Tarakan

Rekam Biometrik Menyulitkan Jemaah Umrah

Kepala Kemenag Tarakan, Shaberah
TARAKAN, Koran Kaltara – Pemerintah kembali menggulirkan kebijakan bagi jemaah umrah yang akan melakukan ibadah di Tanah Suci. Jemaah kini harus melakukan rekam biometrik seperti saat membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik. Sayangnya, kebijakan ini belum didukung oleh peranti yang mumpuni karena belum semua daerah memilikinya. Bagi wilayah yang belum memiliki alat rekam biometric, otomatis…

TARAKAN, Koran Kaltara – Pemerintah kembali menggulirkan kebijakan bagi jemaah umrah yang akan melakukan ibadah di Tanah Suci. Jemaah kini harus melakukan rekam biometrik seperti saat membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik.

Sayangnya, kebijakan ini belum didukung oleh peranti yang mumpuni karena belum semua daerah memilikinya. Bagi wilayah yang belum memiliki alat rekam biometric, otomatis harus mendatangi kota yang sudah ada.

Mengingat di Kaltara belum ada, maka jemaah harus pergi ke Balikpapan, daerah terdekat yang sudah memiliki alat rekam. Hal ini membuat calon jemaah umrah harus mengeluarkan biaya ekstra.

Dikatakan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tarakan, Shaberah, kebijakan ini sebenarnya bukan murni dari pemerintah Indonesia, tetapi berasal dari Saudi Arabia.

“Sebenarnya ini bagus, jadi nanti sampai di Arab di bandara tidak lagi harus mengantre 2-3 jam hanya untuk melakukan rekam biometrik. Karena sudah dilakukan di Tanah Air, sehingga begitu tiba di Tanah Suci tinggal melakukan stempel paspor saja,” terangnya, Jumat (4/1/2019).

Untuk di Kaltara dan Kaltim yang sudah punya alat rekam hanya Balikpapan, maka semuanya terpusat di kota tersebut. Mau tidak mau masyarakat baik dari Tarakan, KTT, Malinau, Nunukan maupun Bulungan harus mengeluarkan ongkos pribadinya.

“Ini agak memberatkan memang, oleh karena itu kita dari Kementerian Agama Republik Indonesia minta penundaan kepada pemerintah Arab Saudi untuk memberlakukan ini sebelum alatnya lengkap di semua provinsi,” ungkapnya.

Program perekaman biometrik tak ubahnya seperti melakukan perekaman pada KTP elektronik, dengan melakukan scan retina mata, sidik jari, tanda tangan elektronik, dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk ibadah haji sudah dilakukan sejak 2018, tetapi karena terpusat di masing-masing embarkasi, sehingga untuk jemaah haji tidak ada masalah karena sebelum berangkat ke Tanah Suci bisa dilakukan proses rekam biometrik di embarkasi. (*)

Reporter: Sofyan

Editor: Rifat Munisa