Ekonomi Bisnis

Pemerintah Dilema Menghadapi Pedagang Pasar Sore

Foto: Ilustrasi/Internet
  • Masyarakat Diminta Pro Aktif

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Pemerintah tampaknya kesulitan dalam merelokasi para pedagang pasar sore yang ada di kawasan Jl Suprapto, Kelurahan Tanjung Hulu. Karena sejak tahun 2016 silam hingga saat ini aktivitas jual beli yang ada di pasar tersebut terlihat semakin bertambah.

Untuk diketahui, pasar tersebut menyalahi aturan karena memanfaatkan trotoar jalan, yang sejatinya untuk pejalan kaki.

“Untuk sosialisasinya sudah sering kita lakukan. Baik dari Disperindagkop maupun dari Satpol PP, tapi masih ada yang berjualan,” ungkap Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kabupaten Bulungan, Ajer Supriyono.

Pihaknya terus berupaya agar aktivitas pedagang itu dipindahkan, karena saat ini Pasar Induk sudah siap untuk menampungnya. Yang terpenting ada desakan dari masyarakat sekitar, yang menyatakan bahwa di depan rumahnya tidak diperkenankan ada yang berjualan. Selain mengganggu, juga efek yang ditimbulkan berupa sisa buangan dari pedagang turut mengganggu pemandangan jalan.

“Kita memanggil ketua RT untuk membicarakan pemindahan pasar sore. Kalau ada tekanan dari masyarakat setempat tentu bisa secepatnya dilakukan pemindahan. Tapi yang kita lihat warga setempat menerima saja, sebetulnya kita sangat dilema menghadapi padagang pasar sore,” jelasnya pada Koran Kaltara.

Sehingga kata dia para pedagangnya tetap bertahan untuk berjualan di kawasan itu. Kalau soal penindakan pihaknya telah menyerahkan sepenuhnya ke Satpol PP selaku pihak penegak perda.

“Yang dipantaunya selama ini, dari puluhan pedagang yang berjualan di pasar sore, ada beberapa pedagang pasar subuh,” ucapnya.

Untuk memindahkan pasar sore ke Pasar Induk ini, tentunya dibutuhkan dukungan semua pihak, terutama warga setempat. Kalau hanya berasalan berjualan di atas trotoar dan merampas hak penjalan kaki, dia khawatir para pedagang berdalih masih banyak trotoar selain Jalan Suprapto yang tidak difungsikan masyarakat untuk dilalui

“Ditakutkan warga memberontak, karena banyak trotoar jalan yang tidak dilewati pejalan kaki,” pungkasnya. (*)

Reporter : Ike Julianti

Editor : Rifat Munisa