Malinau

Stunting Tinggi, Kesadaran Orang Tua Rendah

MALINAU, Koran Kaltara –  Kasubdit Balita dan Ketahanan Keluarga Lansia BKKBN Provinsi Kaltim Alfi Juni Rahmawati menyampaikan bahwa tingginya angka prevelensi balita stunting di Malinau, karena kurangnya kesadaran orang tua mempersiapkan gizi, mulai proses kehamilan hingga pasca melahirkan. “Jadi orang tua itu harus mempersiapkan mulai dari proses kehamilan hingga pasca melahirkan. Karena anak-anak ini adalah…

MALINAU, Koran Kaltara –  Kasubdit Balita dan Ketahanan Keluarga Lansia BKKBN Provinsi Kaltim Alfi Juni Rahmawati menyampaikan bahwa tingginya angka prevelensi balita stunting di Malinau, karena kurangnya kesadaran orang tua mempersiapkan gizi, mulai proses kehamilan hingga pasca melahirkan.

“Jadi orang tua itu harus mempersiapkan mulai dari proses kehamilan hingga pasca melahirkan. Karena anak-anak ini adalah generasi emas yang cerdas,” kata Juni kepada Koran Kaltara, beberapa hari lalu.

Dia menilai dari 10 Desa yang dinyatakan stunting, dikarenakan kurangnya Bina Kelompok Balita (BKB), sehingga pemahaman terhadap kesehatan anak belum dirasakan.

“Di Malinau ini baru ada 3 BKB yang terbentuk dan kurang begitu aktif. Karena memang kader-kadernya juga belum terlatih,” katanya.

Menurut dia, beberapa bulan lalu, ada enam orang yang diberikan pelatihan dan pendampingan, namun belum begitu eksis di lapangan.

“Memang ada 6 kader, tapi mereka belum bisa menjangkau di tingkat bawah atau eksis di lapangan,” jelasnya.

Maka dari itu, kata dia, melalui kegiatan cegah stunting dengan pengasuhan 1000 HPK melalui Bina Kelompok Balita ini diharapkan mampu mewujudkan generasi emas unggul di Kabupaten Malinau.

“Jadi diharapkan stakeholder baik dari  Pemerintah Desa, kader-kader posyandu ini  bisa mencegah kasus stunting di kemudian harinya,” imbuhnya.

Dia menyampaikan, bahwa kehadiran peserta lintas sektoral ke depan menjadi corong informasi terhadap pencegahan prevalensi stunting. Dan diharapkan dapat membentuk bina kelompok balita di setiap wilayah masing-masing.

“Jadi yang kita harapkan itu bagaimana di daerah itu bisa menciptakan keluarga berkualitas dalam menumbuhkembangkan anak-anaknya,” harapnya.

Dia menegaskan, orang tua wajib memberikan perhatian kepada anak. Namun tidak harus kuantitas saja, melainkan kualitas lebih penting.

“Misalnya pada saat jam-jam tertentu. Contohnya saya, begitu pas maghrib sampai jam 9 malam itu tidak ada aktivitas menonton TV atau memegang HP. Tapi fokus kepada anak. Jadi bagaimana kita orangtua bisa membuat waktu yang pendek itu menjadi berkualitas kepada anak,” ungkapnya. (*)

Reporter: Sulaiman

Editor: Sobirin

Artikel ini juga terbit di versi cetak Koran Kaltara edisi 13 Desember 2018