Tarakan

Saat Kabut Asap, Rambu-Rambu Laut Berfungsi dengan Baik

Foto: Ilustrasi/Internet
  • Masyarakat Diimbau Melapor Jika Temukan Lampu Suar Mati

TARAKAN, Koran Kaltara – Kabut asap yang membuat jarak pandang cukup pendek, membuat rentan terjadinya kecelakaan di laut, terutama tabrakan antar kapal. Namun berkat adanya rambu-rambu atau sarana bantuan navigasi pelayaran, maka aktivitas bisa berjalan dengan baik.

Distrik Navigasi Kelas III Tarakan memastikan jika rambu-rambu dalam kondisi yang sangat baik.

Selain dari faktor keselamatan kapal, sarana bantuan navigasi pelayaran juga sangat penting yang terdiri dari menara suar, rambu suar, bui, radio pantau, dan sistem pemosisi global. Jika ada bahaya, Kantor Distrik Navigasi Kelas III Tarakan akan langsung melakukan broadcast ke semua kapal, untuk berhati-hati bahwa di titik tertentu terdapat sesuatu hal yang dapat membahayakan pelayaran.

“Selama kabut asap impor kemarin, peralatan kita masih berfungsi secara baik. Tetapi kita juga harapkan peran serta masyarakat saat mengetahui ada lampu suar yang mati dapat segera melaporkan ke kami untuk segera diperbaiki dan diganti dengan yang baru. Supaya dapat memperlancar kembali alur pelayaran,” terang Kepala Kantor Distrik Navigasi Kelas III Tarakan, Faisal, Rabu (18/9/2019).

Dia menjelaskan, berbagai sarana bantuan navigasi pelayaran memiliki fungsi yang sama seperti rambu-rambu yang ada di darat agar para pelaut aman melakukan kegiatan pelayaran di laut. Kalau di Kaltara, bisa ke Bunyu, Nunukan, dan perairan sekitarnya dengan aman dan nyaman, karena dapat menghindari gusung, tabrakan antar kapal, maupun salah haluan.

Tidak dipungkiri oleh Faisal, bahwa terkadang lampu suar mati namun luput dari pantauan sehingga terkadang masyarakat yang melapor. Apalagi di Distrik Navigasi terdapat tim reaksi cepat untuk melakukan perbaikan sarana dan prasarana navigasi pelayaran yang rusak.

Kantor Distrik Navigasi Kelas III Tarakan yang berada di Jalan Yos Sudarso juga memiliki menara untuk melakukan pantuan kapal dan mendeteksi berbagai jenis kapal, mulai dari panjang dan lebar serta tujuan.

“Kita ada rangkaian peralatan untuk memantau semua alur pelayaran yang ada di sini sampai ke Tanjung Batu. Kapal apapun yang masuk kita sudah tahu, asal di kapal tersebut ada radionya akan terpantau oleh kita. Ruangan ini untuk mengatur lalu lintas kapal supaya tidak saling bertabrakan, termasuk saat kabut asap kemarin,” ungkapnya. (*)

Reporter : Sofyan Ali Mustofa

Editor : Didik Eri Sukianto