Headline

Pantau Kepulangan Bekas Anggota ISIS

Muhammad Haris
  • Kesbangpol Berupaya Tangkap Paham Radikal

TARAKAN, Koran Kaltara –  Presiden Republik Indonesia Joko Widodo secara tegas menolak memulangkan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Namun demikian, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan tidak terkecuali di Tarakan, dimana warga Tarakan pernah ada yang ikut bergabung dengan ISIS serta jalur Kaltara menjadi pelintasan mereka.

“Sudah ada pernyataan Presiden untuk tidak memulangkan sekitar 600 WNI eks ISIS. Kita bukan bicara aspek kemanusiaan tetapi potensi ancaman yang bakal mengganggu stabilitas nasional. Oleh karena itu, patut waspada. Terlebih potensi paham radikal yang mereka anut masih ada kemungkinan belum luntur,” terang Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tarakan, Muhammad Haris, Kamis (13/2/2020).

Pengawasan tidak hanya dilakukan secara mandiri oleh Kesbangpol, karena melibatkan berbagai macam elemen masyarakat, termasuk TNI/Polri. Tidak kalah penting adalah peran tokoh agama untuk memberikan pemahaman, bahwa paham radikal tidak sesuai dengan landasan dasar negara, baik itu Pancasila maupun Undang-Undang Dasar 1945.

“Intinya semua stakeholder terlibat ada di dalam situ. Kita tidak boleh lengah tetapi tidak juga resah dengan kadaan ini. Karena pemerintah pusat maupun daerah tidak akan tinggal diam. Melalui jalur Forum Komunikasi Pencegahan Dini Masyarakat (FKPDM), kita tetap melakukan pantauan dan upaya pencegahan paham radikal berkembang,” bebernya.

Haris juga menegaskan, melalui organisasi masyarakat (Ormas) pihaknya juga menitipkan untuk terus memantau dan melakukan pengawasan. Sehingga bila ada indikasi radikalisme, dapat cepat terdeteksi untuk dilakukan pencegahan. “Kita juga mencegah melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), tokoh agama, sama membangun sinergitas untuk menjaga kedamaian,” urainya.

Kesbangpol, kata dia,  tetap sesuai arahan pusat, menjaga lingkungan, khususnya di kota Tarakan. Ada juga intelijen yang melakukan pendeteksian keamanan. Kita juga sedang memperkuat sosialisasi supaya masyarakat tidak mudah terpapar dengan paham radikalisme. Apalagi kemajuan teknologi, yang juga patut diwaspadai,” ungkap Haris. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustafa
Editor: Nurul Lamunsari