Tarakan

Lantamal Tingkatkan Profesionalisme SDM dan Alutsista

Upacara HUT TNI AL ke 74 yang digelar di Markas Komando Lantamal XIII di Mamburungan, Selasa (10/9/2019). (Foto : Sahida/Koran Kaltara)

TARAKAN, Koran KaltaraPangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) XIII memiliki wilayah kerja yang membawahi perairan berbatasan dengan dua negara, Filipina dan Malaysia. Berada di garda terdepan ini, membuat Kaltara menjadi sangat rawan tidak hanya penyelundupan barang ilegal, tetapi juga ancaman lainnya.

Memperingati HUT TNI AL ke 74 tahun, untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) khususnya wilayah perairan, diharapkan bisa menjadi institusi yang menopang pembangunan sumber daya unggul untuk Indonesia maju.

Komandan Lantamal (Danlantamal) XIII Laksamana Pertama TNI Judijanto mengungkapkan, sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), semua personel TNI AL diwajibkan meningkatkan profesionalisme SDM.

“Kita juga diminta untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan bertempur. Kemudian profesionalisme bagaimanan kita bisa membantu masyarakat,” bebernya.

Menurutnya pembangunan SDM di TNI AL sangat diperlukan untuk mengembangkan organisasi yang sangat kuat. Namun juga harus didukung dengan alutsista dan penyerapan teknologi yang modern. Ia pun mengaku sudah berupaya meningkatkan kemampuan SDM.

“Salah satu fokus kita dalam melakukan penggamanan ekstra adalah peraraian Ambalat, selain Natuna dan perairan Papua. Kita konsen di sini luar biasa. Karena Ambalat adalah hotspot kita. Jadi, kita jaga 24 jam dan minimal setiap hari ada 4 kapal di Ambalat,” ungkapnya.

Ia menambahkan dalam hal penggembangan organisasi, saat ini Lantamal XIII sudah memiliki koneksi bersama negara lain yang berbatasan, yaitu Indomalphi. Dalam Indomalphi ada latihan dan patroli bersama. Bahkan, saling menukar informasi terhadap pergerakan kelompok sparatis.

Menurutnya, ancaman dari luar saat ini semakin berkembang dan dinamis. Diketahui, beberapa waktu lalu Abu Sayyaf Group (ASG) masih didapati berada di perbatasan dengan Indonesia. Namun berhasil diamankan oleh kepolisian dari Malaysia.

“Kemarin ada pergerakan Abu Sayyaf kita langsung aksi semua dan benar tertangkap. Kalau masuk ke wilayah kita, pastikan akan kita dapatkan karena kapal kita sudah menunggu. Ini yang menjadi penekanan dari KSAL kalau instrumen harus stay di force dan itu sudah kita lakukan,” pungkasnya.

Dengan adanya ancaman, sangat diperlukan kehadiran dari TNI Angkatan Laut (AL) untuk antisipasi ancaman dari luar. Bahkan pihaknya sangat serius untuk memperdayakan wilayah pertahanan laut di Kaltara.

“Kalau pun tidak, kita mungkin yang melakukan penangkapan di sana. Ini membuktikan kalau memang betul-betul ancaman di wilayah kita nyata dan ada,” katanya lagi.

Selain ancaman dari kelompok sparatis, khusus di perbatasan Kaltara terhadap ancaman penyeludupan barang ilegal dan narkotika juga semakin banyak. Diakuinya, Lantamal XIII sudah beberapa kali berhasil menggagalkan masuknya narkotika dan barang ilegal, yang masuk dari Malaysia ke Indonesia melalui Kaltara. Untuk itu, pihaknya juga selalu meningkatkan koordinasi dengan aparat kepolisian, dalam melakukan penindakan terhadap penyeludupan barang ilegal.

“Dari BNN Pusat juga datang kemari dan kami bantu menangkap di laut. Ini menunjukkan kita berada di sini tidak main-main. Negara ini perlu kita bentengin dan jaga, jangan sampai narkoba kita masuk,” tandasnya. (*)

Reporter : Sahida

Editor : Rifat Munisa