Tanjung Buka Diproyeksikan untuk Penempatan Warga Transmigran 2020
AIR BERSIH – Pelayanan air bersih di seluruh desa di Bulungan diharapkan bisa terpenuhi. (Foto : Nurjannah/ Koran Kaltara)
TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Kepala Bidang Transmigrasi pada Disnakertrans Provinsi Kaltara Boedijo Soenarno mengatakan, Kaltara merupakan salah satu provinsi yang menjadi daerah penerima tujuan transmigrasi.
Menurut data yang dimiliki, hingga saat ini terdapat 1.130 kepala keluarga (KK) transmigran yang tersebar di 13 lokasi penempatan di Kaltara. Yakni, sebanyak 10 titik di Kabupaten Bulungan, dua titik di Kabupaten Tana Tidung (KTT) dan 1 titik di Kabupaten Nunukan.
“Salah satu lokasi transmigrasi di Bulungan adalah di Satuan Pemukiman (SP) 10 dan 11 di Tanjung Buka. Bahkan di daerah ini diproyeksikan akan kembali menjadi titik penempatan transmigran di tahun depan,” ucapnya pada Koran Kaltara.
Pihak Disnakertrans tingkat provinsi saat ini masih menunggu terkait koordinasi teknis di tingkat kabupaten dan juga ketetapan dari pemerintah pusat. “Kalau teknisnya kita tunggu bagaimana dari kabupaten dan juga keputusan akhir dari pusat. Dari situ nanti juga bisa diketahui berapa jumlah transmigrn yang datang dan dari daerah mana saja,” ujar Boedijo.
Terkait peran serta warga transmigran terhadap pembangunan di Kaltara, sebut dia lebih kepada fungsi percepatan geliat kegiatan perekonomian melalui sektor pertanian. Di mana warga transmigran menghidupkan kegiatan ekonomi yang berbasis ekonomi berkelanjutan.
“Warga transmigran ini mendapat fasilitas lahan untuk diolah sebagai mata pencahariannya. Sehingga memang peran mereka di sektor ekonomi dalam pembangunan daerah, lebih dari sektor pertanian. Termasuk di dalamnya yang juga menerapkan sistem kebun ataupun ladang,” jelasnya.
Dia mengatakan, kegiatan ekonomi utama berada di sektor pertanian. Namun jelasnya, terdapat hubungan yang berkelanjutan terhadap sub sektor ekonomi lainnya di dalam atau di luar lingkungan pemukiman transmigran. Seperti contoh dengan adanya pertambahan penduduk, tentu kebutuhan lain seperti bahan rumah tangga, alat komunikasi, kebutuhan sekolah dan lainnya tentu mengikuti.
“Namun ekonomi utamanya di pertanian. Karena ketika pertaniannya tidak jalan, otomatis penghasilan mereka terhenti. Sehingga kegiatan ekonomi yang sifatnya mendukung juga tidak mungkin berkembang,” kata Boedijo lagi.
Apabila melihat produksi hasil pertanian yang dikonsumsi masyarakat masih berasal dari daerah luar sendiri, Boedijo menilai hal tersebut merupakan peluang ekonomi bagus dalam menjaga stabilitas penjualan komoditas pertanian yang dihasilkan para transmigran. Dimana bisa menghilangkan ketakutan terkait ancaman produknya tidak terserap pasar. (*)
Reporter : Ike Julianti
Editor : Eddy Nugroho
BERITA TERKAIT
Berita terkait tidak ditemukan!
TERPOPULER