100 Anak TKI Disebar di Tiga Sekolah
Dr. Nurbaya, S.Si.MP
NUNUKAN, Koran Kaltara – Sebanyak 100 anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Sabah Malaysia telah bersekolah di Kabupaten Nunukan. Anak TKI lulusan SMP sederajat di Sabah, kini telah berbaur dan menuntut ilmu di 3 sekolah.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Utara Wilayah Kabupaten Nunukan, Dr. Nurbaya, S.Si.MP mengatakan, ada 100 anak TKI telah diterima bersekolah di Kabupaten Nunukan. Yakni, 58 anak di SMKN 1 Sebatik Barat, 22 anak di SMK Mutiara Bangsa Sebatik dan 20 anak di SMAK Frateran Santo Gabriel Nunukan. Bagi anak yang bersekolah di SMKN 1 Sebatik Barat dan SMK Mutiara Bangsa, tempat tinggalnya di asrama milik sekolah. Sedangkan di SMAK Frateran Santo Gabriel, karena belum memiliki asrama, pihak sekolah menyediakan 3 kos–kosan yang sewanya di bayarkan pihak sekolah.
“Kalau di SMKN 1 Sebatik Barat, karena ada asrama sehingga 58 anak ditempatkan di asrama. Kemudian di SMK Mutiara Bangsa juga ada asramanya. Sedangkan untuk SMAK Frateran Santo Gabriel, karena belum memiliki asrama sehingga ditempatkan di tiga kos, yang sewa kostnya dibayarkan oleh pihak sekolah dan lokasinya dekat dengan sekolah sehingga ke sekolah bisa berjalan kaki,” kata Nurbaya, Senin (5/8/2019).
Alasan dipilihnya 3 sekolah tersebut, kata dia, karena memang untuk program repatriasi siswa Community Learning Center (CLC) di Malaysia, dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Utara hanya menempatkan di SMKN 1 Sebatik Barat, SMAK Frateran Santo Gabriel dan SMK Mutiara Bangsa. Kenapa tidak ditempatkan di SMKN 1 Nunukan? Jangan sampai ada kegaduhan di dalam.
“Jangan sampai mereka anak TKI diarahkan ke sana, sedangkan masih banyak anak Nunukan belum tertampung,” ujarnya.
Nurbaya berharap pihak Indonesia di Malaysia yang menangani program ini, agar fungsi control dan pengawasan tetap dilakukan, meskipun anak TKI sudah bersekolah di Nunukan. Jangan nanti, hanya mengirim anak tersebut ke Nunukan, setelah bersekolah selesai urusan, tidak pernah lagi dipantau.
Misalnya, lanjut dia, mereka berprestasi atau tidak, masih tinggal di asrama atau tidak. Sehingga pengalaman kemarin, ada siswa yang kecelakaan kemudian pihak sekolah menyampaikan kepada pihak keluarga siswa, namun orang tuanya tidak datang.
Pihak sekolah berupaya menghubungi Direktur RSUD Nunukan, dokter Dulman agar anak tersebut dibebaskan biaya pembayaran. Karena pihak sekolah juga terbatas anggarannya kemudian orang tua juga sulit untuk diajak komunikasi.
“Namun, Alhamdulillah berkat kerjasama, bisa tertangani dengan baik. Makanya saya berharap kepada mereka yang memfasilitasi di Tawau, meskipun anaknya sudah bersekolah harus tetap di pantau dan di control melalui koordinasi dan komunikasi dengan pihak sekolah,” kata Nurbaya.(*)
Reporter : Sabri
Editor : Sobirin
BERITA TERKAIT
Berita terkait tidak ditemukan!
TERPOPULER