Bulungan

Kampanye Anti-kekerasan terhadap Perempuan: Lawan Budaya yang Menggiring Pembagian Kelas

Diskusi Publik tentang Perempuan. (Foto: Martinus/Koran Kaltara)

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Perempuan harus keluar dari lingkaran ketidakberdayaan yang distigmakan kebanyakan orang. Peran perempuan yang dinilai dari fisiknya dan kemudian dianggap lemah tentu akan berpengaruh pada kedudukannya di tengah masyarakat.

Perempuan mempunyai peran strategis dalam pembangunan, salah satunya pembangunan sumber daya manusia maupun. Budaya yang selalu membagi kasta sosial bagi perempuan, harus diubah. Peremluan memiliki hak yang sama di mata hukum untuk mendapatkan porsi secara proporsional.

Demikian pengantar diskusi publik dengan tema “Sharing Session About Women” yang dilaksanakan Tanjung Selor, Sabtu (15/2/2020) malam. Bertindak sebagai pengarah diskusi, Nurjannah memulai alur dialog dengan mengungkap pelbagai permasalahan yang menimpa perempuan

“Perempuan harus diberikan jalan dan ruang untuk bisa mengembangkan dirinya. Dalam kehidupan bermasyarakat, perempuan tidak bisa membela dirinya terhadap ancaman. Selama ini kekerasan perempuan menjadi isu yang sangat seksi,” tutur Nurjanah memulai.

Raahidins, salah satu narasumber, mempertegas posisi perempuan dalam pengarusutamaan gender. Kesetaraan, kata dia, bukan berarti harus memposisikan wanita melebihi pria, melainkan adalah menempatkan posisi perempuan secara proporsional. Sebab tidak dipungkiri perempuan dan laki-laki mempunyai fitrah yang berbeda dalam penciptaan.

“Laki-laki dan perempuan itu sama-sama baperan, jadi jangan suka beri lebel kepada perempuan. Hal yang dibiasakan akan menjadi sebuah kebenaran,” ujar Raahidins. yang diketahui berprofesi sebagai penulis.

Sementara itu, Rektor Universitas Kaltara Abdul Jabarsyah, memberikan pandangannya terkait perlindungan perempuan di lingkungan masyarakat. “Perlindungan perempuan harus dimulai dari lingkungan keluarga, untuk tidak saling membedakan antara laki-laki dan perempuan,” jelasnya menyampaikan analisis akademik. (*)

Reporter :Martinus

Editor: Nurul Lamunsari