Hukum Kriminal

Operasi Zebra Kayan 2019, Pelanggaran Lalin Meningkat

Kapolres Tarakan AKBP Yudhistira Midyahwan (tengah) menunjukkan knalpot racing hasil razia dalam Operasi Zebra Kayan 2019, Rabu (6/11/2019). (Foto : Sahida/Koran Kaltara)

TARAKAN, Koran Kaltara – Operasi Zebra Kayan 2019, resmi selesai dilaksanakan sejak Selasa (5/11/2019). Kapolres Tarakan AKBP Yudhistira Midyahwan mengungkapkan, hasil dari operasi zebra ini, jumlah pelanggaran dan kecelakaan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, ia menyebutkan meski kecelakaan mengalami peningkatan, tidak ada yang hingga mengakibatkan fatalitas dan meninggal dunia. Sebagian besar, kata dia pelanggaran untuk tilang karena surat-surat yang tidak lengkap.

“Dengan adanya operasi zebra ini, masyarakat saya harapkan bisa melengkapi suratnya. Terutama, yang berkaitan dengan keselamatan dan meningkatkan kesadaran untuk berlalu lintas. Seperti knalpot, spion, helm. Karena selain membahayakan diri sendiri, juga membahayakan pengguna jalan yang lain,” ujarnya, Rabu (6/11/2019).

Ia juga mengatakan, mendekati Operasi Lilin yang akan dilaksanakan Desember mendatang akan digelar hingga perayaan Natal dan Tahun Baru. “Ini sedang dalam tahap persiapan,” katanya.

Kasat Lantas AKP Arofiek Aprilian Riswanto menambahkan, untuk kerugian materiil dalam kecelakaan lalu lintas total mencapai Rp4,7 juta. Nilai ini menurun dari tahun sebelumnya yang hanya berkisar di Rp2 juta.

“Kalau penambahan kecelakaan lalu lintas memang cukup signifikan. Namun, tidak ada kecelakaan yang meninggal dunia,” tuturnya.

Pihaknya juga mengamankan knalpot racing dalam proses tilang. Didapati, masih ada pengendara yang menggunakan knalpot yang tidak layak, sehingga otomatis dicopot paksa karena mengakibatkan kebisingan.

Khusus pelanggaran tilang, disebutkan ada 950 di tahun 2018 dan 1051 tilang di tahun 2019 ini. Jumlahnya meningkat 101 kasus, atau sebanyak 11 persen. Tilang ini didominasi pelanggaran yang tidak membawa surat-surat berkendara, saat dilakukan razia stasioner.

Sedangkan kecelakaan lalu lintas, tahun 2018 lalu hanya 2 kasus dan di tahun 2019 ada 7 kecelakaan. Penyebabnya, ada yang karena jatuh sendiri dari motor. Namun, korbannya meminta klaim dari Sat Lantas untuk persyaratan mendapatkan klaim pengobatan di rumah sakit.

“Kalau hunting, kebanyakan pelanggaran adalah tidak menggunakan helm standar SNI,” ungkapnya.

Diakuinya, pelanggaran dan kecelakaan meningkat berarti kesadaran masyarakat dalam berkendara dengan aman dan tertib menurun. Menurutnya, selain karena padatnya jumlah pengendara di Tarakan, juga karena masih ada masyarakat yang kurang berhati-hati saat berkendara.

Ia pun menyebutkan sudah mengupayakan sosialisasi melalui pemasangan spanduk dan sosialisasi, keselamatan lalu lintas. Edukasi dan himbauan, kata dia sudah dilaksanakan. Tahun lalu penyuluhan 18 kali dan tahun ini ditingkatkan menjadi 23 kali.

“Sehingga, terjadi kecelakaan lalu lintas dan meningkat. Kami juga sering melakukan kegiatan sosialisasi di jalan, untuk pendidikan masyarakat lalu lintas kita lakukan penyuluhan. Pemasangan spanduk bahkan meningkat 1000 persen, namun saat kecelakaan sudah terjadi, kita tidak bisa berbuat apa-apa,” tandasnya. (*)

Reporter : Sahida

Editor : Hariadi