Headline

Reflekasi Hari Anti Narkoba, 124 Kg yang Terungkap

Kapolda Kaltara, Brigjen Pol Indrajit saat mengintrogasi tersangka sabu, lantaran sudah menjadi momok menakutkan. (Foto : Ramlan/Koran Kaltara)
  • Sejak Polda Terbentuk, Peredaran Narkoba Jadi Perhatian Serius

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara –  Salah satu  problem sosial yang melilit Kaltara adalah peredaran narkoba. Menjadi wilayah perbatasan negara, provinsi bungsu ini kerap dijadikan sebagai jalur distribusi narkoba jenis sabu dari luar negeri ke sejumlah wilayah di Indonesia. Bahkan Kaltara juga menjadi sorotan nasional karena jumlah kasus yang terungkap dan motif yang digunakan dalam peredarannya.

Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) dijadikan sebagai reflekasi untuk memerangi penyalahgunaan barang haram ini. Dinilai seudah dalam status darurat narkoba, peringatan HANI yang jatuh pada 26 Juni (hari ini), tidak hanya dijadikan sebatas seremonial belaka. Terlebih penggunaannya sudah menjadi ancaman tanpa mengenal usia, termasuk sudah menyasar anak-anak dan dunia pendidikan.

Dari catatan Direktorat Resnarkoba Polda Kaltara, sejak tahun 2018 hingga saat ini, petugas sudah mengamankan 705 orang tersangka kepemilikan sabu, baik sebagai pengedar maupun yang mengkonsumsi. Sedangkan, untuk barang bukti berupa sabu yang diamankan sebanyak 124,6 kilogram (Kg).

Sejak mulai efektif dalam melaksanakan pengungkapan narkoba pada Mei 2018, Direktorat Resnarkoba Polda Kaltara sudah mengamankan 39 Kg sabu. Jumlah tersebut memang terbilang fantastis, mengingat lembaga ini baru terbentuk. Kapolda Kaltara, melalui Direktur Resnarkoba, Kombes Pol Adi Affandi mengatakan, dalam pengungkapan yang dilakukan jajarannya beserta jajaran Polres di wilayah hukum Polda Kaltara, wilayah Nunukan dan Kota Tarakan memang masih menjadi atensi. Dua daerah yang memiliki penduduk terbanyak di Kaltara ini menjadi perhatian karena jumlah kasus yang terkuak.

“Kalau selama ini, memang dua daerah itu yang paling kita atensi. Karena, di situ memang jalur favorit para kurir ini untuk menyelundupkan sabu-sabu mereka. Apalagi kan, dua daerah itu menjadi jalur menuju daerah lain,” katanya, kepada Koran Kaltara, Selasa (25/6/2019).

Menurut dia, narkotika saat ini sudah seharusnya dianggap sebagai kejahatan serius, terorganisir dan bersifat lintas negara. Apalagi, Kaltara yang secara geografis berada di garis perbatasan, menjadi lahan empuk bagi para bandar dalam memasukkan barang haram itu ke wilayah Indonesia lainnya.

Narkotika juga saat ini, dapat menimpa seluruh lapisan masyarakat. Sehingga dinilai akan mendatangkan kerugian yang sangat besar, terutama aspek kesehatan, sosial dan keamanan. “Kejahatan ini dapat menyebabkan hilangnya generasi bangsa, sebagai cikal bakal penerus pembangunan negeri ini. Daerah kita ini harus benar-benar mendapatkan perhatian serius, sebagai wilayah jalur peredaran,” ungkapnya.

Data dan hasil penangkapan jajaran Direktorat Resnarkoba dan seluruh jajaran Polres menunjukkan adanya upaya yang sudah sangat baik yang dilakukan untuk menyatakan perang melawan narkoba. Ditambah lagi, modus operandi dalam mengedarkan narkoba jenis sabu ini memang berbagai cara yang dilakukan oleh para pebisnis maupun para kurir. Berbagai bentuk olahan ataupun cara yang dilakukan untuk mengelabui oleh pihak yang berwajib. Sehingga, lanjut dia, perlu ada kejelian dari pihak berwajib, agar barang haram tersebut bisa diamankan.

“Pencegahan ini, harus dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat. Terutama memberikan informasi mengenai adanya aktivitas peredaran sabu di wilayahnya. Karena, daerah kita begitu banyak jalur-jalur yang memang sulit dideteksi oleh aparat. Sehingga, informasi dari masyarakat sangat membantu kami dalam melakukan pengungkapan,” tutupnya. (*)

Reporter : Ramlan

Editor : Nurul Lamunsari

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment