Food & Drinks Traveling

Mencicipi Seblak, Street Food dari Tanah Sunda

Seblak – Sepiring seblak khas sunda di Kedai “Kadieu”. (Foto : Agung/Koran Kaltara)
  • Kencur dan Bawang Putih Jadi Bumbu Dominan

TANJUNG SELOR – Masyarakat tanah sunda menjadi salah satu kontributor terbesar ragam kuliner di Indonesia. Dengan cita rasa cenderung pedas asin dan didominasi lalapan sayur segar, beberapa sajian berhasil menyebar ke daerah-daerah lainnya.

Untuk kali ini, Koran Kaltara menyambangi salah satu kedai penjual kuliner khas Sunda bernama Seblak. Sebelumnya untuk diketahui bersama, seblak merupakan salah satu kuliner pinggir jalan (street food) yang sempat hits beberapa tahun terakhir. Beberapa penjual banyak mengkombinasikan toping mewah dalam bahan baku utama kerupuk rebus yang tergolong sederhana.

Sama halnya dengan penjual lain yang mengkreasikan seblak buatannya, Pemilik Kedai “Kadieu” (Dalam  bahasa Indonesia berarti kesini), Santi mengatakan, dirinya juga menjual seblak dengan toping tambahan. Namun yang paling laris didominasi toping sosis dan juga ceker ayam.

“Di sini memang ciri khasnya lebih ke seblak ceker yang pedes. Tapi kalau yang ga suka ceker bisa diganti sama sosis,” kata Santi dengan logat khas sundanya yang kental, Selasa (22/1).

Dalam satu porsi seblak yang dihargai Rp15.000, Santi menyuguhkan campuran dari kerupuk kuning, kerupuk makaroni, kerupuk udang, lima potong ceker ayam dengan ukuran cukup besar, mi kering, telur dan bumbu racikan khusus yang direbus dalam satu wajan. Sedikit diungkapkan Santi, ciri khas seblak asli Sunda adalah dari bumbu yang didominasi kencur dan bawang putih.

“Ciri khasnya seblak mah memang harus banyak kencur sama bawang putihnya,” kata Santi.

Benar saja, belum lama Santi memasukkan bumbu dalam wajannya, aroma kuat kencur langsung dengan mudah tercium. Ketika disajikan di atas meja, perpaduan rasa pedas dan gurih memang dominan di lidah. Sedangkan kerupuk yang direbus terasa kenyal dan cukup terasa nikmat ketika dimakan bersama ceker yang tergolong empuk.

Berlokasi di Jalan Semangka, Santi bersama suami membuka usahanya mulai jam empat sore hingga sebelas malam. Selain seblak, dirinya juga menjual kuliner khas sunda lain bernama cireng. Atau yang dalam bahasa sunda merupakan singkatan dari aci (tepung sagu) digoreng. Untuk satu bijinya, cireng dijual dengan harga seribu rupiah.

“Ini juga ada goreng-gorengan lainnya. Tempe, tahu, sosis, bakwan, cilok (aci dicolok :semacam baso namun terbuat dari tepung sagu lalu dikukus atau direbus) juga ada,” kata Santi.(*)

Reporter: Agung Riyanto
Editor: Sobirin