Tarakan

Sepanjang 2019, Shelter Menempatkan Total 30 Orang Terlantar

Beberapa orang terlantar memanfaatkan rumah singgah untuk tinggal sementara hingga ada pihak yang memulangkan ke kampung halaman. (Sofyan/Koran Kaltara)
  • Sebagian Besar Korban Penipuan

TARAKAN, Koran Kaltara – Rumah singgah di Jalan Teuku Umar Kelurahan Pamusian yang selama ini dikelola Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsospemas) menjadi rujukan masyarakat terlantar. Selain mendapatkan jatah makan, selama tinggal di rumah singgah biasanya akan dipulangkan ke tempat asal masing-masing.

Selama 2019, setidaknya ada sekitar 30 orang yang memanfaatkan rumah singgah. Biasanya adalah para pekerja yang melarikan diri dari kamp karena tidak diurus oleh perusahaan, maupun orang-orang yang ditelantarkan keluarga.

Kalimantan masih menjadi tempat mencari rezeki yang menjanjikan, hal inilah yang membuat para pekerja mau diajak untuk bekerja. Sayangnya, tidak semua perusahaan maupun kontraktor yang benar-benar mengurus para pekerja tersebut sehingga terlantar.

“Yang kita tangani kebanyakan para pekerja resmi, mungkin karena ada sesuatu yang kurang pas akhirnya melarikan diri. Sebenarnya mereka-mereka ini bekerja di Kabupaten Bulungan, Tana Tidung, Malinau, dan Nunukan. Namun terlantarnya kesini, karena biasanya mereka mau pulang ke asalnya tetapi sampai Tarakan sudah kehabisan uang,” terang Kepala Dinsospemas Tarakan, Mariyam, Jumat
(21/2/2020).

Selama 2020, sudah ada sekitar 10 orang yang memanfaatkan rumah singgah untuk menanti uluran tangan dermawan maupun pemerintah untuk dipulangkan ke kampung halaman. Selama berada di rumah singgah pemerintah memberikan makan, sedangkan untuk pemulangan Dinsospemas melakukan koordinasi dengan lembaga zakat yang ada di Tarakan.

Selain itu, pemerintah juga mencari informasi mengenai keluarga yang sekiranya ada di Tarakan untuk diajak patungan memulangkan yang bersangkutan. Meskipun demikian, Mariyam menegaskan bahwa untuk saat ini tidak bisa mengandalkan keberadaan paguyuban, dikarenakan sesuatu dan lain hal.

“Kalau ke paguyuban sekarang sulit, kita lebih ke lembaga zakat. Pemulangan biasanya menggunakan kapal, tetapi kalau kondisinya memprihatinkan dan harus menggunakan pesawat ya kita gunakan pesawat. Seperti beberapa waktu lalu, ibu muda hamil dan jauh ke Lombok walupun mahal mau tidak mau ya kita pulangkan. Tetapi kalau bapak-bapak, remaja yang masih kuat kita belikan tiket kapal,” bebernya.

Dari berbagai macam kasus orang terlantar yang ditangani oleh Dinsospemas, sebagian besar merupakan tenaga kerja yang awalnya ditawari pekerjaan yang bagus di Kalimantan.

Kedatangan mereka ke pedalaman untuk bekerja di bidang perkayuan, perkebunan, dan pertambangan. Namun saat sudah berada di pedalaman Kalimantan Utara kondisinya tidak sesuai harapan.

“Mereka lari kebanyakan karena tidak digaji, fasilitasnya tidak ada sehingga tidak terurus. Kalau sudah ada seperti ini kita panggil instansi lain seperti tenga kerja untuk melakukan wawancara, apakah masih terikat dengan kontrak kerja dan lain sebagainya.

Kalau semuanya sudah beres, baru kita upayakan untuk memulangkannya,” ucapnya.
Jika ada orang terlantar yang dalam kondisi sakit akan dirawat terlebih dahulu, karena orang terlantar menjadi tanggungan pemerintah. Meskipun tanpa jaminan sosial, pengobatan dilakukan secara mandiri nantinya biaya di klaim ke pemerintah.

Kapasitas rumah singgah terbatas, rumah dua lantai tersebut hanya memiliki 7 kamar, masing-masing berada di lantai bawah ada 3 dan lantai atas 4 kamar.

Saat Koran Kaltara mencoba melihat kondisi rumah singgah, terdapat 4 pekerja asal Banten Jawa Barat yang mengaku terlantar karena tidak mendapatkan pekerjaan yang diharapkan. Bahkan mereka sudah 3 bulan belum mendapatkan gaji.

“Kami dipekerjakan oleh kontraktor, sudah ada 3 bulanan belum terima gaji tetapi kami sudah kas bon untuk dikirim ke Banten karena kondisi anak sedang sakit, itupun tidak banyak. Kami diajak kontraktor kerja disini tetapi memutuskan untuk pulang karena tidak sesuai seperti apa yang dijanjikan. Kami ada 4 orang dan semuanya ini adalah keluarga, ini sebagai pembelajaran,” ungkap Mamat Rahmat.

Untuk bisa sampai ke Tarakan, mereka menjual beras sisa di kamp. Selama di pedalaman Kaltara mereka juga makan seadanya bahkan harus menggunakan daun-daun yang ada di sekitar hanya untuk dijadikan sayur. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustafa

Editor: Rifat Munisa