Kaltara

Satu Melarikan Diri, Satu Masih Ditahan

Danlantamal XII Tarakan, Laksamana Pertama  Judijanto saat diwawancara sejumlah media soal kabar WNI yang diculik KBM Abu Sayyaf.  (Foto: Dicky Umacina/Koran Kaltara)
Dua WNI yang Dikabarkan Diculik Kelompok Abu Sayyaf TANJUNG SELOR, Koran Kaltara–Satu Warga Negara Indonesia (WNI) yang diduga menjadi sandera kelompok bersenjata milisi (KBM) Abu Sayyaf di Perairan Pulau Bodgaya, Semporna, Sabah bernama Usman Yusuf (35) akhirnya bebas. Usman yang merupakan warga Sulawesi Barat bebas dari sanderaan kelompok bersenjata asal Filiphina, bukan dibebaskan. Namun karena…
  • Dua WNI yang Dikabarkan Diculik Kelompok Abu Sayyaf

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara–Satu Warga Negara Indonesia (WNI) yang diduga menjadi sandera kelompok bersenjata milisi (KBM) Abu Sayyaf di Perairan Pulau Bodgaya, Semporna, Sabah bernama Usman Yusuf (35) akhirnya bebas. Usman yang merupakan warga Sulawesi Barat bebas dari sanderaan kelompok bersenjata asal Filiphina, bukan dibebaskan. Namun karena melarikan diri ke daerah hutan. Berbeda dengan Usman yang bisa bebas dan akhirnya berkumpul dengan keluarganya di Sulawesi Barat, rekannya bernama Samsul Saguni (40) saat ini masih ditahan.

“Satu ini sudah bebas karena kabur dan tinggal satu lagi. Tapi sebenarnya begini, tidak hanya warga kita yang diculik. Ada juga warga negara lain yang ditahan disana (Filiphina),” ujar Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlantamal) XIII Tarakan, Laksamana Pertama Laut (P) Judijanto,S.T, Senin (17/12/2018).

Dikatakan Danlantamal, hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan perintah khusus dari Mabes TNI untuk terjun langsung membebaskan WNI yang disandera tersebut. Karena saat ini, upaya diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah Filipina masih terus dilakukan. Akan tetapi, kata dia, pihaknya juga sudah sangat siap apabila suatu saat diminta terjun langsung untuk membebaskan kedua WNI tersebut.

“Kita hanya menunggu langkah-langkah selanjutnya saja. Pemerintah juga sekarang sedang melakukan tindakan-tindakan diplomasi. Kita tidak bisa masuk kesana (negara Filipina) tanpa ada persetujuan. Yang jelas, semua harus dilakukan (pembebasan) dengan tahapan-tahapan yang ada,” ujarnya usai mengikuti penyerahan Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) tahun Anggaran 2019 dan Alokasi Trasfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) di Gedung Gadis Provinsi Kaltara.

Dari kabar terakhir yang diterima oleh pihaknya, bahwa WNI yang masih ditahan hingga saat ini masih dalam keadaan hidup dan dibawa hingga ke daerah Filipina Selatan. Lanjut dia lagi, pihak keamanan negara Filipina juga saat ini sedang melakukan operasi pembebasan untuk WNI dan sandera lainnya. Bahkan, koordinasi melalui Maritim Comen Center (MCC) gencar dilakukan oleh pihaknya bersama dengan pihak Malaysia dan juga Filipina.

“Info terakhir, sementara ini masih selamat. Mereka semua masih ada di sana juga,” beber Judijanto.

Sebelumnya, kelompok bersenjata yang menyendera WNI itu menuntut tebusan senilai RM 4 juta atau setara dengan Rp 14,4 miliar.

Kabar mengenai adanya tuntutan tebusan itu, disampaikan oleh salah satu pelaku penculikan kepada istri salah satu korban melalui telepon pada 18/9 lalu. Akan tetapi, pemerintah saat ini masih melakukan upaya diplomasi, agar semua sanderaan tersebut bisa di bebaskan dengan selamat.

“Semua harus dilakukan dengan tahapan-tahapan yang ada. Upaya diplomasi juga saat ini sedang dilakukan. Penculikan ini mengindikasikan bahwa kelompok-kelompok ini masih ada dan masih eksis. Kita juga selalu mengantisipasi hal itu, supaya tidak terjadi lagi (penculikan WNI),” tutupnya. (*)

Reporter: Ramlan

Editor: Edy Nugroho

Artikel ini juga terbit di versi cetak Koran Kaltara edisi 18 Desember 2018