Headline

Malaysia Dinilai Tidak Serius Awasi Perairan

Foto: Ilustrasi /Internet
  • Jarang Patroli hingga Tak Sigap saat Terima Laporan Penculikan

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara –  Penculikan warga negara Indonesia (WNI) di wilayah Malaysia menjadi pertanyaan mengenai keseriusan pihak keamanan negeri tersebut dalam menjaga kedaulatannya. Penculikan yang terus dilakukan oleh kelompok bersenjata milisi (KBM) Abu Sayyaf, masih merajalela. Padahal, antara Indonesia, Malaysia, dan Filipina  sudah menyepakati untuk melakukan patroli bersama di wilayah perairan masing-masing.

Kepala Perwakilan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kinabalu, Krishna Djelani mengatakan, berdasarkan informasi yang didapatkan dari para nelayan Indonesia di Malaysia, aparat keamanan negeri Jiran itu sebenarnya rutin melakukan patroli. Akan tetapi, patroli yang dilakukan mereka hanya pada siang hari. Sedangkan, peristiwa penculikan terhadap WNI selama ini kerap terjadi di malam hari.

“Kalau setahu saya, memang ada kesepakatan untuk patroli di wilayah masing-masing. Malaysia juga sebenarnya sering juga patroli. Tapi kalau informasi yang kami dapatkan dari nelayan dan majikan mereka, patrolinya itu hanya siang hari saja. Sedangkan kalau malam itu jarang. Sedangkan kejadian-kejadian itu (penculikan) sering di malam hari,” katanya kepada Koran Kaltara.

Aparat keamanan Malaysia juga dinilai kurang tanggap dalam menerima laporan penculikan. Mereka dinilai kurang memberikan respon ketika peristiwa penculikan itu kembali menimpa WNI. Jarak antara tempat kejadian perkara (TKP) penculikan dengan provinsi Sulu, Filipina selatan yang merupakan markas kelompok Abu Sayyaf yang cukup dekat, membuat para penculik itu kerap lolos dari kejaran mereka. Sedangkan berdasarkan kesepakatan itu, patroli hanya bisa dilakukan di wilayah negara masing-masing.

“Kadang mereka juga itu telat tiba di TKP (tempat kejadian perkara). Mereka bisa sampai di TKP itu sekitar satu atau dua jam kemudian, baru mereka sampai. Sedangkan jarak antara Negara Filipina dengan beberapa TKP penculikan itu sangat dekat. Mungkin bisa ditempuh sekitar 30 sampai 40 menit saja. Jadi, ketika dilaporkan, telat datang. Yah itu pasti keburu kabur penculiknya ke negaranya sendiri. Kalau sudah kabur ke negaranya sendiri, yah mereka sudah tidak bisa kejar. Karena perjanjiannya itu, hanya patroli di wilayah perairan masing-masing,” jelasnya.

Adanya kesepakatan melakukan patroli, seharusnya menjadi perhatian dari Pemerintah Malaysia untuk lebih komprehensif dalam melakukan patroli perairan. Terutama untuk lebih konsisten lagi dalam mengimplementasikan kesepakatan bersama. “Tapi semoga ini bisa ada jalan keluar. Para WNI kita yang masih ditahan juga, semoga bisa kita bebaskan. Kami juga sudah melakukan koordinasi, untuk mencari tahu kabar mereka,” tutupnya. (*)

Reporter: Ramlan

Editor: Nurul Lamunsari