Ruang Publik

Merindukan Tujuh Belasan

Zulkifli Putra Hamanku, SE
  • Oleh: Zulkifli Putra Hamanku, SE

Tak terasa kita sudah menginjak bulan Agustus. Tak terasa setiap mata memandang, bendera merah putih dan umbul-umbul sudah berkibar dengan gagahnya di sudut-sudut jalan.

Bulan Agustus menjadi bulan bersejarah bagi bangsa Indonesia karena pada bulan ini tepatnya pada tanggal 17 menjadi hari kemerdekaan yang dinantikan oleh bangsa kita. Tak terasa sudah 74 tahun berlalu dan sampai saat ini pun kita senantiasa memperingatinya sebagai hari kemerdekaan kita.

Peringatan hari kemerdekaan ini atau lebih sering kita sebut sebagai acara tujuh belasan sudah menjadi menu wajib yang dilaksanakan setiap tahunnya. Jika kita flash back sejenak ke era tahun sebelum 2000-an, antusiasme peringatan hari kemerdekaan ini sangat tinggi terutama para anak-anak dan generasi muda.

Hampir di setiap sudut jalan, gang dan lapangan, kita disuguhi berbagai acara peringatan tujuh belasan. Berbagai acara rutin dilaksanakan dalam rangka memperingatinya, mulai dari lomba olahraga, lomba kesenian dan berbagai hiburan lainnya.

Berbagai lapisan masyarakat ikut serta berpartisipasi menyemarakkan acara tujuh belasan tersebut.

Namun di era sekarang, era milenial, semarak tujuh belasan sepertinya mulai terkikis walaupun tidak hilang sama sekali. Para anak-anak maupun generasi muda tidak terlalu memiliki antusiasme yang tinggi seperti era-era sebelumnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa era saat ini, aktivitas anak-anak dan generasi muda tidak terlalu mengedepankan aktivitas fisik, sehingga semarak tujuh belasan melalui perlombaan yang memerlukan aktivitas fisik jadi sepi peminatnya.

Tentu kita tidak mau hal tersebut akan berlangsung terus menerus. Kita tidak mau semarak tujuh belasan ini hanya menjadi kenangan bagi generasi mendatang.
Semarak tujuh belasan bukan hanya sekedar seremonial peringatan hari kemerdekaan saja tetapi lebih dari itu, sebagai rasa untuk menanamkan jiwa kebersamaan, empati dan patriotisme bagi bangsa ini utamanya para anak-anak dan generasi muda sebagai generasi penerus.

Generasi penerus harus tahu tentang latar belakang sejarah bangsa ini melalui peringatan hari kemerdekaan, salah satunya dengan menyemarakkan acara tujuh belasan yang rutin dilaksanakan.

Melihat kondisi yang ada, harus ada tindakan nyata yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait agar semarak tujuh belasan dapat kembali bergelora di tengah-tengah masyarakat kita. Ada beberapa hal yang menjadi titik perhatian kita bersama.

Peran Aktif Pemerintah
Pemerintah dapat menjadi trigger paling utama melalui instansi terkait yang ada. Pemerintah dapat melaksanakan perlombaan dan mengkoordinasikan penyelenggaraannya.

Pemerintah dapat memberikan ide-ide atau lomba-lomba yang dianggap mampu meningkatkan semangat patriotisme. Pemerintah dapat membuat surat edaran ke instansi terkait untuk mewajibkan pelaksanaan lomba tujuh belasan dan menyiapkan sarana prasarana serta pendanaannya.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara maupun Kabupaten Bulungan dapat bahu membahu dan berkoordinasi merumuskan bagaimana perayaan tujuh belasan yang semarak di Tanjung Selor ini, dengan melibatkan Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata dan instansi terkait lainnya.

Partisipasi Nyata Masyarakat

Masyarakat tentunya menjadi obyek pelaksanaan tujuh belasan ini. Kegiatan tersebut memang ditujukan kepada masyarakat agar memiliki rasa kebangsaan dan patriotisme yang tinggi, utamanya para anak-anak dan generasi muda. Kenyataan yang ada bahwa para anak-anak dan generasi muda sekarang kurang antusias dalam mengikuti kegiatan tujuh belasan.

Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang tua, saudara, teman atau handai taulan untuk dapat mengajak dan memberikan gambaran yang positif tentang kegiatan tujuh belasan kepada para anak-anak dan generasi muda sehingga mereka dapat berpartisipasi secara nyata.

Sudah saatnya kita mengajak mereka agar terbiasa ”bermain fisik” dan tidak takut dengan kegiatan yang membutuhkan aktivitas fisik.

Organisasi Kepemudaan
Dulu kita sering mendengar adanya Karang Taruna yaitu organisasi kepemudaan yang mewadahi kegiatan kepemudaan yang bersifat positif dan kreatif. Karang Taruna dibentuk di tiap kelurahan dan sangat aktif dalam menyelenggarakan kegiatan tujuh belasan.

Saat ini Karang Taruna sudah tidak terdengar lagi kalau tidak dikatakan mati suri. Tidak ada salahnya bahwa organisasi ini bisa diaktifkan dan dihidupkan kembali.

Peran dari Kelurahan dan RW/RT sangat diharapkan agar Karang Taruna dapat kembali berjaya, karena dalam pelaksanaan kegiatannya, Karang Taruna akan selalu bersinggungan dengan Kelurahan dan RW/RT.

Hal-hal tersebut diatas diharapkan mampu menjadi modal awal untuk meningkatkan kembali antusiasme para anak-anak dan generasi muda dalam berpartisipasi di kegiatan tujuh belasan yang ada di lingkungan masing-masing.

Kita tentu masih ingat bagaimana serunya lomba panjat pinang atau bagaimana susahnya lomba berjalan sambil menggigit sendok yang berisi kelereng atau bahkan bagaimana kocaknya lomba makan krupuk.

Itu semua menjadi suatu momentum kebersamaan bahwa kita semua sama tidak ada sekat karena kita semua adalah bangsa Indonesia dari segala lapisan masyarakat.

Tentunya semarak tujuh belasan di Tanjung Selor jangan sampai kendor apalagi menguap menjadi biasa-biasa saja. Anak-anak dan generasi muda di Kaltara harus bisa menjadi bagian dari perayaan hari kemerdekaan dan kegiatan tujuh belasan. Jangan hanya menjadi penonton tetapi jadilah bagian dari sejarah karena apa yang kita lakukan hari ini akan menjadi sejarah bagi generasi mendatang.

Kita semua rindu, rindu dengan semarak perayaan hari kemerdekaan, merindukan tujuh belasan yang penuh kegembiraan. Darah kita sama-sama merah, tulang kita sama-sama putih, apa yang telah kita berikan kepada bangsa dan negara ini?

Dirgahayu Negeriku Indonesia yang ke-74. (*)

*) Penulis adalah Kepala Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Utara