjut supaya di tahun ini direalisasikan dan masyarakat bisa lewat. Untuk tahun 2020 lalu jalan penghubung menuju Desa Bebatu, Kecamatan Sesayap bisa dilalui saat musim panas, sedangkan musim penghujan menjadi kendala bagi aktivitas masyarakat setiap harinya terutama masyarakat yang ada di pesisir,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPRPKP), Hersonsyah, Senin (18/1/2021).

Diketahui, jalan Seputuk-Kapuak di Kecamatan Muruk Rian sebagian rusak dan sebagian lagi sekitar 3 km sudah mulus teraspal. Jalan ke Bebatu dibuat gorong-gorong untuk meminimalisasi terjadinya banjir dan genangan air yang berlebih.

Tahun ini jalan ke pesisir ini tetap menjadi perhatian pemerintah sebab dengan akses yang menghubungkan kawasan darat ke pesisir ini membuka peluang usaha dan secara tidak langsung meningkatkan perekonomian masyarakat yang ada di sana.

“Tentunya jalan maksimal akan membuka ruang perekonomian, jalur transportasi, jalur sarana air dan sarana listrik, terutama di kawasan pesisir pantai. Sebelum adanya jalan tembus, selama ini masyarakat lebih banyak menggunakan jalur sungai untuk menyeberang dan cara ini tidak efisien karena kasihan masyarakat harus mengeluarkan banyak biaya, beda kalau jalur darat lebih hemat,” urai dia.

Dengan jalur darat masyarakat bisa menggunakan kendaraan sendiri dan hanya perlu membeli BBM saja, ditambah lagi menggunakan kendaraan pribadi lebih bebas kapanpun kembali ke desa sedangkan jalur sungai membatasi aktivitas.

Pihaknya berharap penanganan jalan menuju Bebatu lebih maksimal di tahun ini dengan anggaran yang mencukupi.

Penimbunan jalan dari jalan ke Dermaga Bebatu pun sudah dilakukan, jadi infrastruktur jalan juga membuka akses bagi masyarakat menggunakan kapal penyeberangan atau kapal feri yang sementara ini berlabuh di Dermaga Desa Sebawang, Kecamatan Sesayap.

Artinya dengan penyelesaian persoalan jalan akan memudahkan berbagai aktivitas masyarakat kelak.

“Kalau sekarang ini besaran anggaran tidak kita ketahui, yang pasti untuk perencanaan jalan ke Bebatu tetap menjadi perhatian di tahun ini, dengan maksimalnya jalan akan memberikan berbagai kemudahan masyarakat melakukan kegiatan nanti,” pungkas dia. (*)

Reporter: Hanifah
Editor: Nurul Lamunsari

Mari cegah penyebaran Covid-19 dengan 5 M;

  • Memakai masker
  • Mencuci tangan
  • Menjaga jarak
  • Mengurangi mobilitas dan interaksi
  • Menghindari kerumunan