Hukum Kriminal

Terdesak Hutang, SB Curi Uang Sekolah

Barang bukti uang sisa dan barang yang sempat dibeli SB dari hasil pencurian di salah satu sekolah di tarakan. (Foto : Sahida/Koran Kaltara)
  • Baru Bekerja sebagai Security selama 6 Bulan

TARAKAN, Koran Kaltara – Pelaku pencurian uang di salah satu sekolah di Tarakan, dibekuk Unit Reskrim Polsek Tarakan Barat, Selasa (8/1). Pelaku yang berinsial SB (35) ini ternyata merupakan security di sekolah tersebut dan baru bekerja sejak 6 bulan lalu.

Kapolsek Tarakan Barat Iptu Joko Pitono menuturkan, laporan pencurian yang dilakukan SB diterimanya pada hari Minggu (5/1/2020). Dari keterangan salah satu tenaga pengajar di sekolah tersebut, baru menyadari uang sekolah yang disimpannya hilang pada Sabtu (4/1/2020). Setelah laporan ia terima, pihaknya sempat melakukan olah TKP dan memeriksa CCTV.

“Kami memeriksa lokasi kejadian, membuat sketsa kejadian, mencari saksi dan memeriksa rekaman CCTV yang ada di lokasi kejadian,” ujarnya, Rabu (8/1/2020).
Dari hasil rekaman CCTV, diketahui pelaku masuk sekira pukul 04.00 Wita. Berdasarkan ciri-ciri ini, salah satu personel Unit Reskrim mengenali pelaku, karena pelaku pernah diamankan untuk kasus pencurian beberapa tahun lalu. Pencarian lokasi pelaku langsung dilakukan, untuk mengetahui keberadaannya.

Kurang dari 24 jam sejak laporan pencurian diterima polisi, SB dijemput di rumahnya, di Jalan KH Agus Salim, Kelurahan Selumit.

Setelah dimintai keterangan, terkait tindak pidana pencurian yang terletak Jalan Jenderal Sudirman ini, SB langsung mengakui sebagai pelaku pencurian. Namun, uang Rp7,7 juta yang dicurinya, polisi hanya berhasil mengamankan sisanya sekitar Rp180 ribu dan beberapa barang yang dibelinya dari hasil curian.

“Pelaku ini merupakan security di sekolah tersebut. Jadi, pelaku menggunakan kunci yang sudah digandakannya. Sebelumnya, di tahun 2005 pelaku juga pernah melakukan pencurian di wilayah Juata laut namun hanya dihukum 6 bulan penjara,” katanya.

SB mengaku, sebagian uangnya digunakan untuk keperluan sehari-hari karena tidak memiliki pekerjaan tetap, hanya sebagai pekerja lepas dengan gaji kecil. Sedangkan ia harus membiayai anak dan istrinya, ditambah hutang yang harus dibayar.

“Itu yang membuat pelaku nekat mencuri di tempat kerja yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya, tetapi pelaku malah melakukan pelanggaran hukum. Saya kira, nanti bisa menjadi pertimbangan dari Pengadilan maupun Kejaksaan terhadap pelaku, karena terdesak kebutuhan hidup itu,” tuturnya.

Sebelumnya, SB melamar sendiri pekerjaan sebagai security. Namun, ia mengaku tidak berniat awal melakukan pencurian. Bahkan, usai melakukan pencurian ia juga tetap masuk kerja. Namun, saat ditangkap SB bersikap kooperatif dan mengaku khilaf.

“Unsur pelanggaran pidana terpenuhi, kita sangkakan pasal 363 ayat (1) huruf ke 3 dan ke 5 KUHP dengan ancaman pidana minimal 5 tahun penjara,” tegasnya. (*)
Reporter : Sahida
Editor : Hariadi