Ruang Publik

Sekilas Gurauan Berujung Bullying Verbal “Bodyshaming”

Fitri Syawaliah
  • Oleh: Fitri Syawaliah

SAAT sedang asik kumpul bersama teman-teman begitu banyak pembahasan yang keluar dari mulut kita, tentu saja cerita, dan bercandaan menjadi pembahasan yang menyenangkan dalam suatu perkumpulan. Namun terkadang diantara kumpulan ada saja yang mengeluarkan kata-kata yang mungkin dapat menyakiti hati, walaupun anggapan awalnya hanyalah sebuah candaan.

Seperti kalimat “Eh badan kamu gemukan ya? Kok bisa?” “Eh kamu kok kurusan? Ngak makan ya?” Sekilas, mungkin anda  menganggap candaan tersebut hanya gurauan semata, namun taukah anda bahwa sebenarnya hal tersebut termasuk faktor yang dapat merusak psikis seseorang.

Ya benar adanya, candaan mengenai fisik seseorang merupakan salah satu bentuk bullying verbal, yang kerap kali tidak Anda sadari adalah perilaku bodyshaming. Istilah ini menggambarkan perilaku seseorang yang gemar mengomentari bahkan menyindir rekannya yang memiliki bentuk tubuh berbeda baik terlalu kurus maupun berbadan gemuk.

Bodyshaming, merupakan suatu perilaku mempermalukan seseorang dengan memberikan komentar atau kritik negatif tentang tampilan tubuhnya. Bodyshaming yang dilakukan oleh orang-orang terdekat sering kali masih dianggap sebagai wujud kepedulian agar korban bodyshaming lebih termotivasi untuk memiliki tubuh “bagus”, “tampan” atau “cantik” yang sesuai dengan standar masyarakat.

Sebaliknya, bodyshaming dapat memberikan dampak negatif dalam kehidupan korban, meskipun dilakukan dengan cara yang paling halus sekalipun. Karena, tidak semua orang bisa menerima komentar dan bodyshaming sebagai hal yang biasa dan wajar.

Seperti yang terjadi di Thailand. Seorang remaja berusia 17 tahun nekad bunuh diri di sekolah karena selalu dipanggil gendut oleh teman-temannya. Mengutip laman worldofbuzz.com, pada Jumat 10 Agustus 2018 lalu, terdapat rekaman detik-detik pelajar melompat dari lantai 5 gedung sekolahnya beredar di media sosial.

Hal tersebut dikarenakan dia tak kuasa menahan ejekan dari teman sekelasnya, lama kelamaan ia mulai menarik diri dari pergaulan dan kehilangan kepercayaan diri. Dalam rekaman terlihat, pelajar ini berjalan di sepanjang pinggiran banguanan sekolahnya.

Beberapa siswa melihatnya dari gedung yang lain,  namun awalnya mengira itu hanya lelucon dan tidak terpikirkan pelajar ini akan melompat. Para pelajar yang melihatnya ini terus mengobrol tetapi segera menyadari ada yang salah. Tanpa menengok ke belakang, pelajar tersebut terus berjalan hingga sampai diujung bangunan. Para pelajar lain yang melihatnya mulai berteriak berusaha mencegahnya.

Namun terlambat, pelajar yang depresi itu tetap melompat. Pelajar ini lantas dilarikan ke rumah sakit, tetapi luka yang terlalu parah membuatnya tidak tertolong. Pihak kepolisian menyelidiki penyebab bunuh dirinya dan banyak yang meyakini ini karena ia menerima ejekan dari teman-temannya.

Setelah tragedi tersebut, teman-temannya di sekolah mengaku menyesali perbuatannya dan memposting permohonan maaf di media sosial.

Salah satu dampak negatif yang ditimbulkan dari bodyshaming adalah rasa malu. Perasaan malu yang dialami oleh seseorang akan membuat ia selalu memandang dirinya kurang. Dalam penelitian lain, ditemukan bahwa bodyshaming berhubungan dengan gangguan depresi dan gangguan makan yang terjadi pada para remaja perempuan.

Nah sekalipun yang awalnya hanya dianggap sebagai bercandaan ataupun gurauan semata memiliki pengaruh yang besar terhadap kekuatan psikis si korban bisa saja hal tersebut sangat membuat si korban merasa stress berujung pada depresi dan bahkan memutuskan untuk bunuh diri ketika si korban tidak dapat menerima perlakuan tersebut.

Dan dapat kita ketahui dari judul di atas bahwa bodyshaming mempengaruhi kepercayaan diri, dimana yang sebelumnya kepercayaan diri dalam batas yang normal ketika diterimanya bodyshaming dari luar maka akan mengakibatkan menurunnya kepercayaan dalam diri, sama  seperti yang terjadi dalam kasus diatas, dan dapat kita bayangkan bagaimana bodyshaming memiliki dampak yang sangat buruk bagi orang lain.

Alangkah baiknya memang, kita mulai lebih peka terhadap sesama dan jangan pernah sekalipun merendahkan orang lain karena kita tidak pernah tahu kesulitan apa yang orang lain hadapi.

Di balik kerusakan yang ada tentu kita masih dapat menyembuhkan atau bahkan mencegah kerusakan yang terjadi, dan bagaimana caranya? Apa yang bisa kita lakukan?

(1) memilih dengan bijak ruang lingkup kita.

Ruang lingkup sangat mempengaruhi kepribadian, jika kita memiliki ruang lingkup yang positif maka akan terlahirlah dalam diri kita kepribadian yang juga positif, sehingga akan menghasilkan pemikiran yang sehat.

(2) belajar untuk mencintai diri sendiri. Diri sendiri adalah teman hidup kita selamanya, berusahalah untuk damai dengan diri sendiri ketika mengalami tekanan yang berat, jika Anda dapat memahami dalam artian damai dengan diri sendiri, maka semua tekanan hanya akan menjadi tantangan hidup Anda, bukan sebagai pemutus semangat hidup. Dan itulah cara kita mencintai diri sendiri, just be your self, and make it comfortable.

(3) ekspresikan apa yang kita rasakan. Mengekspresikan apa yang kita rasakan juga merupakan hal yang positif, memendam sesuatu terlalu lama tentu tidak baik untuk diri kita, sebaiknya jika Anda merasakan ada hal yang mengganjal dalam hati Anda.

Cobalah untuk mengomunikasikannya dengan metode yang wajar, ceritakan ke teman terdekat ataupun keluarga yang paling Anda percayai, atau juga bisa dengan cara mengalihkan kepada sesuatu yang lebih bermanfaat. Semisal Anda menyukai melukis, maka ekspresikanlah lewat lukisan itu, sehingga kita dapat mengekspresikannya dengan cara yang positif.

(4) temukan sisi positif dari dirimu. Di balik kelemahan tentu kita memiliki kelebihan dalam diri kita, namun kita lebih sering merasakan adanya kekurangan. Ada baiknya setiap kamu ingin tidur, maka catatlah atau pikirkanlah hal apa saja yang sudah kamu lakukan hari itu, bantuan apa saja yang kamu berikan kepada orang pada hari itu.

Dan,  ketika kamu bangun tidur pikirkanlah kembali hal tersebut, sehingga kamu merasa orang masih membutuhkanmu, sehingga kamu memiliki rasa tanggung jawab dan tujuan untuk hidup. (*)

*) Penulis adalah mahasiswi jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang asal Tarakan