Ruang Publik

When Love and Hate Collide

Fitriyani Suryadewi

Oleh: Fitriyani Suryadewi M.Psi.,Psikolog.

FENOMENA baru tentang terorisme muncul beberapa tahun belakangan ini, adanya pelaku bom bunuh diri dengan mengajak anak serta istrinya menjadi pelaku bom bunuh diri bersama-sama. Pasangan DS dan PK dengan keempat anaknya melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Surabaya Jawa Timur.

Mereka bukanlah berasal dari keluarga dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Bahkan sebelum menikah, sang istri termasuk keluarga yang cukup terpandang. Ayahnya merupakan pengusaha jamu tradisional di daerah Jawa Timur.

Keluarga pihak istri sebenarnya tidak menyetujui pernikahan mereka karena paham agama yang dianut oleh sang suami tergolong cukup keras dan berbeda aliran dengan keluarga pihak istri tersebut. Semenjak menikah, pasangan ini dinilai menjauh dari keluarga dan terkesan menutup diri dengan lingkungan sekitarnya.

Bagi khalayak umum hal ini sangat mencengangkan, bagaimana mungkin ada orang tua yang tega melakukan perbuatan tersebut terhadap anak kandungnya sendiri dan mampu meyakinkan anak-anaknya bahwa ini merupakan perbuatan mulia karena akan mendapatkan ganjaran istimewa di surga.

Pelaku suicide bombing yang melibatkan keluarga (anak dan istri) ini apakah murni memang keinginan anak itu sendiri atau dipaksakan oleh orang tuanya ? Pertanyaan ini juga mengusik penulis dan para pembaca artikel yang membahas tentang masalah ini.

Dengan berdalil dogma tentang agama yang akan memuliakan manusia kedalam surga. Ajaran ini kerap disampaikan berulang kali sehingga, setiap orang yang mendengarkannya menjadi yakin dan menganggap itu sebagai suatu kewajaran.
“Kewajaran –kewajaran” tersebut disampaikan berulang akan menimbulkan keyakinan dan kebenaran (teori propaganda). Akhirnya, berusaha untuk mengejar agama sebagai kunci untuk masuk surga.
Bagaimana membangun belief system.

Pikiran manusia itu dibagi menjadi dua macam; pikiran di bawah sadar dan pikiran sadarnya. Pikiran sadar manusia lebih banyak berfungsi untuk menganalisa sebuah masalah, melakukan penalaran logika dan kemampuan secara matematis. Sedangkan, pikiran bawah sadar manusia lebih berisikan self image dan belief system.

Pelaku teror memiliki belief system yang kuat dalam hal keyakinannya pada agama. Belief system ini terdapat pada pikiran bawah sadarnya dan melandasi keyakinan diri dan pada akhirnya mempengaruhi perilakunya.

Belief system pelaku yang dimiliki oleh para pelaku terror menitik beratkan pada kepercayaan akan ajaran agama yang dianutnya. Belief system yang kuat adalah landasan keyakinan yang dimiliki oleh seseorang yang melandasi cara bersikap dan berperilaku dari seseorang maka, dapat disimpulkan bila seseorang memiliki belief system yang kuat akan sulit untuk digoyahkan oleh pendapat ataupun argumentasi lainnya.

Pengaruh Pola Asuh dalam keluarga.
Bisa dibayangkan bila seorang anggota terroris memiliki belief system yang kuat, maka ia akan berusaha menyebarkan keyakinannya akan suatu hal pada orang lain secara intens. Keluarga merupakan salah satu bagian terpenting dalam hidupnya dan merupakan “tempat” pertama untuk menyebarkan keyakinannya tersebut.

Orang yang memiliki keyakinan besar akan ajaran agamanya cenderung mengajak atau bahkan memaksakan seluruh anggota keluarganya untuk mengikuti apa yang diyakini tersebut.

Doktrinasi akan keyakinan pada ajaran agama dan kecederungan untuk memaksakan pendapat pada seluruh anggota keluarga menjelaskan bagaimana pola asuh yang dianut dalam keluarga tersebut. Doktrinasi dan kecenderungan memaksakan kehendak ini seringkali identik dengan pola asuh otoriter.

Anak-anak yang dibesarkan dalam pola asuh otoriter memiliki kecenderungan kurang memiliki kesempata untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Mereka selalu tunduk dan patuh terhadap orang tua mereka meskipun, hal yang diajarkannya tersebut bukanlah sesuatu yang baik. Mereka tidak diberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri dalam mengutarakan kata hatinya dan buah pemikirannya sendiri.

Orang tua cenderung tidak memperhatikan hal-hak anak-anak tersebut untuk memilih cara hidupnya sendiri. Anak-anak ini memiliki ketakutan yang besar ketika, mereka harus menentang pendapat ataupun ajaran orang tuanya.

Dengan dalil anak yang tidak berbakti pada orang tua dan hal tersebut dianggap melanggar atau menentang nilai-nilai yang diajarkan dalam agama. Pendapat inilah yang membuat anak merasa tidak memiliki peluang untuk berpendapat dan berbuat sesuai dengan kehendak hatinya. Kepatuhan yang luar biasa inilah yang membuat mereka harus menerima dan mengikuti belief atau keyakinan yang dianut oleh orang tuanya termasuk melakukan aksi teror bom bunuh diri.

Agama sebagai nilai ajaran hidup.
Patut disadari bahwa ketika manusia pada saat lahir bertumbuh menjadi lebih dewasa, belum mengerti dan memahami apa sebenarnya agama itu. Agama itu didapat hanya dengan satu alasan, yaitu mengikuti agama yang dianut orang tuanya dengan tanpa mengetahui apa arti dan makna agama itu sendiri.

Sebenarnya bahwa pengertian agama itu secara harafiah yang berarti agar tidak kacau balau, sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia dinyatakan bahwa arti agama itu adalah tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan antar manusia serta lingkungannya. Jadi bukan membahas tentang “surga”. Ajaran yang sangat sempit ini dibuat dalam sebuah paham bahwa ajaran agama yang diyakininya itulah yang paling benar.

Hal ini tentunya akan menumbuhan fanatisme sempit dari orang yang menyakininya sehingga, menimbulkan eklusifme komunitas mereka. Konsep- konsep wacana seperti ini sangat mudah diciptakan dan disebarkan dengan berkembangnya teknologi informasi yang ada didunia. Beberapa hal di atas menimbulkan potensi-potensi tumbuh dan berkembangnya ajaran radikalisme ini. (*)

*) Penulis adalah Mahasiswa S-3 Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian- PTIK