Ruang Publik

Kaum Muda Harus Ambil Peran Dalam Politik

M.Dicky Umacina
  • Oleh: M.Dicky Umacina

GENERASI muda sering kali dianggap sebagai kelompok masyarakat yang paling tidak peduli dengan persoalan politik. Mereka juga disebut kerap mengalami putus hubungan dengan komunitasnya, tidak berminat pada proses politik dan persoalan politik, serta memiliki tingkat kepercayaan rendah pada politisi serta sinis terhadap berbagai lembaga politik dan pemerintahan.

Dalam berbagai literatur disebutkan jika masyarakat di negara demokratis dapat berpartisipasi dalam kehidupan politik setidaknya melalui beberapa cara. Contoh, terlibat dalam arena publik untuk mempromosikan dan menyampaikan tuntutannya kepada siapa saja yang ingin mendengarkan, seperti ikut terlibat dalam berdemonstrasi.

Kedua, masyarakat juga dapat menjadikan lembaga pembuat undang-undang (legislatif) atau lembaga eksekutif sebagai target pesan politik yang ingin disampaikan, misalnya dengan menandatangani petisi.

Ada pula ruang lain yang dapat dimanfaatkan, yakni dengan terlibat dalam proses seleksi dari orang-orang yang ingin menduduki jabatan publik. Contohnya dengan memberikan suara pada pemilu atau mencalonkan diri untuk jabatan publik.

Tahun 2020 mendatang Kaltara akan menyelenggarakan 5 Pilkada sekaligus. Dimana bakal ada 4 pemilihan bupati dan pemilihan gubernur. Partisipasi pemuda pun kembali menjadi perdebatan sejumlah pihak.

Dan tak jarang masih saja ada yang berpandangan miring kemudian memunculkan pertanyaan “Pemuda ini bisa apa sih?”.

Pandangan ini sering kali dibenarkan dengan data yang menunjukkan bahwa generasi muda yang bergabung ke dalam partai politik relatif sedikit. Mereka juga cenderung memilih menjadi golput dalam pemilu.

Namun demikian, beberapa studi cenderung menganggap pandangan tersebut keliru. Karena kaum muda dinilai adalah kelompok yang paling peduli terhadap sejumlah isu politik.

Perbedaan ini terletak pada model partisipasi. Bentuk partisipasi politik generasi muda kini cenderung menunjukkan perubahan yang cukup prinsipil dibanding generasi pendahulu.

Jika pada masa lalu bentuk partisipasi politik lebih bersifat konvensional dan cenderung membutuhkan waktu lama, misalnya aksi turun ke jalan melakukan demonstrasi atau boikot, tindakan politik generasi muda dewasa ini dipandang sebagai sesuatu yang “baru” karena tidak pernah terjadi pada masa lalu. Contohnya adalah partisipasi politik melalui internet dan media sosial.

Tindakan politik generasi muda masa kini memiliki sifat cenderung lebih individual, bersifat spontan berdasarkan isu tertentu dan kurang terkait dengan perbedaan sosial.

Dengan begitu tentu generasi muda dapat menawarkan siklus politik yang sehat dan dinamis. Langkah-langkah strategis yang dapat ditempuh oleh kelompok muda ini dalam mengisi pesta demokrasi dapat dilakukan dengan beragam cara, misalnya mendorong gerakan antigolput atau kampanye hashtag yang positif demi Pilkada berkualitas.

Mau tidak mau, suka tidak suka kebijakan politik akan mempengaruhi semua lini kehidupan masyarakat termasuk kelompok pemuda. Artinya jika ingin secara nyata mengabdi untuk memperbaiki demokrasi, pemuda juga bisa berpartisipasi sebagai pelaku politik itu sendiri.

Anak muda di dalam komunitas politik akan menjadi warning bagi generasi-generasi di atasnya untuk terus beradaptasi dengan zaman, untuk terus mengingat bahwa regenerasi adalah keniscayaan.

Kaum muda memiliki peluang sangat besar dalam mengubah pola pikir dan memperkaya polarisasi dalam dunia politik yang berkembang di Indonesia. Bukan hanya bisa sekadar menulis status di media sosial dengan nada nyinyir, memanas-manasi, menyebarkan kampanye hitam, termasuk di dalamnya hate speech, maupun mengadu domba, meskipun apa yang diyakininya mungkin benar.

Dengan segala intelektualitas yang dimilikinya, kaum muda seyogianya mampu menjadi penengah, filter, serta golongan paling netral dalam menghubungkan segala “kepentingan” dan isu-isu yang berkembang di dalam masyarakat, untuk selanjutnya diolah dengan lebih cantik, obyektif (meski persuasif), dan dapat diterima akal sehat.

Intinya, di mana pun posisinya, kaum muda harus mau dan mampu mengambil peran di dalam tiap proses pendidikan politik penentu arah gerak Kaltara dii masa depan, atau minimal di lima tahun mendatang. (*)

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment