Bulungan

Pindah Tugas, Imelda Tinggalkan PR di PN Tanjung Selor

Foto: Ilustrasi/Internet

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara Kursi kepemimpinan Pengadilan Negeri (PN) Tanjung Selor bakal berganti lagi. Ketua PN yang sebelumnya, Imelda Herawati akan mengamban tugas baru sebagai kepala PN Tanjung Redeb, Berau. Hanya saja, sepeninggal Imelda yang memimpin PN Tanjung Selor selama kurang lebih 2 tahun, menyisakan pekerjaan rumah (PR) bagi pemimpin yang akan datang.

“Memang masih ada beberapa persidangan yang belum saya selesaikan. Salah satunya itu, kasus pencabulan yang hingga saat ini belum ada putusan. Karena salah satu saksi dalam kasus itu dalam keadaan sakit, sehingga persidangannya terpaksa kami tunda,” kata Imelda kepada Koran Kaltara.

Tidak hanya itu, kata dia, beberapa perkara perdata juga saat ini masih ada yang belum tuntas. Diungkapkannya, masih ada 7 perkara perdata yang hingga kini belum ada hasil. Sehingga itu akan menjadi tanggung jawab dari kepemimpinan PN Tanjung Selor yang baru. “Rata-rata masalah gugatan. Tapi tergugatnya ini tidak diketahui tempat tinggalnya. Makanya, semua harus melalui panggilan umum. Sedangkan pemanggilan umum itu, dua kali dalam satu bulan. Jadi itu yang tidak sempat terselesaikan,” bebernya.

Selama ia memimpin PN Tanjung Selor, presentase penyelesaian perkara sudah mencapai 93 persen. Dengan angka itu, PN Tanjung Seor berada di urutan tertinggi di lingkup Kaltim dan Kaltara untuk persoalan penyelesaian perkara.

Dirinya berharap selepas dirinya apa yang dicapainya itu tetap bertahan atau lebih ditingkatkan. Sebagai dampaknya PN Tanjung Selor mendapatkan ganjaran reward dari Mahkamah Agung. “Kita harapkan itu masih bisa diraih walaupun kepemimpinan berganti,” harapnya.

Dia menambahkan, perkara dominan yang kebanyakan di putuskan masih masalah narkotika. Dimana vonis yang paling tinggi yang pernah diberikan adalah hukuman mati. Selanjutnya adalah masalah pencabulan yang beberapa akhir ini marak terjadi di Kabupaten Bulungan. Sedangkan, lanjut Imelda, hukuman untuk pelaku cabul hampir rata-rata di atas 10 tahun. Apalagi, jika pelaku dan korban ada hubungan keluarga, tentu hukuman juga akan lebih berat lagi.

“Ketentuan undang-undang nya sendiri untuk pelakunya yang masih keluarga. Itu malah ditambah misalnya 15 tahun maka ditambah sepertiganya jadi 20 tahun,” tutupnya. (*)

Reporter : Ramlan
Editor : Eddy Nugroho