Bulungan

Pengusaha PAH Wajib Miliki Nomor Kontrol Veteriner

Foto: Ilustrasi/Internet

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara Bagi para pengusaha produk pangan asal hewan (PAH) yang ingin menyasar target konsumen dengan skala besar,  wajib didukung dengan adanya kepemilikan atau kepengurusan sertifikat Nomor Kontrol Veteriner.

Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara Andi Santiaji. Adanya sertifikat tersebut, kata Andi, menjadi bukti bahwa produk yang dijual sudah memenuhi standar kesehatan yang ditentukan.

“Itu salah satu bukti produk yang dijual sudah terjamin kesehatannya,” ucapnya kepada Koran Kaltara. Selain itu, melalui sertifikat tersebut juga akan memudahkan para pengusaha menyasar target konsumen dengan skala besar. Seperti di perusahaan perkebunan, tambang dan orientasi pasar luar negeri. “Kalau sudah ada sertifikat itu pengusaha bisa lakukan kerja sama kepada pemasok termasuk ekspor ke luar negeri,” jelasnya.

Pemberian sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner ini kata dia, bertujuan mewujudkan jaminan produk pangan asal hewan (PAH) yang memenuhi persyaratan aman, sehat, utuh, dan halal bagi yang diperyaratkan. Selain itu, tujuan berikutnya adalah memberikan perlindungan kesehatan dan ketenteraman batin bagi konsumen produk PAH.  Dari sisi pelaku usaha, adanya sertifikat itu akan meningkatkan daya saing produk ternak domestik, serta memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha produk PAH.

“Sertifikat ini kenapa wajib di miliki, karena sebagai upaya meminimalisir peredaran makanan berbahaya bagi masyarakat, selain itu jika ada suatu kasus masalah keamanan pangan, adanya NKV dapat mempermudah dalam melakukan penelusuran,” katanya.

Unit usaha yang wajib memiliki sertifikat tersebut, kata dia, adalah pelaku usaha pangan asal hewan yang dilakukan perorangan atau badan hukum Indonesia. Seperti rumah potong hewan, usaha budidaya unggas petelur dan usaha pengolahan pangan asal hewan. Selain itu pelaku usaha distribusi dan atau usaha ritel pangan asal hewan, meliputi pelaku usaha yang mengelola gudang pendingin (cool storage), dan toko/kios daging (meet shop). Juga elaku usaha yang mengelola unit pendingin susu (milk cooling centre) dan gudang pendingin susu dan Pelaku usaha yang mengemas dan melabel telur. (*)

Reporter : Ike Julianti
Editor : Eddy Nugroho