Nunukan

Pelaku Karhutla Bisa Diancam Penjara

Salah satu kasus Karhutla di Pulau Nunukan belum lama ini. (foto: Asrin/Koran Kaltara)

NUNUKAN, Koran Kaltara – Maraknya kasus kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) di Provinsi Kaltara, membuat sejumlah instansi pemerintah lebih waspada. Begitu juga di Kabupaten Nunukan, yang berpotensi besar terjadi Karhutla.

Hal ini membuat Kapolres Nunukan, AKBP Teguh Triwantoro tidak tinggal diam. Disetiap agendanya, dia terus mengingatkan masyakat mengenai bahaya dan dampak karhutla. Bahkan, belum lama ini, telah mengeluarkan imbauan sekaligus peringatan mengenai Karhutla.

Dalam imbauan itu, Kapolres menyampaikan bahwa pelaku pembakaran hutan dan lahan bisa dikenakan pidana penjara. Seperti yang tertuang di pasal 50 (3) huruf d UURI Nomor  41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Dimana,  setiap orang dilarang membakar hutan. Kemudian, pasal 78 (3) dan (4) UURI No.41 tahun 1999.

Dalam ayat 3 pasal 78,  dijelaskan barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 50 ayat (3) huruf d, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp5 miliar.

Kemudian di ayat 4, disebutan barang siapa karena kelalaiannya melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 50 ayat (3) huruf d, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 1,5  miliar.

“Jadi kita memang ada kelalaian dan unsur kesegajaan dan menyebabkan kebakaran bisa dipidanakan. Untuk itu, kita imbau seluruh masyarakat di Kabupaten Nunukan untuk tidak menimbulkan Karhutla,” terangnya kepada Koran Kaltara, Selasa (13/8/2019).

Sementara itu, Forecase Badan Meteologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Nunukan, Taufik Rahman menyampaikan, bahwa pihaknya  telah mengeluarkan pemberitahuan dampak Karhutla.

Menurut dia,  ada 6 poin dampak buruk Karhutla. Pertama, rusaknya ekosistem yang memusnahkan flora dan fauna yang hidup dan tumbuh di hutan. Kedua, asap dari Karhutla menyebakan polusi udara dan dapat menyebabkan penyakit ISPA, asma, paru, jantung dan sebagainya.

Ketiga, kabut asap bisa menyebabkan ganguan jarak pandang. Khususnya transportasi dan penerbangan. Keempat, tersebarnya asap dan emisi gas karbondiosida serta gas-gas lain ke udara. Itu menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.

Kelima, menjadikan hutan gundul, sehingga tak mampu lagi menahan air dan terjadi bencana longsor dan banjir.

“Terakhir, yakni keenam Karhutla bisa menyebabkan kurangnya sumber air bersih dan bencana kekeringan karena tidak ada lagi pohon menampung air,” ungkap dia. (*)

Reporter : Asrin

Editor : Sobirin