Ekonomi Bisnis

Pemerintah Upayakan Distributor Daging Beku Legal Bertambah

Foto: Ilustrasi/Internet

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop) Kaltara, Hasriyani menyampaikan, pemerintah terus berupaya meningkatkan kuantitas distribustor daging beku resmi di bawah Badan Urusan Logistik (Bulog).

Sepanjang tahun 2019, keberadaan distributor resmi daging beku diharap dapat menekan peredaran daging beku ilegal yang selama ini masuk dari wilayah perbatasan. Pihaknya terus berupaya mempromosikan lokasi penjualan daging beku resmi kepada konsumen. Baik dari kalangan masyarakat dan juga para pelaku usaha. Dengan begitu, kuantitas penjualan bisa terserap maksimal dari kuota daerah yang disediakan.

“Di lapangan kita juga tetap intens lakukan pengawasan. Karena jangan sampai masih ada daging beku ilegal yang diperjualbelikan,” kata Hasriyani saat dikonfirmasi Koran Kaltara, Rabu (20/11/2019).

Selain itu, pihaknya juga terus mensosialisasikan pedagang eceran di pasar dan pusat perbelanjaan lain untuk membeli daging beku impor merek “Alana” ini pada distributor resmi yang ditunjuk Bulog. Secara teknis, pihaknya sudah rutin menginformasikan ketentuan tersebut kepada para pedagang. Baik dalam kegiatan sosialisasi atau saat sidak di lapangan.

“Kuncinya memang juga ada di pedagang. Kalau semua membeli pada distributor resmi yang ditunjuk, sebenarnya peredaran daging beku ilegal ini bisa berhenti dengan sendirinya. Jangan sampai karena faktor daging beku ilegal ini yang mungkin lebih murah, para pedagang berani ambil risiko. Karena terakhir pengawasan kemarin di Tarakan saja, daging ilegal ini masih ditemui,” tambah Hasriyani.

Terkait kuantitas distributor resmi yang menjadi mitra Bulog, ia tidak menampik jika belum merata. Untuk saat ini, hanya Kota Tarakan dan Kabupaten Bulungan saja yang memiliki distributor resmi. Jumlahnya pun satu di setiap daerah.

Kendati demikian, pada tahun 2019 ini, direncanakan ada tiga distributor baru di bawah koordinasi Bulog. Diharapkan, realisasi dari rencana tersebut turut membantu pedagang mendapatkan daging beku legal secara mudah. Terutama saat momen tertentu dimana ada kenaikan permintaan masyarakat.

“Sampai pertengahan 2019 kemarin, memang baru dua distributor yang bermitra dengan Bulog. PT Alya Jaya Abadi di Bulungan dan PT Sri Kencana Lestari di Tarakan. Kita menargetkan jumlah distributor bisa terus bertambah dan merata di seluruh kabupaten dan kota,” target Hasriyani.

Berbicara soal pengawasan ke depan di lapangan, dirinya memastikan akan terus dilakukan dengan melibatkan antar stake holder terkait. Baik di sektor hulu hingga hilir pendistribusian. Diharapkan dengan adanya tindakan hukum yang berat, bisa membuat oknum penyelundup jera.

“Berbicara pengawasan ini sudah dan akan terus konsisten kita lakukan. Pemetaan dan analisa serta evaluasi juga kita pikirkan. Jadi jangan sampai permasalahan yang bisa disebut klasik ini terus berlarut di 2019. Kalau memang pedagang tidak bisa menunjukkan bukti resmi pembelian dari distributor yang ditunjuk. Barangnya langsung disita dan proses hukumnya tentu pasti ada,” lanjut Hasriyani.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara, Andi Santiaji mengatakan, masyarakat dan pelaku usaha makanan olahan seyogyanya sudah harus lebih selektif ketika membeli daging beku. Senada dengan Hasriyani, Andi juga menegaskan, jangan sampai selisih harga membuat masyarakat memilih daging beku ilegal tersebut.

“Sebenarnya merk nya ini sama. Tapi yang resmi itu melalui skema impor dari Jakarta melalui Bulog dan lewat Karantina.  Kalau yang ilegal, selama ini masuknya tidak jelas,” jelas Andi.

Dari sisi kesehatan, Andi menjelaskan, daging beku ilegal berbahaya ketika dikonsumsi. Baik karena tidak jelasnya tanda kadaluwarsa dan standarisasi pengiriman yang tidak sesuai ketentuan. Di sisi lain, daging beku ilegal rata-rata juga dari jenis yang tidak laku dan dijual kembali di Kaltara.

“Kalau kita bilang, sistem pendinginan daging ilegal dari sana kesini kan tidak jelas. Banyak kuman dan bakteri yang bisa muncul disana. Itu yang membuat bahaya kalau dikonsumsi,” tegas Andi. (*)

Reporter : Agung Riyanto

Editor : Rifat Munisa