Bulungan

Jika Buntu, Disdikbud Bakal ke Jalur Hukum

Foto: Ilustrasi/Internet

Terkait Penyegelan SDN 002 Sekatak oleh Oknum Caleg Gagal

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bulungan menanggapi penyegelan terhadap SDN 002 Sekatak yang dilakukan oleh oknum calon legislatif (Caleg) berinisial L. Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) pada Disdikbud Bulungan Suparmin mengatakan, pihaknta juga memiliki hak akan lahan di sekolah tersebut. Hanya saja, jika memang tidak ada jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan ini, pihak Disdikbud rencananya akan melanjutkan kasus tersebut ke jalur hukum.

Suparmin saat ditemui Koran Kaltara, Senin (20/5/2019) mengatakan, sebelum menempuh ke jalur hukum upaya persuasif tentu akan diutamakan oleh pihaknya. Selama ini, lanjutnya, pihak Disdikbud sudah melakukan pertemuan dengan L untuk membahas persoalan lahan sekolah tersebut. “Kalau memang upaya persuasif kita tak ada jalan keluar, kita akan ke jalur hukum. Kita akan tunjukkan, mana yang benar mana yang salah. Katanya mengaku kalau itu miliknya, sedangkan tidak memiliki wasiat sebagai ahli waris,” katanya.

Ia menyakini, bahwa lahan sekolah tersebut sudah dihibahkan kepada pihak pemerintah melalui Disdikbud Bulungan. Hanya saja, lanjut dia, proses hibah itu memang tidak ditunjukkan melalui bukti hitam diatas putih. Lantaran, proses hibah itu dilakukan di sekitar tahun 1970-an. Sementara, ketika pihak Disdikbud menanyakan bukti nyata sebagai pemilik ahli waris lahan itu, oknum Caleg itu juga tidak bisa menunjukkan buktinya.

“Sekolah itu dibangun sekitar tahun 1975. Pemilik lahan ketika itu sudah mengibahkan lahan tersebut untuk menjadi lahan sekolah. Kalau dulu kan, sekolah Inpres namanya. Sedangkan yang merasa ahli waris ini juga, tidak bisa menunjukkan surat-surat sebagai ahli waris,” jelasnya.

Terkait pembayaran untuk pembebasan lahan sebesar Rp50 juta, lanjut Suparmin, juga tidak pernah dikoordinasikan oleh L yang saat itu menjabat sebagai kepala desa (Kades) Sekatak Bengara. Untuk itu, pihak Disdikbud tetap akan bersikukuh jika proses penyegelan itu tak mendapatkan solusi, pihaknya tidak memiliki pilihan lain selain ke jalur hukum. “Kita akan ke jalur hukum. Kalau memang tidak ada solusinya. Tapi kita masih lakukan pendekatan persuasif terebih dahulu,” jelasnya.

Lebih jauh lagi dijelaskannya, walaupun saat ini SDN 002 Sekatak sedang disegel, proses belajar mengajar terhadap 97 siswa di sekolah itu tak mendapatkan hambatan. Para siswa tersebut, saat ini menempuh pendidikan seperti biasanya di SMPN 2 Sekatak. Hanya saja, waktu belajar mereka terpaksa harus diubah ke jam siang, lantaran harus menunggu siswa di SMP itu untuk pulang.

“Mereka masuk siang, karena harus tunggu siswa SMP pulang dulu. Tapi itu bukan masalah, asal ada yang mengajar dan di ajar. Di tempat manapun sebenarnya bisa belajar. Walaupun sekolah mereka (SDN 002 Sekatak) saat ini di segel, tidak menganggu proses belajar mereka. Pada saat kita dapat info sekolah itu di segel, kita langsung pikirkan dimana para siswa ini belajar. Karena itu yang paling penting,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Diduga karena kecewa akibat tidak memperoleh banyak suara dalam Pemilu 2019 lalu, seorang Caleg di Kabupaten Bulungan, melakukan tindakan yang mengganggu proses belajar mengajar di Sekolah. Caleg dari Partai Hanura berinsial L ini, menyegel sebuah sekolah SD yang ada di Desa Sekatak Bengara, Kecamatan Sekatak.

Penyegelan sekolah yang diketahui SDN 002 Sekatak itu, lantaran lahan bangunan sekolah tersebut diklaim sebagai milik L. Akibatnya, sebanyak 97 siswa di SDN 002 Sekatak terpaksa menumpang di salah satu  SMP yang ada di desa itu, agar mereka tetap bisa menerima pelajaran.

Informasi yang diperoleh, sebelum dilakukan pencoblosan dalam Pemilu baru-baru ini, caleg Hanura tersebut memang menjanjikan kepada masyarakat, bahwa akan menghibahkan tanah sekolah tersebut, dengan catatan  masyarakat Desa Sekatak Bengara mendukungnya. Hanya saja, pada saat pencoblosan, dari sekitar 700 Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang ada di Desa Sekatak, hanya sekitar 180 DPT saja yang memilihnya. Hal ini lah yang menyebabkan kekecewaan bagi L, hingga menyege sekolah itu. (*)

Reporter : Ramlan
Editor : Eddy Nugroho