Kaltara

Neraca Perdagangan Mulai Goyah

Menurunnya kinerja ekspor batu bara mempengaruhi stabilitas kondisi neraca perdagangan luar negeri di Kalimantan Utara. (Foto : Dokumen/Koran Kaltara)
  • Kaltara Rentan Terjebak Dalam Fenomena Ekonomi Dutch Disease

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Neraca Perdagangan ekspor impor Kalimantan Utara didapati melemah sepanjang Januari – Oktober 2019. Kendati masih dalam kondisi surplus (ekspor lebih besar dibandingkan impor), nominalnya alami penurunan 3,3 persen dibanding periode sama tahun 2018. Atau dari USD839,12 juta menjadi USD811,23 juta.

Berdasarkan data yang Koran Kaltara dapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara (2/12/2019), diketahui melemahnya kondisi neraca perdagangan disebabkan penurunan kinerja ekspor dari sektor hasil tambang yang didominasi komoditi batu bara.

Sebagaimana diketahui, sampai  Oktober 2019, ekspor Kaltara menurun 5,21 persen. Salah satunya disebabkan ekspor komoditi hasil tambang yang terkontraksi negatif sebesar 5,34 persen. Sehingga meskipun nominal impor secara akumulatif alami penurunan lebih dalam sebesar 27,50 persen, kuantitas nominal ekspor Kaltara tetap tidak bisa menjaga neraca perdagangan bisa tumbuh positif di 2019.

Dari catatan Koran Kaltara 2018, melemahnya kinerja ekspor sebagai indikator perekonomian daerah yang disebabkan bergantung pada satu komoditi unggulan, sudah diprediksi oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, Kerjasama dan Alumni pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Amirullah Setya Hardi.

Saat memberikan paparan dalam Seminar Perekonomian pada akhir tahun 2018 di Tanjung Selor, Amirullah menyarankan agar pemerintah daerah bisa  berhati-hati dalam mengelola sektor ekonomi primer dari potensi alam yang bersifat ekstraktif. Mengingat daerah tidak bisa menentukan kepastian standar harganya di pasar global.

Ketergantungan tinggi terhadap satu komoditi unggulan, dapat membuat daerah terjebak dalam fenomena ekonomi Dutch Disease. Atau anjloknya perekonomian daerah karena tingkat ketergantungan tinggi atas berlimpahnya sumber daya alam yang dimiliki.

“Harga yang menentukan ini bukan dari kita. Kita hanya produksi saja, tapi harganya dikendalikan oleh para pelaku usaha di sana. Jadi ini sebenarnya riskan juga apabila bergantung penuh,”  ujarnya. Berbicara soal solusi, Amirullah menyampaikan, pemerintah daerah memang perlu menyiapkan portofolio ekonomi sektoral. Yakni sektor sekunder dari kegiatan industri dan sektor tersier dari kegiatan jasa.

“Kalau sekarang Kaltara mainnya di tambang, harus bisa disiapkan juga, sektor-sektor apa yang ketika nanti pertambangan tidak lagi dominan, sektor penggantinya ini akan siap dimunculkan. Misalkan dari kegiatan pertanian, industri olahan, potensi wisata atau lainnya yang bersifat berkelanjutan atau tidak akan habis. Jadi saat sektor primer mengalami sunset, sektor sekunder dan tersier yang mulai dari sekarang dibangun, bisa menjadi pengganti,” papar Amirullah.(*)

Reporter : Agung Riyanto

Editor : Eddy Nugroho