Headline

Tahun Tikus Logam Berharap Ekonomi Lebih Baik

Umat Konghucu melakukan ritual ibadah di Kelenteng Toa Pek Kong yang berada di Kelurahan Pamusian (Sofyan Ali Mustofa/Koran Kaltara)
  • Umat Konghucu Rayakan Imlek; Penghitungan Fheng Shui Waspada di Wilayah Selatan

TARAKAN, Koran Kaltara – Kelenteng Tao Pek Kong yang berada di Kelurahan Pamusian merupakan satu-satunya tempat ibadah umat Konghucu di Tarakan sejak 1906. Mulai Jumat (24/1/2020) sore sampai Sabtu dijadwalkan sudah bisa beribadah menyambut perayaan Imlek. Berbagai harapan dipanjatkan dalam doa terutama perbaikan ekonomi.

“Malam ini (Jumat, 24/1/2020) sudah mulai ibadah penyambutan Imlek sampai besok (hari ini), karena Kelenteng ini akan buka 24 jam sampai Sabtu malam besok. Jika tahun sebelumnya disimbolkan sebagai Tahun Babi, maka mulai besok memasuki Tahun Tikus Logam,” kata Pengurus Kelenteng Tao Pek Kong Tarakan, Suwarno, Jumat (24/1/2020).

Lebih lanjut dikatakan, berdasarkan penghitungan feng shui, selama tahun 2020 ada beberapa hal yang harus diwaspadai terutama bencana alam yang akan melanda wilayah bagian Selatan. “Dari empat mata angin, daerah selatan yang harus diwaspadai terhadap bencana alam yang disebabkan oleh air, yaitu banjir dan tanah longsor,” ucapnya.

Sedangkan untuk keamanan, menurutnya Kalimantan Utara dan Tarakan tergolong cukup kondusif selama 2020 meskipun akan menggelar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah. Namun berdasarkan prediksinya yang disesuaikan dengan penghitungan feng shui, tidak ada kerusuhan maupun hura-hara selama Tahun Tikus Logam.

“Yang perlu diwaspadai lebih kepada alam, sedangkan untuk Pilkada relatif aman karena masyarakat sudah sadar bahwa menjaga kedamaian lebih baik daripada membuat kerusuhan. Pemimpin yang akan terpilih memiliki sifat bijaksana serta memiliki toleransi cukup tinggi terhadap perbedaan, serta akan membawa kesejahteraan dan keharmonisan hubungan antar-semua makhluk. Karena yang akan terpilih, mereka yang mau maju bersama, dengan usia 50 tahun ke atas,” bebernya.

Di sektor ekonomi, akan ada kenaikan harga, meskipun di sisi lain ada perbaikan geliat ekonomi. Kenaikan harga lebih dipengaruhi banyaknya bencana alam sepanjang 2019 sehingga mempengaruhi hasil pertanian dan perkebunan. Meskipun demikian, kata Suwarno, semua kembali kepada pribadi masing-masing karena prediksi bisa saja melesat, meskipun dilakukan berdasarkan pengalaman dan penghitungan feng shui.

Sementara itu, kata dia, perayaan Imlek di Bumi Paguntaka, digelar secara sederhana. “Perayaan Imlek di Tarakan tidak ada acara yang mewah. Hanya ada pertunjukan barongsai pada esok hari, itu pun hanya sebentar, tidak lama,” ucapnya.

Sementara itu, Eti Setiawati yang melakukan ibadah penyambutan Imlek mengharapkan adanya perbaikan ekonomi keluarga. Kerena selama tahun 2019, dirinya merasa kurang bagus mendapatkan rezeki.

“Mudah-mudahan ekonomi bagus, supaya rezeki tidak seret lagi. Cari makan mudah dan lebih baik, beda tahun lalu lah. Biasanya dalam perayaan Imlek, kita awali dengan sembahyang di Kelenteng, lalu mendoakan leluhur, kirim-kirim, lalu kumpul bersama keluarga untuk makan bersama,” ungkapnya. (*)

Reporter : Sofyan Ali Mustofa

Editor : Nurul Lamunsari