Nunukan

17 Kecamatan di Nunukan Segera Menikmati Jaringan Satelit VSAT 

Survei titik koordinat rencana pembangunan menara BTS di Sebatik. (Foto: Sabri)

NUNUKAN, Koran Kaltara – Sebanyak 17 kecamatan di Kabupaten Nunukan akan menikmati koneksi internet lewat program jaringan melalui satelit Very Small Aperture Terminal (VSAT).

VSAT adalah stasiun penerima sinyal internet dari satelit dengan antena penerima berbentuk piringan berdiameter kurang dari 3 meter. Fungsi utama dari VSAT adalah untuk menerima dan mengirim data ke satelit.

Kepala Seksi Pengelolaan Infrastruktur dan Keamanan Sistem Elektronik pada Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kabupaten Nunukan, Rachmansyah mengatakan, Kabupaten Nunukan mendapatkan dua program dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Pertama, program jaringan melalui satelit VSAT dan kedua pembangunan menara Base Transceiver Station (BTS).

Untuk tahun ini, yang sudah fix, yakni VSAT sebanyak 144 titik di Kabupaten Nunukan.

Pemasangan VSAT akan ditempatkan di sekolah, kantor Polsek dan kantor pemerintahan.

Menurutnya, sementara difokuskan ke beberapa kecamatan yang kesulitan akses internet, terutama di wilayah daratan Kalimantan.

Pemasangan VSAT ini tersebar di Nunukan Selatan, Sebatik, Sebatik Timur, Seimenggaris dan Sembakung masing – masing satu titik.

Di Sebuku ada tiga titik, Sembakung Atulai empat titik, di Krayan Tengah ada lima titik, serta Krayan Selatan dan Lumbis Hulu masing-masing tujuh titik.

Kemudian di Kecamatan Tulin Onsoi ada delapan titik, Lumbis Pansiangan 11 titik, Krayan Barat 13 titik, Krayan Timur 14 titik, Lumbis Ogong 20 titik, Lumbis 22 titik dan Krayan 25 titik.

“Targetnya menara BTS, dan VSAT juga diusulkan dan alhamdulillah dapat VSAT juga. Namun untuk VSAT itu sesuai kontrak per lima tahun, ada perpanjangan, kalau jaringannya sudah baik, itu kontraknya tidak diperpanjang,” ujar Rachmansyah, Selasa (14/9/2021).

Dia mengatakan, untuk menara BTS, Pemda Nunukan mengusulkan melalui reguler dan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti).

Bedanya, reguler itu berhubungan dengan perusahaan jasa komunikasi dan perusahaan yang menentukan titik. Kalau Bakti, itu diajukan desa-desa yang blank spot, nanti dari usulan itu akan ditindaklanjuti dengan survei lapangan.

Untuk wilayah Krayan dan daratan Kalimantan sudah selesai disurvei. Dari hasil survei, ternyata ada beberapa kelompok desa berdekatan, sehingga tidak mungkin dibangun satu menara dengan jarak berdekatan.

“Karena ada syarat pembangunan menaranya sehingga harus direlokasi. Ada juga desa yang berjauhan, itu baru dipasang,” kata Rachmansyah.

Ia mengatakan, adanya kelompok desa yang berdekatan sehingga diusulkan untuk direlokasi menara BTS.

Selanjutnya BTS dialihkan ke Desa Binusan Dalam Kecamatan Nunukan dan sudah disetujui. Hal itu juga dikarenakan menunggu menara reguler belum ada kepastian.

Disamping itu, Pj. Kepala Desa Binusan Dalam sangat mendukung. Bahkan jika titiknya diambil, pemerintah desa siap menghibahkan tanah. Karena salah satu syarat untuk pembangunan menara BTS, itu tanahnya dihibahkan ke pemerintah daerah (Pemda).

“Tinggal menunggu kepastian titik koordinat dari teman-teman yang survei di lapangan. Kemudian di Sebatik Timur di Bukit Harapan dan Tanjung Aru tapi ini perlu dilakukan survei ulang,” jelasnya.

Rachmansyah mengungkapkan, untuk menara BTS yang pertama itu Nunukan mendapatkan 88 menara di awal tahun 2020.

Selanjutnya Pemda mengusulkan kembali dan disampaikan akan diberikan 165 menara.

Kemudian dari hasil survei, ada sekitar seratusan yang siap dan tanahnya juga sudah siap dihibahkan.

Sisa dari seratusan atau dari target awal di wilayah pulau Sebatik dan Krayan itu dialihkan ke Nunukan.

“Untuk VSAT sudah on the way ke Nunukan. Untuk menara BTS akhir tahun ini materialnya disebarkan di titik-titik yang sudah ditentukan dan tahun depan baru di bangun,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sabri
Editor: Didik