Ekonomi Bisnis

Tim Penetrasi Harga Waspadai Lonjakan Harga Daging Ayam

Kementerian Perdagangan memantau harga daging ayam di Pasar Gusher Tarakan. (Foto: Sofyan/Koran Kaltara)

TARAKAN, Koran Kaltara – Tim Penetrasi Harga dari Kementerian Perdagangan memantau kondisi pasar di Tarakan, untuk melakukan pencatatan harga berbagai kebutuhan pokok menjelang Idulfitri 1440 Hijriah. Data yang didapat akan dievaluasi baik di tingkat daerah maupun pusat, guna menerbitkan kebijakan.

Sejak 27 Mei lalu, tim telah melakukan pantauan di Bumi Paguntaka dan akan berjalan hingga (4/6/2019). Dari beberapa komoditas yang sedang diburu warga untuk keperluan perayaan Hari Raya Idulfitri 1440 Hijriah, adalah daging ayam.

Meskipun saat ini harganya di kisaran Rp42 ribu- Rp45 ribu per kilogram, tetapi masih ada kekhawatiran karena pengalaman tahun lalu harga daging ayam bisa mencapai Rp80 ribu.

“H-1 dan H-2 harus tetap diwaspadai jangan sampai seperti tahun lalu. Untuk saat ini harganya masih bervariasi ada yang Rp42 ribu per kilogram, Rp43 ribu per kilogram, dan yang mahal Rp45 ribu per kilogram. Kalau harganya lebih dari itu, akan mempengaruhi inflasi. Solusinya pedagang harus komitmen, kalau harga dari inti tidak naik, pedagang juga tidak akan ada kenaikan,” terang Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro Kecil Menengah Kalimantan Utara, Hasriani, Sabtu (1/6/2019).

Oleh karena itu, harga dan stok harus terus dipantau hingga hari H lebaran. Jika ada kenaikan harga yang tidak terkontrol akan langsung ditindaklanjuti oleh satgas pangan.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Tarakan, Tajuddin Tuwo menambahkan, masyarakat harus menjadi konsumen cerdas. Jika harga daging ayam segar dinilai terlalu mahal bisa membeli daging ayam beku yang dijual di kisaran harga Rp35 ribu per kilogram.

“Ayam beku itu sudah steril dan ada label halalnya, sudah ada jaminan kehigienisan baik dari sisi pemotongan hingga proses pembekuanya. Kalau ayam segar mahal, ada pilihan lainya yaitu daging beku yang ada dijual Bulog mamaup Pelni,” ucapnya.

Meskipun demikian, keyakinan masyarakat Tarakan terhadap daging ayam seger lebih baik menjadikan harga bukan kendala. Seperti yang diutarakan Masikin, menurutnya rasa daging ayam seger lebih gurih jika dibandingkan dengan yang sudah beku.

“Selama masih bisa membeli, saya utamakan daging ayam segar. Tapi kalau harganya sudah lebih dari Rp200 ribu per kilogram ya terpaksa pakai daging ayam beku, meskipun rasanya beda,” ucapnya.

Saat ini, Masikin belum membeli daging ayam segar. Rencananya pada H-2 baru akan mulai memasak, “Belum beli sih, gak papa harga naik asalkan jangan sampai Rp200 ribu per kilogramnya. Nanti beli buat keperluan lebaran, paling yang kita beli sekitar 5 kiloan saja.” (*)

Reporter : Sofyan Ali Mustofa
Editor : Didik