Kaltara

Merebaknya Virus Corona Sebabkan Harga Udang Anjlok

Foto: Ilustrasi/ Internet
  • DKP Sebut, Harga Udang di Kaltara Masih Tinggi

TARAKAN, Koran Kaltara – Turunnya harga udang di Kaltara menjadi keluhan dari petani udang sejak beberapa waktu lalu. Menyikapi kondisi ini, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara memfasilitasi digelarnya Forum Group Discussion (FGD) pada Rabu (19/2/2020) malam kemarin.

“Informasi ke petambak sebagian tidak sampai. Sebenarnya, harga udang kita di sini mahal (tinggi), cuma harga udang dan komisi dipisah. Misalnya size 20, harga udang kan Rp145 ribu ditambah komisi Rp62 ribu. Ditambah lagi kalau bisa mempertahankan kualitasnya harga lebih bagus lagi. Berarti, bisa sampai Rp230 ribu hingga Rp240 ribu per kilogram,” ujar Kepala DKP Kaltara, Amir Bakri mengawali diskusi.

Ia menilai, informasi yang sampai ke petambak, hanya tabel Rp135 ribu dan tidak melihat komisinya. Karena pembelian melalui pos, mungkin pos yang komisi kemungkinan karena punya hutang jadi ada pemotongan.

Diakuinya, kondisi saat ini ada hubungan dengan wabah virus corona di China. Sebagian ekspor di Kaltara banyak dibawa ke Jepang, saat bersamaan produksi di negara lain melimpah akhirnya banyak udang masuk ke Jepang. Produksi banyak, berarti harga berkurang.

“Seperti dari Equador, dari India dan Vietnam. Selama ini udang biasa dibawa ke China, sekarang karena China tidak bisa masuk barang, banyak toko tutup, akhirnya banyak yang bawa ke Jepang dan Eropa maupun Amerika dan terjadilah penurunan harga,” imbuhnya.

Jika petambak jual ke pos, diakuinya ada keuntungan seperti membantu bibit maupun sarana produksi dan modal usaha, tetapi tetap ada potongan. Sedangkan cool storage, kata dia tidak menjamin kebutuhan petambak.

“Kami ini (posisi pemerintah) hanya memfasilitasi, tapi kalau menekan coldstorage harus menekan beli udang petani dengan harga sekian, tidak bisa. Karena, ini sudah mekanisme pasar. Kami hanya bisa memfasilitasi seperti ini, memberikan pemahaman bahwa sebenarnya harga udang ini tidak mudah. Tapi, ada masalah komisi dan harga udang yang pisah,” tuturnya.

Sedangkan subsidi, diakuinya meski anggaran kecil, pihaknya tetap memberikan bantuan kepada petambak. Dalam bentuk bibit ikan bandeng, sedangkan untuk udang bantuan ke induk agar kualitas benur yang diterima petambak bagus. “Karena mendatangkan bibit yang unggul dari Aceh, untuk hatchery yang ada di Tarakan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sahida
Editor: Eddy Nugroho