Ekonomi Bisnis

Minyak Goreng Curah Distop Tahun Depan

RERATA pelaku usaha di Tanjung Selor sudah menggunakan minyak goreng dalam kemasan sebagai bahan bakunya. (Foto : Agung/Koran Kaltara)
  • Sampai Saat Ini di Kaltara Tidak Menggunakan Minyak Curah

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia telah meresmikan program “Wajib Kemas Minyak Goreng, Indonesia Bebas dari Minyak Curah” pada 06 Oktober 2019. Secara teknis, program tersebut melarang peredaran minyak goreng curah (tanpa kemasan) per 1 Januari 2020 nanti.

Penerapan regulasi tersebut di lapangan, akan menghilangkan peredaran minyak curah di seluruh pusat perbelanjaan. Terutama yang bersifat tradisional dan berada di daerah pelosok. Seperti di pasar induk dan warung kelontong.

Dikonfirmasi mengenai  implementasi di Kalimantan Utara, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri (PDN) pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop) Kaltara, Hasriyani menyampaikan, pihaknya masih menunggu edaran resmi dari jajaran di Jakarta.

“Kita di daerah belum dapat mengenai petunjuk teknisnya di lapangan. Terutama soal pengawasannya seperti apa,” kata Hasriyani melalui sambungan telepon, Senin (7/10/2019).

Mengenai kiprah minyak goreng curah sendiri di Kaltara, Hasriyani mengklaim bahwa sebenarnya komoditi tersebut tidak sampai merambah daerah di provinsi ke 34 ini. Mengingat jauhnya jarak distribusi dari daerah produsen.

“Kalau dari pendataan dan pengawasan yang selama ini kita lakukan, belum menemukan penjualan minyak goreng curah. Bisa jadi karena jarak pengiriman kesini kan jauh. Mempengaruhi beban biaya distribusi,” ungkap Hasriyani.

Kendati demikian, Hasriyani memastikan pihaknya tetap melakukan pengawasan di lapangan mendekati waktu pengimplementasian regulasi tersebut. “Tapi nanti kita akan lakukan lagi pengawasan di lapangan. Jadi benar-benar bisa kami pastikan tidak ada peredaran minyak goreng curah,” tegasnya.

Sementara itu dari pantauan Koran Kaltara di seputaran Tanjung Selor, didapati rerata penjual gorengan yang biasanya sebagai konsumen minyak goreng curah, sudah menggunakan minyak goreng dalam kemasan.

Penjual gorengan di Jalan Semangka, Esih mengatakan, dirinya menggunakan minyak goreng dalam kemasan karena memang tidak mendapati minyak goreng curah di Pasar Induk Bulungan. Selain itu, penggunaan minyak goreng kemasan juga mengikuti harga jual yang cenderung tidak terlalu murah.

“Di sini meskipun pakai minyak goreng bermerek (dalam kemasan), tidak akan rugi. Soalnya satu juga kita jualnya seribu. Beda waktu saya jual di Bekasi, harga nya rata-rata Rp500. Jadi memang harus pake minyak curah. Kalau ngga ya malah rugi,” papar Esih. (*)

Reporter : Agung Riyanto
Editor : Rifat Munisa