Ruang Publik

Perubahan Iklim dan Ketahanan Sumber Daya Air

Aris Subagiyo
  • Oleh: Aris Subagiyo

PERUBAHAN iklim merupakan isu yang selalu hangat, hampir tidak pernah luput dari perhatian publik secara global untuk disikapi, dihadapi dan dicarikan solusi terbaik. Berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi dengan indikasi suhu dan distribusi curah hujan, telah membawa dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan manusia.

International Panel Climate Change (IPCC) (2001), Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada pada daerah tropis merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim merupakan dampak lanjutan dari pemanasan global yang berjalan terus menerus yang dirasakan dalam waktu yang cukup lama yaitu kurun waktu 30 tahun atau lebih.

Unsur & Dampak Perubahan Iklim

Perubahan iklim terlihat dari perubahan empat unsur yaitu suhu udara, curah hujan, kelembaban udara, dan tekanan udara. Namun, unsur iklim yang sering dipakai hanya suhu dan curah hujan, unsur iklim lainnya seperti kelembaban udara dan tekanan udara yang dipengaruhi oleh cahaya dan angin sangat jarang digunakan sebagai klasifikasi iklim.

Cahaya tidak digunakan dasar klasifikasi iklim meskipun penerimaan cahaya akan memberikan perbedaan intensitas. Begitu juga lama penyinaran sesuai dengan posisi lintang bumi. Pembagian zona iklim berdasarkan cahaya matahari ini akan sama dengan pembagian zona iklim berdasarkan cahaya akan sama dengan pembagian bumi berdasarkan garis-garis lintang yang ada.

Angin juga tidak digunakan sebagai dasar klasifikasi perubahan iklim, walaupun angin juga beragam baik arah maupun kecepatannya, karena pembagian zona iklim berdasarkan angin akan sulit untuk dilakukan karena tidak konsistensinya perilaku angin.

Sehingga dasar klasifikasi terjadinya perubahan iklim dapat dilakukan pada suhu udara dan curah hujan saja.

Peningkatan suhu bumi akan mengakibatkan cadangan air di atmosfer meningkat sehingga mengurangi ketersediaan air di dalam tanah, khususnya pada saat musim kemarau. Lalu pada saat suhu atmosfer menurun, akan terjadi hujan yang intens. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya frekuensi dan intensitas terjadinya badai tropis dan kejadian ekstrim lainnya.

Peningkatan suhu juga berdampak pada air dengan cara membentuk lingkungan untuk bakteri, protozoa dan algae untuk tumbuh sehingga dapat menyebabkan penyakit dan kematian, khususnya pada anak-anak (UNICEF, 2013).

Pada saat musim kemarau ekstrim, akan ada lebih banyak air yang menguap dari tanaman, hewan, dan manusia ke atmosfer sehingga permintaan akan air pun akan meningkat sedangkan ketersediaan air tidak mencukupi.

Dampak perubahan iklim yang berpengaruh terhadap sumber daya air, baik langsung atau tidak langsung antara lain: 1) meningkatnya intensitas curah hujan pada musim basah (extreme reinfall); 2) meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir (extreme flood); 3) berkurangnya curah hujan dan debit sungai pada musim kemarau serta bertambah panjangnya periode musim kering (drought); 3) meningkatnya temperatur yang diikuti gelombang panas (head waves); 4) perubahan ekosistem dan layanan ekosistem; 5) meningkatnya intensitas dan frekuensi badai (tropical cyclone); serta 6) meningkatnya tinggi gelombang dan abrasi pantai, dan meningkatnya intrusi air laut. Akibat dari dampak perubahan iklim tersebut adalah krisis air bersih perkotaan, kerawanan pangan, meningkatnya frekuensi penyakit serta perubahan pola curah hujan.

Dalam periode 2010-2017, terjadi peningkatan 887 kejadian bencana hidrometeorologi dengan bencana iklim hidrologi antara lain banjir, longsor, kekeringan, angin puting beliung, kebakaran hutan, gelombang pasang dan abrasi.

Terganggunya Siklus Hidrologi

Air merupakan unsur penting pendukung kehidupan di semesta. Air mendukung kehidupan alam, sosial dan ekonomi. Manusia membutuhkan air untuk mengairi lahan pertanian, untuk mendukung operasional industri, untuk menghasilkan energi dan lainnya.

Perubahan iklim sangat memengaruhi ekosistem bumi, kehidupan, serta kesejahteraan masyarakat. Perubahan iklim menimbulkan efek yang sangat besar bagi pembangunan dan keamanan manusia (UN Water, 2010). Perubahan iklim menyebabkan perubahan siklus air, kenaikan suhu bumi, kenaikan muka air, dan terjadinya iklim ekstrim.

Perubahan iklim akan mengubah siklus hidrologi, permintaan serta ketersediaan akan sumber daya air. Sebagai contoh, perubahan iklim menyebabkan penguapan air tanah dan air laut terjadi lebih besar, akibatnya atmosfer akan dapat menampung 4 persen lebih banyak air untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat Fahrenheit (UCSUSA, 2010).

Perubahan siklus hidrologi akibat perubahan iklim akan berdampak pada ketersediaan sumber air dari sisi frekuensi, intensitas, dan distribusi presipitasi air, air tanah, glasier dan lelehan salju, sungai dan aliran air tanah, serta memicu penurunan kualitas air.

Diperkirakan terjadi beberapa dampak negatif seperti peningkatan frekuensi banjir pada sebuah daerah dan kekeringan parah pada daerah lainnya. Tingkat pengaruh dari perubahan siklus hidrologi ini berbeda pada setiap daerah.

Siklus hidrologi memengaruhi kemampuan sumber air untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan lingkungan dalam segi kuantitas dan kualitas. Perubahan iklim dapat menyebabkan meningkatnya intensitas presipitasi, mengakibatkan meningkatnya air limpasan tetapi air tanah tidak optimal terisi.

Berkurangnya glasier, mencairnya es di kutub, dan berubahnya presipitasi dari salju ke hujan dengan kemungkinan besar memengaruhi alur musim. Musim kemarau yang lebih panjang akan mengurangi kadar air tanah, aliran air di sungai, dan memengaruhi ketersediaan air untuk agrikultur, pabrik, produksi energi, serta air minum.

Meningkatnya intensitas hujan, melelehnya es glasier dan penebangan hutan secara massal akan meningkatkan erosi tanah dan mengambil nutrisi tanah. Perusakan yang terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati dan nabati serta merusak ekosistem (UN Water, 2010).

Perubahan Iklim dan Ketersediaan Air

Perubahan iklim berpengaruh pada terjadinya kenaikan muka air laut yang disebabkan karena mencairnya es maupun gletser yang berada di Benua Artik akibat meningkatnya suhu global. Melelehnya es dan glasier mengakibatkan naiknya permukaan air laut. Temperatur yang lebih tinggi berujung pada meningkatnya suhu air laut yang berkontribusi pada meningkatnya permukaan air laut dan banjir.

Perkiraan terbaru menyatakan bahwa Greenland dan Antartika kehilangan sekitar 150 hingga 250 kilometer kubik es per tahun (NASA) serta es di laut arktik berkurang sebesar 13,3 persen per decade (NASA).

Bumi yang 2/3-nya merupakan lautan seiring dengan kenaikan muka air laut tentunya akan menggeser proporsi perbandingan luas lautan dan daratan dengan proporsi luasan perairan lautan yang cenderung bertambah.

Kenaikan muka air laut karena volume air laut yang bertambah, maupun penurunan muka air tanah akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan akan berpengaruh pada kawasan permukiman.

Contohnya, turunnya permukaan tanah (land subsidence) di Jakarta Utara yang menjadikan kawasan permukiman berada pada batas sejajar atau di bawah level perairan Teluk Jakarta yang mengancam terjadinya banjir. Sehingga perlu upaya struktural membangun tanggul untuk mencegah masuknya air laut ke dalam kawasan permukiman.

Kemungkinan perubahan pola hujan yaitu mundurnya awal musim hujan satu bulan yang berdampak pada penurunan produksi padi di Jawa/Bali antara 7-18 persen (Naylor et al, 2006). Selanjutnya lama masa tanam dan indeksi penanaman menurun (kurva curah hujan berdasarkan periodisasi waktu lebih ramping).

Hal ini berakibat frekuensi banjir meningkat karena titik tertinggi kurva di atas batas normal (intensitas curah hujan sangat tinggi) dan kekhawatiran di akhir periode kurva ini adalah meningkatnya frekuensi kekeringan.

Di sinilah pentingnya optimasi manajemen sumber daya air. Kelebihan air (banjir) maupun kekurangan air (kekeringan) seringkali terjadi pada waktu yang bersamaan namun berbeda lokasi. Buruknya manajemen ruang yang berkaitan dengan sumber daya air yaitu ketika terdapat air dalam jumlah besar (too much) kita tidak mampu menampung atau menyimpannya, dan ketika musim kemarau ketersediaan air tidak mampu mencukupi kebutuhan (too little).

Manajemen sumber daya air dikatakan baik apabila musim hujan air optimal ditampung/disimpan dan tidak terjadi banjir sedangkan pada musim kemarau ketersediaan air terjaga (baik air permukaan maupun air tanah).

Rencana Aksi Nasional Tanggap Perubahan Iklim – Sumber Daya Air

Perang terhadap perubahan iklim memerlukan kolaborasi dari berbagai solusi, karena perubahan iklim disebabkan multiaspek. Perubahan iklim menyebabkan air tanah semakin berkurang serta kenaikan ari laut yang disebabkan mencairnya es di kutub memicu instrusi air laut ke daratan sehingga mencemari sumber air bersih dan irigasi.

Berikut adalah program dan inisiatif berupa rencana aksi yang bisa diimplementasikan antara lain: 1) mengadakan inventarisasi tempat pengambilan air baku untuk air minum di sungai (intake) dan daerah irigasi yang terkena dampak kenaikan muka air laut dan mengidentifikasi upaya-upaya penanganannya; 2) memperbaiki jaringan hidrologi di tiap wilayah sungai sebagai pendeteksi perubahan ketersediaan air maupun sebagai perangkat pengelolaan air dan sumber air.

Kemudian, 3) menginventarisasi DAS yang mengalami pencemaran namun tingkat penggunaan airnya sangat tinggi untuk ditentukan prioritas penanganannya; 4) melaksanakan program pembangunan situ, embung dan waduk sebagai sarana penyimpan air dimusim hujan sehingga bisa dimanfaatkan dimusim kemarau; 5) melanjutkan gerakan hemat air untuk segala keperluan air minum, domestik, pertanian, industri, pembangkit listrik, dan sebagainya.

Lalu, 6) meningkatkan daya dukung DAS dengan mencegah kerusakan dan memperbaiki daerah tangkapan air sebagai daerah resapan air melalui upaya konservasi lahan, baik dengan metode mekanis (misal: pembuatan terasering dan sumur resapan) maupun vegetatif; 7) mengembangkan teknologi dam parit yang dibangun pada alur sungai untuk menambah kapasitas tampung sungai, memperlambat laju aliran dan meresapkan air ke dalam tanah (recharging); 8) melembagakan pemanfaatan informasi prakiraan cuaca dan iklim secara efektif dalam melaksanakan operasi dan pengelolaan air waduk/dam sehingga dapat menekan risiko kekeringan dan kebanjiran lebih efektif.

Selanjutnya, 9) mengadakan perubahan pola operasi dan pemeliharaan waduk dan bangunan pelengkap/penunjangnya untuk menyesuaikan dengan adanya peningkatan intensitas hujan dan berkurangnya curah hujan sebagai dampak adanya perubahan iklim; 10) melakukan penelitian geohidrologi untuk mengetahui cekungan-cekungan air tanah, sehingga dapat dibangun dan dipertahankan situ-situ, danau-danau, dan pembangunan resapan air serta penampungan air, baik di gedung-gedung maupun di dalam tanah.

Kemudian, 11) perlu dikembangkan teknologi yang dapat memanfaatkan air laut menjadi air yang dapat diminum serta upaya daur ulang air; 12) perlu perencanaan dan pelaksanaan strategi nasional pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan meliputi inventarisasi dan rehabilitasi lahan. (*)

*) Penulis adalah dosen jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya Malang