Ekonomi Bisnis

Penyaluran Kredit di Kaltara Tumbuh 3,11 Persen

KPw BI Kaltara mencatat, sektor perdagangan menjadi salah satu lapangan usaha yang menyerap  penyaluran kredit terbesar di Desember 2019. (Foto : Agung/Koran Kaltara)
  • Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Serap Porsi Terbesar

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Posisi kredit atau pembiayaan yang disalurkan oleh bank di Kalimantan Utara, tercatat tumbuh positif 3,11 persen secara year on year (yoy) pada Desember 2019. Atau dari Rp9,81 triliun menjadi Rp10,12 triliun. Demikian disampaikan Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltara, Yufrizal dalam keterangan resminya terkait Perkembangan Inflasi, Perbankan, Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah KPw BI Provinsi Kaltara, Kamis (6/2/2020).

Menurut jenis kegiatannya, pangsa kredit perbankan konvensional pada Desember 2019 berada di angka 93,66 persen. Sedangkan untuk pangsa pembiayaan perbankan syariah sebesar 6,34 persen terhadap total kredit/pembiayaan perbankan di wilayah kerja KPw BI Provinsi Kaltara.

“Khusus untuk bank yang berlokasi di Kota Tarakan, pangsa kredit perbankan konvensional sebesar 91,30 persen dan pangsa perbankan syariah sebesar 8,70 persen,” ujarnya.

Dijelaskan Yufrizal, pertumbuhan penyaluran kredit masih didukung kualitas yang terpantau aman. Kondisi ini ditandai dengan Non Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah di level 1,25 persen. Kendati sedikit mengalami peningkatan dibanding bulan sebelumnya dengan NPL 0,81 persen, NPL di Bulan Desember masih di bawah ambang batas aman yang ditetapkan BI sebesar 5 persen.

“Khusus untuk Kota Tarakan, posisi kredit bulan Desember 2019 turun sebesar -0,64 persen (yoy). Yaitu dari Rp4,04 triliun menjadi Rp4,02 triliun dengan NPL sebesar 1,05 persen. NPL tersebut membaik dari bulan sebelumnya,” ujar Yufrizal.

Berbicara penyerapan kredit per sektoral, dijabarkan Yufrizal, lapangan usaha Perdagangan, Hotel, dan Restoran memiliki posisi kredit dengan pangsa sebesar 22,25 persen. Dibandingkan bulan yang sama di tahun sebelumnya, diketahui terdapat pertumbuhan 9,19 persen pada sektor ini.

“Utamanya disebabkan kenaikan pada pinjaman sub lapangan usaha Perdagangan Eceran barang makanan, minuman,  tembakau dan perdagangan eceran bahan konstruksi,” imbuhnya.

Senada hal tersebut, lapangan usaha industri pengolahan pada Bulan Desember 2019 memiliki posisi kredit dengan pangsa sebesar 6,58 persen. Meskipun masih terkontraksi pada periode tersebut, namun diketahui mulai membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar -7,66 persen.

“Kondisi ini utamanya terjadi pada pinjaman sub lapangan usaha industri pengolahan dan pengawetan ikan, industri minyak mentah dari hewani atau nabati, industri mesin untuk pertambangan, penggalian, dan konstruksi,” ujar Yufrizal.

Di sisi lain, lapangan usaha pertanian dengan pangsa 13,22 persen dari total kredit, megalami pertumbuhan sebesar 24,78 persen (yoy). Kondisi ini didorong oleh peningkatan pinjaman sub lapangan usaha perkebunan kelapa sawit.

“Adapun untuk Desember 2019, pertumbuhan tertinggi ditunjukkan oleh lapangan usaha jasa kesehatan dan sosial yang tumbuh 673,06 persen. Namun demikian, sektor ini memiliki bobot kredit yang relatif kecil,” lanjut Yufrizal.

Berdasarkan penggunaannya, kredit atau pembiayaan untuk tujuan konsumsi memiliki pangsa terbesar hingga 40,31 persen, atau senilai Rp4,07 triliun. Kredit/pembiayaan tersebut tumbuh sebesar 11,24 persen (yoy). Selanjutnya, kredit atau pembiayaan modal kerja memiliki pangsa 38,62 persen atau senilai Rp3,91 triliun. Pada sektor ini terjadi penurunan sebesar -3,10 persen (yoy).

“sementara pada kredit atau pembiayaan untuk investasi memiliki pangsa 21,07 persen, atau senilai Rp2,13 triliun. Pada sektor ini terjadi pertumbuhan sebesar 0,84 persen (yoy).

Selain itu, rasio kredit atau pembiayaan terhadap Dana Pihak Ketiga atau Loan to Deposit Ratio (LDR) di Provinsi Kaltara pada bulan Desember 2019 tercatat sebesar 81,12 persen. Atau lebih rendah dari bulan November 2019 yang berada pada angka 79,66 persen.

“Angka ini menunjukkan bahwa nilai kredit/pembiayaan yang disalurkan meningkat dibandingkan periode sebelumnya,” jelas Yufrizal. (*)

Reporter: Agung Riyanto
Editor: Rifat Munisa