Nunukan

Pertumbuhan Tanaman Mangrove Capai 80 Persen

Lokasi penanaman bibit mangrove di pesisir Sei Nyamuk. (foto: Asrin/Koran Kaltara)
  • Biaya Penanaman Rp1,2 Miliar Dianggarkan APBD Kaltara

NUNUKAN, Koran Kaltara – Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara masih melakukan pengawasan penanaman pohon mangrove di pesisir Sei Nyamuk dan Tanjung Harapan, Pulau Sebatik, Nunukan.  Berdasarkan hasil penilaian Dishut Kaltara,  tingkat tumbuh tanaman pohon mangrove sudah mencapai 82,05 persen. Penilaian itu diatas target pertumbuhan minimal sebesar 75 persen.

“Kan, 75 persen sudah dilakukan pemeliharaan sampai tahun kedua (Desember 2021). Pemeliharaan tahun pertama  pada Juni 2020, yaitu penyulaman 20 persen dari jumlah bibit yang ditanam tahun 2019,” ungkap Kasi Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) Dishut Kaltara, Nustam kepada Koran Kaltara, Senin (27/1/2020).

Dia mengakui ada tanaman mati, tetapi tidak sampai 20 persen. Namun sudah dilakukan penyulaman.

“Sekarang masih masa pemeliharaan sampai Februari. Kami selalu monitoring. Mulai awal penanaman bibit. Kemudian, pembibitnya seperti apa. Itu semua sudah sesuai  juknisnya dan prosedur,” ungkapnya.

Dia menjelaskan untuk menaman bibit perlu dilakukan persemaian bibit. Setelah dinilai layak tanam atau minimal sudah 30 centi dan memiliki empat daun, maka sudah bisa ditanam.

“Dari segi pengakaran sudah bagus. Itu sudah bisa ditanam. Kami pantau terus,” jelasnya.

Menurut dia,  di Pulau Sebatik, ada 35 hektar terbagi dua petak. Petak pertama seluas 16,23 hektar. Dan petak kedua seluas 19,19 hektar.  Total keseluruhan bibit di dua petak sebanyak 127.050 pohon.

“Semua bibit kita tanam jenis api-api. Kan, mangrove itu banyak jenis. Kami tanam sesuai kondisi tempat tumbuh disitu. Karena kita memperhatikan daya tumbuh kuatnya. Jadi yang perlu diperhatikan terlebih dulu, yakni kesesuaian lahannya ” jelasnya.

Dia mengungkapkan, bahwa penanaman mangrove tersebut menelan anggaran Rp1,2 miliar dari APBD Kaltara. Ini untuk mencegah abrasi. ” Kalau Pemda mau mengarahkan wisata mangrove lebih bagus lagi,” tuturnya.

Sementara itu, teknisi penanggungjawab lapangan proyek bibit, Andi Luluk mengatakan bahwa semua bibit diambil dari penangkaran di Sebatik. Seperti penangkaran Desa Aji Kuning, Sei Pancang, Sungai Nyamuj, Tanjung Harapan, Balansiku, Desa Tembaring dan lain-lain. “Sebenarnya masih banyak penangkaran di Sebatik. Malahan, yang kecil-kecil sekali diangkut tidak terhitung,” tambahnya.

Menurut dia, penangkaran itu sudah ada sejak 9 tahun lalu. Sebelum proses lelang mangrove, penangkaran sudah standby.

“Kita bisa lihat fakta di lapangan, namanya tumbuhan, ada hidup dan ada yang mati. Kita masih melakukan pemeliharaan. Kita menyulam terus.  Kami buktikan di dalam beberapa penangkaran. Mana yang mati, kami sulam,” bebernya.

Dia menjelaskan,  apabila air surut, terlihat hanya bambunya. Namun saat air pasang, maka semua bibitnya akan terlihat. “Bahkan, laporan dari teman-teman yang menyulam, sudah tumbuh pucuknya. Kalau yang mati,  jumlahnya tidak seberapa,” kata dia. (*)

Reporter : Asrin

Editor : Sobirin