Ekonomi Bisnis

Sepi Event Nasional, Tingkat Hunian Hotel Turun Drastis

Foto: Ilustrasi/Internet

TARAKAN, Koran Kaltara Meskipun Tarakan selalu menobatkan sebagai kota perdagangan dan jasa, namun tidak menunjukan slogan yang selama ini digaungkan. Pasalnya, salah satu layanan jasa yaitu perhotelan hanya mengandalkan event berskala nasional untuk bisa hidup. Saat ini, tingkat okupansi atau tingkat hunian hotel hanya di kisaran 20 persen, sehingga rawan gulung tikar.

“Kalau ada agenda misalnya STQ, Rakernas Apeksi maka banyak tamu datang. Untuk itu kami minta support dari pemerintah dengan kondisi saat ini, bisa menggelar event-event besar,” terang, Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Tarakan, Kipi kepada Koran Kaltara, Senin (8/7/2019).

Lebih lanjut dikatakan Kipi, salah satu menurunya tingkat hunian menyebabkan gaji karyawan tidak sesuai dengan Upah Minimum Kota (UMK). Langkah lain selain menggelar event adalah mendatangkan wisatawan ke Tarakan. Bukti dunia perhotelan mulai goyang dengan berakhirnya usaha Hotel Samkho dalam memberikan jasa menginap, karena telah dibeli oleh My City.

“Dampak dari okupansi ini adalah kepemilikan hotel Samkho menjadi My City, kalau ini dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan hotel-hotel lainya yang tidak mempu bersaing akan tumbang juga. Belum lagi, saat ini sudah ada yang mulai tidak bisa melakukan maintanance tamu sehingga akan ditinggalkan pelanggan,” ungkapnya.

Meskipun demikian, belum ada persaingan harga atau perang tarif. Kalu hal ini sampai terjadi, maka akan memperparah ekonomi yang sudah tidak sehat. Untuk saat ini, okupansi yang hanya 20 persen lebih dipengaruhi oleh sepinya tamu, bukan persoalan tarif.

Diakui Wakil Wali Kota Tarakan, Effendy Djuprianto kondisi ini sangat membahayakan karena berdasarkan pengalaman dan informasi dari daerah lain, akan mempengaruhi ekonomi daerah. Oleh karena itu harus duduk satu meja antara pemerintah dan PHRI untuk membahas hal ini, bagaimana caranya supaya dapat mempromosikan hotel yang ada.

“Salah satunya solusi adalah dengan mempromosikan pariwisata, selain itu membuat event nasional supaya 46 hotel yang ada bisa ikut merasakan dampaknya. Setidaknya, tingkat okupansi bisa mencapai 80 persen. Kuncinya ada disitu, kalau tingkat hunian sehat otomatis kesejahteraan karyawan dan kinerja juga akan lebih baik, tetapi kalau hanya di kisaran 20-30 persen akan terjadi gejolak,” ungkapnya.

Ditambahkan Ketua Komisi II DPRD Tarakan, Adnan Hasan Galoeng, kondisi ini harus dievaluasi dengan menggelar event-event nasional. Selain itu, Pemkot Tarakan juga menertibkan keberadaan homestay yang tidak berizin, yang selama ini menawarkan harga lebih murah hingga tamu hotel lebih memilih tinggal di homestay. (*)

Reporter : Sofyan Ali Mustofa

Editor : Rifat Munisa